
Haikal menaruh hairdryer di atas nakas, dia memegang wajah Ghisell, menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh harap, "Aku mencintai kamu, Ghisell Carissa Adelardo."
Deg!
Perkataan itu membuat hati Ghisell bergetar.
"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu. Aku mengejar kamu dan ingin menikahi kamu bukan hanya karena ingin bertanggungjawab saja, tapi karena aku benar-benar sangat mencintai kamu, aku ingin hidup selamanya bersama kamu dan anak kita nanti," Haikal mengatakannya dengan sungguh-sungguh, sungguh hanya Ghisell yang ada di dalam hatinya.
Ghisell saat ini belum tau pasti perasaannya pada Haikal seperti apa "A-aku..."
Tring...Tring...
Ghisell tidak meneruskan perkataannya karena mendengar ponsel Haikal berdering, Haikal segera mengangkat panggilan telepon itu begitu tau siapa yang meneleponnya.
"Ada apa, Ma?" Tanya Haikal, tumben mamanya menelpon pagi-pagi sekali.
"Bukannya kamu mau berangkat ke Kota C hari ini? Mama ingin Ghisell dan kamu sarapan disini, ini mama mau masak bareng Bik Tita." jawab Karin diseberang sana.
"Hmm... ya udah, Haikal juga kangen masak di rumah, apalagi masakan mama." Semenjak menikah, Haikal memang belum menginjakan kakinya ke rumah karena dia ingin menghargai perasaan Rafael. Namun dia tidak bisa menghindar terus dari kakaknya.
"Baiklah mama tunggu ya,"
Klik!
Karin menutup teleponnya.
Karin merasa tidak ada salahnya Ghisell datang ke rumah karena Rafael sudah move on dari Ghisell, dia sekarang ini pacaran dengan Luna, itulah yang ada didalam pikirannya.
Pagi itu sekitar jam 06.30 pagi, Haikal dan Ghisell telah sampai ke kediaman Bara, mereka disambut hangat oleh beberapa ART yang sedang beraktivitas di halaman depan. Ghisell sengaja menutup lehernya dengan syal agar tidak ada yang melihat maha karya Haikal.
"Pagi Tuan Haikal, Nona Ghisell!" sapa mereka.
"Pagi juga, Bik!" Haikal menjawab sapaan mereka, dia terus menggenggam tangan Ghisell.
Setelah memasuki rumah yang megah itu, mereka bertemu Bara dan Rafael yang sedang mengobrol di ruang tengah.
Ghisell melepaskan tangan Haikal karena merasa tidak enak jika harus terus berpegangan tangan di depan mertua dan mantan kekasihnya yang kini menjadi kakak ipar. Sampai tak sengaja kedua pasang mata itu saling bertemu, Ghisell mengalihkan pandangannya, sementara Rafael masih terus menatapnya.
"Hai Haikal, Ghisell!" Sapa Bara pada anak dan menantunya yang mencium tangannya secara bergantian.
__ADS_1
"Bagaimana kabar papa?" tanya Ghisell dengan ramah kepada mertuanya itu setelah duduk di kursi sofa, disamping Haikal.
"Baik, bagaimana kandungan kamu sekarang? Apa sering mual?" tanya Bara lagi.
Haikal membiarkan Ghisell dan papanya mengobrol, sementara dia tidak sengaja memperhatikan Rafael yang tak bisa lepas pandangannya dari istrinya, dia tidak bisa marah, dia tau Rafael tidak akan mudah melupakan Ghisell begitu saja.
"Nggak Pa, sekarang udah jarang mual." jawab Ghisell.
Haikal mulai angkat bicara, "Mama dimana?"
"Mama lagi di dapur katanya ingin belajar masak sama Bik Tita, dia ingin masak buat menantunya."
Ghisell merasa tersanjung mendengar ucapan papa mertuanya itu.
Bara beranjak dari duduknya, "Sebentar ya Kal, ada yang ingin papa tunjukan sama kamu!"
"Iya, pa." Haikal menganggukan kepala.
Bara pun pergi melangkah ke ruang kerjanya.
Kini di ruang tengah itu tinggal hanya ada mereka bertiga , yaitu Haikal, Ghisell , dan Rafael, sampai ketiganya nampak begitu canggung.
