
Siang itu Ghisell sedang menenangkan diri di sebuah vila kecil yang tak begitu jauh dari kediaman Gibran. Disana memang tempat yang paling cocok untuk menenangkan diri, karena dibuat khusus dengan suasana pemandangan yang indah, ditambah adanya kolam yang membuat udara semakin sejuk.
Drrrttt... Drrrttt...
Dari pagi ponselnya bergetar. Namun Ghisell enggan berbicara dengan siapapun. Tapi karena getaran ponsel itu mengganggu ketenangannya, akhirnya siang ini Ghisell terpaksa mengangkat panggilan telepon itu.
"Ghisell, kita harus bicara." Terdengar suara Rafael begitu parau disebrang sana.
"Nggak bisa kak, aku belum siap melihat kamu lagi. Mungkin kakak sudah tau keadaan aku seperti apa sekarang." lirih Ghisell menahan tangis.
"Kakak tau, tapi kakak tidak bisa menerima semua ini. Kakak gak mau berpisah dengan kamu."
Ghisell menangis mendengarnya, "Jangan seperti ini kak, mungkin kita memang tidak bisa bersama makanya kita sering bertengkar, sering tidak saling mengerti, dan mungkin ini jawabannya, kita memang tidak berjodoh."
"Jadi kamu memilih Haikal?"
Ghisell hanya diam, tidak menjawab iya atau tidak.
"Apa kakak harus meyakinkan Om Gibran dan Tante Ghea kalau kakak gak akan mempermasalahkan kehamilan kamu itu?" Rafael masih berharap dia bisa hidup bersama Ghisell, bahkan bertekad tidak akan mempemasalahkan janin yang ada diperut wanita yang dicintainya itu.
"jangan kak! Aku dengar hari ini Omah dan Opah datang, aku gak mau mereka tau permasalahan kita. Aku benaran gak sanggup melanjutkan hubungan ini dengan kakak."
Rafael saat ini sedang berada di kantor, tepatnya di ruang CEO. Tapi dia tidak bisa fokus bekerja hari ini, dia menghapus air matanya yang terus saja mengalir, "Baiklah, kakak akan menunggu kamu."
Ghisell menghela nafas, "Kak..."
"Kakak tau pasti kamu akan menikah dengan Haikal, demi anak. Karena itu begitu anak itu lahir, kembalilah. Pernikahan tanpa cinta akan membuat kamu menderita, kakak gak mau kamu hidup menderita."
"Aku gak ingin menjadi penyebab pertikaian kakak dan Haikal. Kalau aku bisa memilih aku akan mengurus bayi ini sendirian. Tapi aku sadar, aku memiliki keluarga , aku gak mau keluargaku menanggung malu jika anaknya hamil tanpa suami. Karena itu lupakan aku, cari wanita yang lebih baik dari aku, bahkan kakak sekarang bisa bebas dan pacaran dengan kak Chika..."
"Chika sahabat kakak, kakak gak punya perasaan lebih sama dia!"
"Ya siapa tau nanti akan hadir wanita yang bisa membuat kakak bahagia, dan aku gak bisa kembali lagi sama kakak walaupun jika aku dan Haikal berpisah sekalipun."
Rafael masih belum bisa menerima keadaan ini, "Aku akan tetap menunggu kamu. Aku yakin suatu saat kita pasti bersama."
Ghisell memilih mematikan panggilan telepon dari Rafael, dia tidak bisa menjanjikan apapun pada Rafael. Dia menghapus air matanya kian mengalir.
Udah Sell, kamu jangan sedih lagi. Kasihan bayi yang ada di dalam kandungan kamu jika kamu sedih terus . Hati Ghisell menyemangati diri sendiri.
__ADS_1
Sementara itu Rafael tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir, mengapa dunia begitu kejam mempermainkan dirinya? Rafeal tidak sanggup harus berpisah dengan Ghisell.
Ceklek!
Rafael segera menghapus air matanya begitu mendengar suara seseorang membuka pintu. Ternyata dia Chika.
"Raf, kamu kenapa?" Chika kaget saat mendapati Rafael yang terlihat begitu sangat sedih sampai matanya sembab.
"Pernikahan aku dan Ghisell batal, Ka."
