Haluku Adalah Takdirku

Haluku Adalah Takdirku
KEMBALI KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

Mita memandang horor Raden. " nggak lucu loh" ucap mita tertawa kecil walaupun suara tawanya terdengar hambar. Sungguh saat ini Mita merasakan nyawa nya terbang melayang begitu saja.


"aku tidak bercanda".


Mita menatap menyelami mata indah itu. " aku ingin lebih dari ini, aku tidak ingin kehilangan mu, aku ingin bangun melihat wajahmu dan sebelum tidur melihat wajahmu, aku sangat merindukanmu di setiap detik, aku ingin menghabiskan waktu ku bersama mu" Raden menggenggam tangan Mita.


" mungkin belum sekarang kita akan menikah tapi nanti mit, setelah kita lulus". Mita tidak tahu harus mengatakan apa perasaannya masih putih abu-abu Untuk nya. apakah dia menyukai Raden? apakah dirinya menyukai orang yang ada di sampingnya ini?.


"mit" Mita tersadar dari lamunannya sendiri dan menatap Raden. " nggak papa semua butuh waktu" ucap Raden tersenyum namun terlihat jelas bahwa Raden merasa kecewa.


" maaf" ucap Mita pelan.


"nggak papa, aku tunggu" ucap Raden.


"misi" ucap pelayanan cafe meletakkan pesanan keduanya setelah itu pelayanan tersebut pergi.


"makan yuk" ucap Raden ingin memutuskan kecanggungan di antara keduanya.


Keduanya makan dalam diam. 30 menit berlalu kini keduanya telah berada di dalam mobil Raden menjalankan mobil kembali masuk ke jalan raya.


Raden mengemudikan kendaraan dengan fokus dan diam.


TINNNNNN TINNNNN


Raden maupun mita menatap Kendaraan besar yang melaju dari arah depan. "Mit pegang tangan aku!" Raden memberikan sebelah tangannya untuk mita gengam. Raden dengan cepat menghindar dari kendaraan tersebut namun apa yang ia lakukan tidak cukup bisa menghindar apalagi mereka sedang melewati jalan berkelok di gunung.


*BRAKKK


DRUAKKK*

__ADS_1


"maaf mit" bisik Raden ketika dia berhasil meloloskan diri dari sabuk pengaman dan memeluk Mita dari depan ketika mobil yang mereka kendarai terlempar keluar dari pembatas jalan.


Mita dapat merasakan mobil itu dan dirinya serta Raden melayang beberapa menit hingga kini mereka tenggelam ke dasar laut. Mita menepuk pipi Raden yang sudah mulai kehilangan kesadaran.


Mita menggelengkan kepalanya melihat Raden mulai memejamkan matanya. "tidakkk tidakkk" jerit mita dalam hati. Mita berusaha melepaskan seatbell yang ia gunakan.


Setelah lepas mita kembali kesusahan membuka pintu mobil. Mita memeluk tubuh Raden sambil berusaha membuka pintu mobil dengan penuh tenaga mita menendang pintu tersebut dan ajaibnya pintu yang tadinya macet kini mau terbuka. Mita memeluk tubuh Raden dan perlahan mulai berusaha berenang ke atas permukaan. ya tuhan sekali saja berikan hamba kekuatan.


Mita berusaha terus berusaha karena dirinya dan Raden sudah jauh tenggelam bersama mobil. " hahhh" Mita menghirup nafas dengan serakah. Terimakasih Tuhan.


Mita melihat ke arah tempat di mana mereka jatuh yang begitu tinggi dan tak ada jalan untuk dirinya bisa naik ke atas sana. " denn kamu kuat ya, kita ke pinggir" mita kembali berenang ke pinggir tebing yang di mana ada bebatuan.


Mita berusaha membuat badan Raden untuk bisa naik ke daratan karena tempat tersebut cukup tinggi dan dirinya sangat lemas sekarang. " denn bangun"ucap mita menepuk pipi Raden dan begitu beruntungnya Raden terbangun walau tampak lemas.


