Haluku Adalah Takdirku

Haluku Adalah Takdirku
SEASON 2 RADEN SADAR


__ADS_3

kedua kelopak mata terbuka secara perlahan rasa pusing menderanya ia tidak bisa menggerakkan badan. "rumah sakit" batin Raden.


"tuan" suara bergetar dari samping terdengar.


Raden secara perlahan menoleh ke arah samping kanannya di sana orang kepercayaan nya menatapnya dengan berkaca-kaca. " T-tuan".


Raden mengangkat tangannya secara perlahan dan melambaikan nya dan tersenyum.


cklekkk


"selamat pagi" ucap dokter masuk ke dalam.


"selamat pagi dok, tolong periksa kondisi Tuan muda" dokter tersebut mendekat ke arah Raden.


" Tuan masih merasa sesak?" tanya Dokter.


Raden menggelengkan kepalanya lalu dokter perlahan-lahan melepas masker oksigen dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.


" Kami akan melakukan pemeriksaan".


Dokter mulai melakukan pemeriksaan bersama para suster segala nya di pastikan dalam keadaan normal tidak mengalami gangguan.


" Tuan muda hanya perlu tidak melakukan aktivitas berat dan padat lalu beristirahat lah dengan waktu yang lama serta lakukan pemeriksaan setiap satu bulan sekali dalam waktu tiga bulan ke depan" ucap dokter memberikan nasehat.


" baik dokter".

__ADS_1


"a-air"


Raden meneguk air hingga habis dan memberikan gelas kosong kepada orang kepercayaan. " Tuan beristirahatlah aku akan berjaga" ucap nya.


Raden mengangguk kepala dan kembali berbaring. ia kembali mengingat bangaimana ia bisa sampai disini namun ingatannya putus saat mereka berhasil naik dari permukaan. " Mita, bangaimana kondisinya?".


" Nona Mita kritis".


Raden terkejut dan bangun dari tidurnya. " kita ke sana" Ucap nya berusaha turun dari tempat tidur.


"tuan, beristirahat lah terlebih dahulu kita akan melihat nona Mita nanti malam... tuan tenang lah" Raden menghela nafasnya gusar.


" baik" raden mengalah ia akan beristirahat dan menjenguk kondisi Mita nanti.


***


Raden bangun menatap sekelilingnya ia masih di dalam ruangannya lalu menoleh ke arah sofa di sana Artha sedang tertidur dengan laptop menyala. " Artha bangun lah" Raden berusaha membangunkan Artha.


" sepertinya dia baru saja tertidur" Raden melihat ke arah laptop yang masih menyala itu artinya Artha baru saja menggunakan nya.


Raden meraih infus nya dan membawanya menggunakan tangan lain lalu menaruhnya di tiang infus yang memiliki roda. Raden berjalan masuk ke dalam kamar mandi mencuci wajah nya dan menggosok gigi.


BRAKK


"T-tuan ha ha s-saya p-pikir tuan di culik" Artha membuka pintu kamar mandi membuat Raden terkejut.

__ADS_1


Raden melambaikan tangannya ke atas dan ke bawah lalu mencuci mulutnya yang penuh dengan busa pasta Gigi. " jangan merusak pintunya, jika rusak itu di ganti dengan memotong gaji mu!" Raden melengos begitu saja melewati Artha yang melotot tidak percaya.


" lagipula Artha mana ada orang yang bisa masuk?" Raden mengangkat alisnya binggung.


" saya tidak menempatkan siapa-siapa di luar" ucap Artha.


Raden menjadi binggung. " tapi aku mendengar langkah kaki berjalan setiap lima menit melewati ruangan ini itu bukan hal yang kebetulan jika pengunjung lewat setiap lima menit bukan?".


Artha meraih ponselnya dan menelfon seseorang. " kita tidak tahu siapa yang ada di luar karena itu seperti katamu tadi aku akan berjaga " ucap Raden meraih handuk.


"sudah Tuan " ucap Artha mematikan Ponselnya.


" Sekarang kita ke Mita " ucap Raden berjalan sambil mendorong tiang infus nya.


" saya akan mengambil kursi roda, tunggu sebentar tuan" Artha mencegah Raden.


" aku masih bisa berjalan Artha, jangan melebih-lebihkan " Raden tidak senang.


" saya tidak ingin terjadi sesuatu! menurut lah tuan kali ini saja" Artha menatap dalam Raden.


"fine!" Raden mengalah.


Artha bergegas mengambil kursi roda setelah mendapatkan nya ia kembali menemui Raden yang menunggunya. Raden dengan sigap langsung menepati kursi tersebut sebelum Artha berbicara. "ayo".


Artha menggelengkan kepalanya tidak habis pikir lalu mendorong nya keluar dari kamar serta menutup pintu kamar. " Tuan jangan melakukan hal gila disana!" Artha memperingati Raden.

__ADS_1


" tergantung kondisi nya" Artha berusaha bersabar atas sikap Raden. " tapi aku tidak akan bertindak gila itu saja" sambungnya.


" saya harap tuan menepatinya"


__ADS_2