
Benar saja sampai di Jakarta, Indri protes dia sudah tidak mau bekerja bahkan dia mau pindah kuliah.
berulang kali mama nya memberikan pengertian untuk Anak perempuan satunya ini.
"bisa kamu pikirkan lagi, nak!! kan ada Rini dan kamu ngga perlu bekerja cukup selesai kan kuliah mu saja"bujuk mama nya Indri
"ngga bisa mah, aku sudah ngga nyaman di sini" rengek Indri
"terus kamu mau tinggalkan mama lagi saja" mama Indri pura-pura sedih.
karena dia tahu anaknya pasti akan terus merengek jika permintaannya belum di wujudkan.
"pergilah kuliah dan belajar lah dengan Rini, papa suka dengan gadis itu, sopan dan mau bekerja keras" seru papa nya
"baik pah, aku akan berangkat kuliah nanti,"jawab Indri
"apa kau sedang dekat dengan seseorang!! selidik papanya Indri
"ngga kok hanya berteman dan itu pun teman nya Selly kecil katanya sih pernah bertetangga waktu masih mereka masih pada kecil pah."ungkap Indri dan papa nya pun paham siapa pria tersebut.
Indri pun menyudahi sarapan nya dan naik ke atas menuju kamarnya.
papa nya paham sepertinya istrinya minta penjelasan.
"dia anak baik dan berbeda dengan sepupunya, orang tuanya pun rekanan bisnis kita kok mah!! seru papa nya Indri
dan istrinya nampak sedikit lega karena baru kali ini Indri dekat dengan seorang pria.
setelah sarapan pagi, Indri masuk kekamarnya dan mulai belajar karena dia berangkat sekitar jam sembilan pagi nanti.
dia memberi kabar ke Rini kalau sepulang kuliah nanti dia akan menemani Rini bekerja sambil belajar di cafe tersebut.
"baiklah, aku tunggu kau dan nanti kita makan malam dirumah ku saja. sekalian ajak Hary ya!! ajak Rini lewat panggilan telpon dari Indri.
"oke aku akan mengirim pesan ke Hary kalau begitu."jawab Indri
lalu mereka mengakhiri panggilan tersebut karena Indri sudah harus bersiap-siap berangkat kuliah.
pas ketika turun dia berpapasan dengan kakak nya dan juga Karin istrinya.
Indri hanya memasangkan hoodnya untuk menutupi wajahnya karena dia enggan melihat wajah kedua orang tersebut.
dia berjalan dengan cepat bahkan sudah enggan menoleh lagi.
__ADS_1
sampai kakaknya menarik lengan Indri dan Indri langsung menghempaskan kepalan tangan kakaknya sampai Andri meringis menahan sakit.
"ingat jangan kau sentuh aku sembarangan jika tidak ingin tangan mu patah!! aku bukan Indri yang lemah selalu kau perintah seenak jidat mu itu!! hardik Indri
"bicara yang sopan dengan kakak mu" bentak Karin yang mencoba menolong suaminya
dengan cepat Indri menarik rambut Karin bahkan tangan Karin sudah di pelintir dan Karin pun menjerit kesakitan.
"sekali lagi mau coba-coba mau membunuh ku maka selingkuhan mu akan kau temukan tidak bernyawa."bentak Indri dengan suara berteriak
mama nya yang hendak menolong langsung menghentikan langkah kaki nya.
"apa maksudnya dia ingin membunuh mu, nak!! seru mamanya Indri
"mama tanya kan saja ke menantu kesayangan mama dan anak kebanggan mama ini !! tunjuk Indri dan mendorong Karin sampai tersungkur di lantai.