" kamu Pegang batu ini terus naik akuu bantuin kamu naik" Raden mengangguk dan memegang batu itu dan dengan sisa tenaga yang ada Raden menarik dirinya sendiri di bantu Mita yang mendorongnya ke atas hingga salah satu kakinya dapat menyentuh ujung bebatuan itu.


"ahh ufff" Raden menghela nafas begitu ia bisa duduk di atas bebatuan tersebut. Raden mengulurkan tangannya untuk membantu Mita untuk naik juga. "Pegang aku" ucap Raden. Mita memegang kuat tangan Raden dan ia berhasil naik juga.


"aku sedikit pusing namun aku bisa menahannya, kita harus mencari tempat yang lebih tinggi karena hari makin malam dan bisa saja air bebatuan ini terendam oleh air. Mita mengangguk dan berjalan di depan sambil menggenggam tangan Raden.


" Mit, kamu kuat?" ucap Raden merasakan dingin nya tangan Mita. "aku baik-baik saja, tapi badan kamu panas Den" Raden hanya tersenyum dan mengeratkan genggamannya. Keduanya berjalan hingga terlihat jalan setapak ya sedikit terjal untuk di daki agar bisa kembali ke jalan raya.


" kamu bisa mendaki? Jalannya tidak bisa hanya menggunakan kaki tapi juga perlu menggunakan tangan. Jalan di hadapannya membuat mereka harus sedikit memanjat karena jalan yang menanjak naik.


" aku tau kok tenang aja".


"aku lebih dahulu dan injak apa yang aku injak okey?" ucap Raden. Mita mengangguk.


Raden mulai perlahan memegang beberapa akar yang kokoh untuk membuat nya bisa naik di susul Mita di bawahnya mereka dengan perlahan berusaha untuk naik ke atas sesekali Raden dan bertanya dan melihat ke arah Mita.

__ADS_1


Raden berusaha menggapai salah satu batang pohon di hadapannya dan naik ke atas setelah ia berhasil naik kini Raden menarik membantu Mita untuk bisa naik.


Raden langsung saja memeluk mita dengan erat dan tidak melepaskan nya. " maafkan aku, seharusnya aku langsung mengantarkan mu pulang" ucap Raden menyesal dan meringis.


" maafkan aku" ucap Raden lagi.


" tidak apa" Mita melepas pelukan Raden dan mengusap air mata Raden.


********


"tuan muda!" ucap gio yang terburu-buru masuk.


" saya telah menemukan adik tuan muda, sekarang ia sedang berada di rumah sakit dalam kondisi kritis" ucap Gio.


Yordan menjatuhkan ponsel miliknya ketika mendengar ucapan Gio. " k-kau menemukan nya?" ucap Yordan kaget.


" iya tuan namun kondisinya tidak baik, kita harus segera pulang ke Indonesia namun".


"namun apa!?" ucap Yordan emosi. Bangaimana ini? Adiknya yang ia cari malah terbaring tidak berdaya apakah ia harus benar-benar kehilangan sekarang?!.


" landasan pesawat tertutup oleh salju dan ada sedikit badai penerbangan baru bisa di lakukan besok pagi" ucap gio dalam satu tarikan nafas.


pranggg


Vas bunga yang berada di meja kini jatuh ke lantai. " siapkan! berapapun harganya" setelah mengatakan itu Yordan pergi meninggalkan kantornya.


*******


" Mita sayang maafin bunda" jesika menangis tersedu-sedu melihat ruang operasi yang ada di hadapannya. Di dalam sana terbaring dua orang yang begitu berarti bagi kedua orang tua mereka.

__ADS_1


" maafin Bunda sayang, seharusnya bunda jemput kamu" Jesika menangis tersedu-sedu. Aksel memeluk Istrinya menenangkan. " kita berdoa yang terbaik".


__ADS_2