Berita itu sungguh berita yang sangat diharapkan oleh Chika. Ingin rasanya dia menari-nari saking senangnya. "Udah, jangan sedih. Aku selalu ada buat kamu."
Yes... akhirnya kalian berpisah juga. seru hati Chika.
"Aku dengar kamu bakalan memiliki asisten baru, Raf?"
"Ya, dia anak teman papaku."
...****************...
Saat dipertengahan jalan, Bella hampir menabrak seorang anak yang sedang memapah neneknya. Untung dia segera mengerem mobilnya dengan cepat.
Bella terkejut saat melihat sang nenek itu jatuh pingsan. "Aduhhh... ya ampun!" Dia segera keluar dari mobil untuk menolong nenek itu.
Dan akhirnya nenek itu di larikan ke rumah sakit, rupanya dia memiliki penyakit jantung, dia habis pergi dari rumah sakit bersama sang cucu tapi ternyata tidak ada yang menerimanya karena biaya. Dan Bella sangat emosi saat mendengar cerita dari cucunya itu, kalau dia punya banyak uang dia tidak akan berpikir panjang pasti langsung memberikan uang pada nenek itu untuk biaya operasinya. Tapi sayangnya dia bukan orang kaya yang uang gajinya hampir habis dipakai biaya cicilan apartemen dan mobil.
"Apa rumah sakit ini yang tidak mau menerima nenekmu?" tanya Bella pada cucu sang nenek yang baru diketahui namanya Sulastri.
"Iya kak."
Dengan emosi Bella bergegas untuk menuju ke ruang Direktur rumah sakit itu. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan teman semasa sekolahnya. Mereka memang tidak sedekat Bella Ghisell, hanya sekedar teman nongkrong di kantin sambil saling curhat mencurhat.
"Bella?"
"Luna?"
Mereka yang sudah lama tidak bertemu saling berpelukan.
"Kok kamu disini bukannya melanjutkan kuliah di Amerika?" tanya Bella.
"Nggak Bell, aku ketahuan sering bolos kuliah makanya aku di suruh pulang sama mamah. Lebih parahnya lagi aku di hukum untuk bekerja di perusahaan temannya mama." keluh Luna. "Padahal tadinya aku senang aku pikir bakal jadi asisten cinta pertama aku, eh ternyata jadi asisten kakaknya."
__ADS_1
"Ya ampun kamu belum bisa melupakan cinta pertama kamu itu, siapa tuh lupa lagi aku namanya?"
"Namanya Haikal, Bell. Dia malah di jodohkan dengan cewek yang bernama Vira makanya aku udah berusaha move on dari dia. Mau move on gimana coba dia itu teman kakak aku."
"Oh iya Haikal, padahal namanya pasaran ya tapi aku bisa lupa hehe..."
"Terus kamu mau kemana Bell?"
"Ketemu Direktur disini."
"Mau ngapain?"
"Aku mau bejek-bejek tuh orang. Gak punya hati nurani banget. Masa rumah sakit ini menolak untuk mengoperasi seorang nenek cuma karena kendala biaya." jawab Bella dengan emosi.
"Ya udah aku ikut bejek-bejek tuh orang." Luna mengikuti Bella hingga mereka sampai di depan Ruang Direktur.
Tok! Tok! Tok!
Bella mengetuk pintu Ruang Direktur itu.
"Kelamaan!" Luna malah membuka pintu itu tanpa permisi.
Bella terkejut saat melihat siapa Direktur Rumah Sakit itu, "Lemon?"
Raymond yang tengah tertidur langsung bangun padahal dia baru istirahat dari semalam karena banyak menangani pasien "Ebel? Ngapain kamu kesini?" pandangannya beralih ke wanita disebelahnya, "Luna? Kok gak bilang-bilang kakak kamu pulang ke Indonesia?"
"Kakak?" Bella mengerutkan dahinya.
Luna nyengir kuda, "Si Lemon yang mau kita bejek-bejek ini kakak aku Bell."
Seketika Bella langsung menganga, dia sangat malu sekali pada temannya itu. Ingin rasanya dia bersembunyi di kolong meja disana menyembunyikan rasa malunya.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...
__ADS_1