Haikal mengerutkan dahinya, "Kamu bisa masak?" Padahal selama ini Ghisell belum pernah memasak untuknya.
"Masakan Ghisell sangat enak, dia emang jarang masak, padahal masakannya begitu lezat, aku sering memakan masakannya waktu di Singapura." Malah Rafael yang menjawab pertanyaan Haikal.
Ghisell merasa tidak enak hati ketika Rafael membahas masa lalu mereka.
Tentu saja hati Haikal merasa sakit mendengarnya, tapi dia berusaha untuk bersikap biasa saja.
Lalu Bara datang kembali dia membawa beberapa brosur perumahan mewah, dia ingin Haikal dan istrinya tinggal di salah satu perumahan mewah itu. "Nah papa ingin memperlihatkan ini sama kamu." Bara duduk kembali dan memberikan brosur itu ke Haikal.
"Ya udah, kalau gitu Ghisell pergi ke dapur dulu ya Pa." Ghisell berpamitan pada Bara.
Bara menganggukan kepala "Oh ya udah, kebetulan mama Karin mau memasak udang asam manis, makanan kesukaan Haikal,"
Ghisell membulatkan mata saat mendengar kata udang.
"Ghisell alergi udang, Pa." Malah Rafael yang menimpali ucapan papanya.
__ADS_1
Haikal hanya diam, dia merasa seakan menjadi suami yang tidak berguna, dia tidak tahu Ghisell bisa masak bahkan Ghisell sama sekali tidak ingin memasak untuknya, terlebih lagi Ghisell tidak pernah bilang tentang dia yang alergi udang, karena dia antara dia dan Ghisell tidak pernah membahas pribadi, padahal selama ini dia sudah berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk Ghisell.
"Oh gitu, ya udah gak apa-apa, masih banyak kok makanan lainya yang sedang di masak mama Karin"
Bara kembali memperhatikan brosur perumahan itu.
"Iya, Pa." Setelah berkata begitu, Ghisell pun pergi darisana, menuju dapur yang jaraknya lumayan jauh karena rumah itu begitu sangat luas.
"Nah papa suka sekali rumah yang ini." Bara menunjukkan salah satu rumah disana.
Sementara Rafael berpamitan untuk pergi dari sana "Aku mau ke kamar dulu, Pa." pamitnya.
"Oh iya Raf."
Setelah mendapatkan persetujuan sang papa akhirnya Rafael pun pergi.
"Maaf Pa, bukannya Haikal menolak, Haikal juga sudah berencana membeli rumah, malah Haikal sudah memantaunya sendiri. Rencananya setelah anak kami lahir baru kami pindah dari apartemen. Haikal ingin memberikan kejutan pada Ghisell juga." Haikal menambahkan perkataannya di dalam hati : Apa aku egois jika berharap tidak ada perpisahan pada pernikahan kami.
"Hmm... ya udah, kalau mau kamu begitu," Bara mengerti dengan keputusan Haikal.
Di Dapur...
Ghisell sedang membantu mertuanya memasak,karena tinggal sedikit lagi makanya mereka tidak memerlukan ART lagi untuk membantu mereka. Karin dan Ghisell memang sudah akrab, mereka membicarakan apa saja yang membuat mereka nyambung, termasuk hubungan Rafael dan Luna.
"Jadi Luna dan Kak Rafael pacaran?" Ghisell tidak mengerti mengapa Luna tidak bercerita padanya waktu itu.
"Iya," Karin menjawabnya sambil mengaduk-adukan masakannya di dalam wajan. "Apa kamu sering mual atau pusing, sayang?"
"Nggak Ma, awalnya iya,tapi sekarang udah jarang terasa."
Ghisell memegang dadanya, sepertinya ada yang salah dengan hatinya, dia sama sekali tidak merasa cemburu atau sakit hati saat mendengar kabar tentang Luna dan Rafael. Bukan kah dia merasa masih mencintai Rafael? Tapi hatinya biasa saja mendengar kabar itu. Apa mungkin ini adalah pengaruh janinnya jadi dia tidak merasa sensitif pada perasaannya?
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...