
" haaa ..haaaa" Yordan terbangun dengan perasaan tidak baik bahkan terengah-engah. " ****! Mimpi" umpat yordan bersandar pada sandaran kasur.
Yordan menarik dan menghembuskan nafasnya mencoba berpikir jernih. " Cuman mimpi, cuman mimpi jangan terlalu dipikirkan" ucap Yordan mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
Yordan melihat ke arah jam miliknya. 03.25 Yordan mengambil air di meja miliknya dan meneguknya lalu kembali membaringkan badannya.
-----------
"Selamat pagi adik mita" ucap suster masuk ke dalam ruangan milik mita.
" Selamat pagi mba ria, mba ria rajin sekali" ucap mita sambil menonton televisi.
" Namanya cari uang adik mita, tentunya harus rajin" ucap suster bernama ria.
Mita mengangguk saja menanggapi nya. " Bagaimana perasaannya dik mita? Apa tadi malam masih merasa sesak?" Tanya suster.
" Tadi subuh sempat sesak mba ria, tapi tidak lama kok" ucap mita melaporkan kondisi yang di alaminya.
" Oh iya mba, dokter wili tumben belum muncul?" Tanya mita penasaran.
" Dokter wili sedang ada pasien, nanti siang baru bisa periksa dik mita". Mita menganggukkan kepalanya.
" Mba pamit pergi dulu, jangan lupa makan sarapan paginya di makan" ucap ria mengingatkan.
" Iya mba".
Mita memandang televisi yang masih menyala di hadapannya, mita kembali mengingat bangaimana ia sampai harus dirawat. " Ha lagi-lagi menyusahkan" ucap mita pada dirinya sendiri.
"Tidak menyusahkan kok".
Mita melihat ke asal suara. " Dokter?" Ucap mita kaget.
" Kaget?" Tanya nya penasaran.
Mita mengangguk. " Kaget atau malu?"tanya dokter lagi.
" Y-ah eh-m apa ya?" Mita berpikir menentukan pilihannya.
"Kalau kaget apa alasannya dok?" Tanya mita.
" Kalau kaget karena saya tiba-tiba muncul" jawab dokter ala kadarnya.
" Terus kalau malu?" Tanya mita lagi.
" Gini-gini kamu tanya seperti ini untuk apa?"tanya dokter masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
" Untuk tentuin aku harus jawab yang mana" ucap mita.
" E-hmm kok menurut pendapat saya? Ha punya pasien rasa dokter"ucap dokter.
"Kok rasa dokter? Emangnya dokter wili sudah pernah rasa mita?".
"Ckk, nih coba astaga bicaranya ambigu"ucap dokter dalam hati.
"Iya rasa dokter, soalnya dokter mau jadi pasien saja! Pusing hadapin pasien seperti kamu".
" Hehehehehehe, kan tadi dokter yang mulai. Kok mita yang di salahin".
" Tadi kan dokter bertanya kamu kaget atau malu!!!!" Wili sungguh pusing dan sangat pusing pembicaraan yang ada hanya berputar-putar. " Yang kamu lakuin tadi itu malah bertanya tentang pendapat saya, kan saya kamu kok malah balik tanya" sambung wili sungguh sabar
Mita memperbaiki posisi duduk nya." Begini dokter wili" ucap mita menjeda ucapannya dan tersenyum. " Mita itu tanya alasannya biar bisa jawab pertanyaan dari dokter"sambung mita.
" Bukan begitu konsep nya mita!!! Ya ampun! Dokter itu tanya pendapat kamu!" Ucap wili kesal.
" Tapi kan mita tidak tahu mau pilih yang mana, dokter" ucap mita membela dirinya.
" Yaa terserah kamu mau pilih yang mana, ini kan bukan quiz mita!" Ucap wili lagi yang melupakan tujuan nya kemari.
" Sampai kapan kalian berdebat tentang kaget dan malu, saya sudah lelah menunggu kalian selesai berbicara". Mita dan wili melihat ke arah sumber suara.
" Kok pak yordan pagi-pagi sudah disini? Tidak kerja pak?"tanya mita penasaran.
" Saya jawab pertanyaan dari mu! Yang pertama saya kerja dan yang terakhir saya bukan bapakmu! Jangan panggil saya bapak! Saya belum setua itu" ucap Yordan tersenyum namun itu menakutkan.
"Kalau om?" Tanya mita.
"Tidak!" Tolak Yordan sambil menatap mita.
" Paman?".
"Ckk, saya bukan pamanmu".
" Uncle?"
" Itu sama saja dengan om!" Ucap yordan tidak habis pikir.
" beda------" Yordan dengan cepat memberhentikan ucapan selanjutnya dari mita.
"Jangan diteruskan, cukup panggil saya dengan sopan dan sesuai penampilan saya" ucap Yordan merapikan pakaiannya.
" Bos?" Celetuk mita membuat Yordan menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1
" Ha sebaiknya saya datang saat kau sedang tidur" ucap Yordan.
" Kok saat saya tidur? Bos niat tidak sih menjeguk orang sakit?" Cerca mita.
" Kalau yang sakit modelnya kayak kamu ini! Yang ada saya malas". Yordan meletakkan makanan di meja yang ada.
" Terus kenapa bos malah datang saat saya bangun" ucap mita menyindir.
" Dok, bisa suntik saja ini bocah! Mulutnya diam hanya saat tidur" adu Yordan sambil menunjuk ke arah mita.
" Ya saya juga maunya seperti itu, tapi saya tidak bisa melakukan sesuatu yang membahayakan pasien" ucap dokter wili yang sudah lelah beradu dengan mita.
" Dia bukan pasien dok itu nyata-nyatanya dia bisa bicara lancar".
" Bos Yordan yang sakit itu jantung saya! Bukan mulut saya" ucap mita.
" Terserah saya pamit dulu, yang ada kalau lama-lama disini saya bisa sakit jiwa" ucap yordan bangun dari sofa.
"Kalau sakit jiwa bapak bukan di rawat disnii" ucap mita memberitahu.
" Jangan di tanggapi, jangan ditanggapi! Kau tidak maukan muncul berita seorang pebisnis muda menjadi gila karena berdebat!!" ucap yordan pada dirinya sendiri.
" Bos, kalau senyum menyeramkan" jujur mita.
" Ganti nama panggil itu, saya bukan bosmu".
" Ini pilihan terakhir, dan jangan minta di ganti lagi" ucap mita malas.
" Kakak?"
" Ya?" Yordan spontan menjawabnya.
" Eh-m bukan begitu, saya bukan jawab panggilan mu"ucap Yordan memasang raut wajah datar.
" Mita tidak bilang apa-apa kok" ucapan mita membuat yordan malu dan dengan cepat Yordan pamit dan pergi.
Tersisa kini mita dan dokter wili yang masih melihat ke arah pintu. " Dokter tidak mau pergi?" Tanya mita.
" Ah iya" ucapan mita seakan menghipnotis wili dan keluar dari ruangan.
" Ah akhirnya ten----"
Pintu terbuka dengan paksa. " Ih kan saya mau periksa kamu mita!" Ucap dokter kesal karena begitu saja menurut pada ucapan mita.
Mita tertawa melihat tingkah dari dokter wili. Kemudian dokter wili melanjutkan tugasnya yang sudah memakan waktu sangat banyak untuk berdebat.
__ADS_1