Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Bonchap 10


__ADS_3

"Nah justru sedang mabuk itu adalah wujud asli seseorang," Rafael tersenyum smrik, dia berbisik "Rupanya aslinya tanpa kamu sadari kamu itu sangat ganas."


Luna menelan saliva mendengarnya. Dia refleks mencubit lengan Rafael. "Dasar kuyang mesum."


"Arrrghhh..." Rafael memegang lengannya. "Kamu bilang apa tadi?" Rafael tidak terima disebut kuyang mesum.


Luna segera berlari dia takut Rafael akan menerkamnya.


Rafael mengejarnya. "Sini kamu, aku akan buat kamu diam agar tidak memanggil aku kuyang lagi."


Mereka terus berlari mengelilingi kursi, Luna malah menjulurkan lidah membuat Rafael makin gemas ingin sekali menangkapnya.


Luna mencoba untuk terus menghindari Rafael, jangan sampai Rafael menangkapnya. Namun Rafael naik ke atas kursi, dia berhasil menangkap Luna sampai mereka kehilangan keseimbangan dan tubuh mereka ambruk ke kursi sofa dengan posisi Luna berada di bawah.


"Kak!" Luna sangat gugup karena Rafael berada di atasnya. Apalagi Rafael tidak memakai baju.


Rafael menelan salivanya dengan kasar, memandangi Luna, dia segera bangkit. "Ce-cepat tempelkan koyo ke punggungku." katanya dengan terbata-bata.


Rafael membelakangi Luna, menyuruh Luna untuk menempelkan beberapa koyo ke punggungnya.


Luna menempelkan dengan keras, "Arrghhh...Luna, pelan-pelan."


"Oh maaf, maaf hehe..." Padahal Luna sengaja melakukannya.


Rafael memakai bajunya kembali "Aku paling suka masakan rumah, setelah ini aku tunggu masakan kamu. Masak yang enak!"


"Masak?" Luna sama sekali tidak bisa memasak.


"Jangan bilang kamu gak bisa masak? Bukannya kemarin kamu masak bareng Ghisell dan Bella?"


Luna terkekeh, "Oh ya ampun itu aku cuma menemani ngobrol mereka di dapur, kak."


Rafael mengusap wajahnya dengan kasar. Akhirnya Rafael mengajari Luna memasak, dia membawa Luna ke dapur.


"Kamu itu wanita, harus bisa memasak. Jangan manja!" Rafael malah mengomeli Luna dari tadi.


"Ishh... ya udah deh, sekarang pekerjaan aku apa?" Luna merasa jengkel dengan pria yang satu ini.


"Iris bawang merah dulu." jawab Rafael , dia sedang sibuk memotong daging ayam.


Luna mengangguk, dia pun mengiris bawang merah.


Rafael membulatkan mata begitu memperhatikan Luna yang sedang mengiris bawang merah, "Iris yang tipis Luna."


"Ini sudah tipis kak."


Rafael menghela nafas, dia berdiri dibelakang Luna memegang kedua tangannya dari belakang sampai kedua tubuh itu menempel. Rafael mengajarkan cara mengiris bawang yang benar.


"Nah Iris tipis seperti ini!" terang Rafael sambil memegang kedua tangan Luna mengiris kan bawang merah oleh pisau.

__ADS_1


Luna sangat grogi sekali karena Rafael memegang kedua tangannya dari belakang seolah sedang memeluknya, namun tiba-tiba dia merasakan matanya perih karena sengatan bawang merah. "Aduh perih kak." Dia ingin mengusap matanya dengan tangan tapi Rafael menahan tangannya.


"Tangan kamu terkena bawang merah, bakal lebih perih."


Rafeal segera mencuci tangannya dengan sabun, lalu membawa handuk kecil, membasahi handuk kecil itu dengan air.


"Perih banget kak." Luna tak bisa menahan rasa perih di matanya itu, sampai dia memejamkan matanya.


Rafael memegang wajah Luna dan mengusapkan handuk kecil yang basah itu pada kedua mata Luna dan membiarkan handuk itu menutupi dulu kedua mata Luna.


Rafael tanpa sadar memandangi wajah Luna yang cantik itu sampai dia tidak berkedip.


"Kak!"


Kata itu mengagetkannya.


"Udah belum?"


"Oh u-udah." Rafael membawa kembali handuk kecil yang menutupi mata Luna. "Emm... bagaimana udah gak perih?" Dia masih memegang wajah Luna.


"Nggak, kak. Makasih ya." Luna tersenyum manis padanya, walaupun dia sangat grogi karena Rafael memegang wajahnya.