"aww dasar gadis gila kau."teriak Karin
tiba-tiba tangan mamanya Indri melayang di pipi kiri Karin sangat kencang
"sekali lagi kau bilang anakku gila maka kau akan ku laporkan polisi,paham!! bentak mama nya Indri
"maafkan Karin mah, habis sakit sekali."rengek Karin
"dan kalian berdua jelaskan semua ke aku, apa maksud perkataan Indri tadi!! hardik mama Indri
begitu pula dengan istrinya Karin, membuat mama nya Indri merasa jengah menunggu.
"kalau kalian masih diam sebaiknya angkat kaki dari rumah saya dan jangan kau injak lagi rumah ini, sejak ada kau karin semua terasa neraka."ungkap mama nya Indri
lalu dia berteriak memanggil security meminta Andri dan Karin untuk keluar dari rumah nya.
kejadian tadi pun terdengar oleh suami nya karena tidak sengaja dia ingin melihat cctv di rumah nya.
ketika dia membukanya ada rasa kaget ternyata putri bungsunya bisa berkelahi.
tapi dia tidak akan diam karena dia yakin Karin akan terus mengincar Indri.
"memang sebaiknya dia sekolah di luar negeri saja biar aman"gumam papa nya Indri.
"hallo mah? apa semua baik-baik saja!! tanya suaminya dari ponsel
"baik pah dan mama baru tahu kelakuan Karin sekarang pah. aku khawatir dengan Indri pah."jawab istrinya
__ADS_1
"sebaiknya kita kabulkan permintaan anak tersebut untuk kuliah di tempat Selly tapi kita harus rahasiakan semuanya dari siapa pun"terang suaminya
"baiklah pah kalau begitu, aku setuju nanti kita bertemu Indri di cafe mba Ida saja pah. biar kita bicarakan soal ini." terang istrinya dan suami nya pun menyetujuinya lalu panggilan telpon pun di akhiri.
di kampus Indri menceriterakan semua kejadian tadi dengan hary.
Hary agak sedikit khawatir takut Karin akan melakukan hal gila lagi.
"sebaiknya kau mulai hari ini aku antar jemput saja, biar kau aman" ujar Hary
"kenapa? Indri menajamkan matanya
"kau tahu Karin itu gila, dia pasti akan balas dendam dengan mu."terang Hary
yang membuat mata Indri membulat dan dia tidak berpikir sampai kesitu.
"baik lah,aku setuju dan maaf aku tidak berpikir sampai kesana"jelas Indri sambil menundukkan wajahnya
apa jadinya tanpa Selly kalau kemarin-kemarin Selly yang akan melindunginya.
"kamu di mana? nanti mama sama papa tunggu kamu di cafe Tante Ida"isi pesan dari mama nya Indri
"baik mah, sebentar lagi aku akan kesana,"jawab Indri
lalu setelah membalas pesan dari mamanya Indri pun pamit dari hadapan Hary.
"aku akan mengikuti mu dari belakang sampai kau tiba di cafe Rini bekerja."ujar Hary
"sebaiknya kau antar saja, biar Indri selamat dan kau tidak khawatir."ide Farhan
dan Indri pun menyetujuinya karena Hary akan terus was-was kalau tidak mengantarkan Indri.
"ini kau saja yang bawa mobil ku" Indri menyerahkan kunci mobilnya
lalu Hary yang membawa mobil tersebut dan benar dugaan nya sejak keluar dari kampus, ada sebuah mobil mengikuti nya.
"apa kau tau alamat aunty Ida? tanya hary
"untuk apa? Indri menatap tajam mata Hary
"kau lihat dari spion, mobil av*** itu terus mengikuti kita dan kita akan mengecohnya."jelas Hary dan Indri pun paham.
Indri mengarahkan jalan menuju kompleks Bu Ida sampai di rumah Bu Ida, Indri menelpon Selly untuk menukar mobilnya sebentar.
__ADS_1
dan ternyata Bu Ida menyarankan untuk mereka bertemu di rumah nya saja.
Hary pun menghubungi Rini dan Indri menghubungi orang tuanya untuk berkumpul dirumah Bu Ida.