Jangan sampai kamu jatuh cinta sama dia Luna, ingat pria ini tidak akan pernah mau mencintai kamu.


Luna terus saja memperngati hatinya. Dia tidak ingin sakit hati yang kedua kalinya, cinta bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan.


Sadar Rafael, sadar!


Rafael segera menyibukan dirinya lagi dengan mengiris bawang merah. "Biar aku aja yang iris bawang, kamu potong sosis aja menjadi tiga bagian."


Luna menganggukkan kepala, "Iya, kak." Dia membawa sosis di dalam kulkas, dan melakukan perintah Rafael untuk memotong sosis menjadi tiga bagian.


Satu jam berlalu, akhirnya masakan mereka sudah matang. Dan sekarang mereka menikmati makan siang mereka.


"Wah masakan kakak enak sekali!" Luna mengacungkan jempol sambil tersenyum manis.


Rafael memandangi Luna yang sedang tersenyum manis padanya, lalu mengalihkan pandangannya kemana saja. "Hm."


Hanya hm? gerutu hati Luna. Dia memilih meneruskan makan aja dari pada gondok dengan sifat pria yang satu ini.


...****************...


Besoknya...


Hari ini suasana restoran K- Star begitu mencengkam, karena kedatangan sang tuan muda. Mereka berbaris dengan rapi saat Rafael memeriksa kerapihan semua karyawan di restoran milik K Grup itu.


Rafael meraba-raba saku celana seorang karyawan, dia menemukan satu bungkus rokok disana. "Ini kedua kalinya saya memperingatkan kamu jangan membawa rokok ke tempat kerja."


"Maaf Pak,saya janji tidak akan mengulang kesalahan saya lagi." Pria itu memohon.

__ADS_1


"Kamu sudah tau kan semua aturan disini? Kalau tidak bisa mentaati aturan disini, silahkan keluar dari restoran ini." Rafael mengatakannya dengan tegas. "Saya beri kamu kesempatan satu kali lagi."


"Iya Pak, terimakasih banyak."


Luna memilih diam saja, Rafael kalau marah memang mengerikan. Dia memilih untuk terus mengikutinya dibelakang sang bos.


Rafael menatap tajam pada kedua karyawan yang datang terlambat, "Ini peringatan terakhir saya kepada kalian, jika kalian datang terlambat lagi, kalian saya pecat."


"Iya Pak, saya janji tidak akan datang terlambat lagi." ucap kedua karyawan tersebut hampir bersamaan. Mereka hanya bisa mengusap dada. Sama sekali tidak menyangka hari ini Rafael akan berkunjung ke restoran.


Rafael segera masuk ke dalam lift, Luna mengikutinya dari belakang.


"Ya ampun kak, jangan galak banget napa. Tanya dulu mengapa mereka datang terlambat." Luna mencoba untuk memberikan saran kepada bos sekaligus suaminya itu.


"Kalau semua bos harus selalu memaklumi kondisi karyawan yang tidak bisa mentaati aturan, bisa bangkrut perusahaannya, yang ada mereka akan keenakan dan mengulangi kesalahan yang sama."


Seketika Luna langsung diam, dia tidak boleh banyak bicara jika Rafael sedang marah, sangat mengerikan.


"Kamu suruh manager disini untuk menyajikan makanan dan minuman yang spesial untuk klien kita nanti." suruh Rafael dengan sikap dinginnya.


"Iya, kak."


Tak berselang satu jam kemudian hidangan makanan dan minuman sudah siap tersaji di meja, mereka akan meeting di salah satu ruangan VVIP yang ada restoran tersebut.


"Apakah klien ini dekat sekali dengan kakak?" tanya Luna.


"Dibilang terlalu dekat sih tidak, cuma dulu sempat akrab saja waktu kuliah." jawab Rafael. "Awas jangan salah panggil lagi, kamu harus panggil aku Pak, di depan klien."


"Siap kak, oh Pak."


Ceklek!


Terdengar suara seseorang membuka pintu, orang itu menyembul dari balik pintu dan langsung menyapa Rafael dan Luna dengan ramah, "Selamat siang..." Pria itu terdiam sambil berdiri saat melihat sosok wanita yang sedang bersama Rafael. Dia sangat tidak menyangka akhirnya bisa bertemu lagi dengan gadis itu.


"Luna?"


Luna membulatkan mata begitu melihat pria yang menolongnya kemarin, "Mas Vano?"


Rafael memandangi mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...

__ADS_1


__ADS_2