Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Enam Puluh Empat


__ADS_3

Di Kantor K Grup


Sama seperti Haikal, semenjak di dapur itu Rafael seperti kehilangan semangat, bahkan saat kedua orang tuanya dan Ghisell mengobrol dan bercanda saat sarapan tadi, Rafael memilih untuk diam.


Bahkan hari ini dia seperti kehilangan separuh nyawanya padahal dia sedang berada di Meeting room, menunggu bawahannya untuk berkumpul untuk mengadakan meeting penting yang tinggal 10 menit lagi.


Dia masih ingat perkataan Ghisell di dapur tadi.


Flashback On...


Rafael menggenggam tangan Ghisell dengan erat, sampai badan mereka begitu dekat.


"Kak..."


"Kakak sudah tau kamu dan Haikal pisah kamar, pernikahan kalian hanya sementara. Karena itu tolong jangan bersikap dingin pada kakak. Ini adalah ujian buat kita, kita pasti bersama kembali. Kakak berusaha tegar menerima semua ini dan akan menungu kamu." Rafael mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


Ghisell mengkerutkan dahinya, dia tidak mengerti darimana Rafael tau dia dan Haikal pisah kamar. Sampai dia tidak menyadari saat tangan Rafael mengusap lembut pipinya untuk membersihkan percikan tepung terigu dipipi Ghisell.


Namun Ghisell melepaskan tangan Rafael dan menjauhkan jaraknya dari Rafael, "Kakak jangan bicara seperti itu, bagaimanapun juga sekarang status aku sudah menjadi seorang istri, istri Haikal, adik kakak."


"Kakak tau itu, karena itu kakak akan menunggu kamu. Kakak akan menerima keberadaan anak kamu, kakak akan menyayanginya dengan sepenuh hati." Rafael mengatakannya dengan mata berkaca-kaca.


Ghisell menghembuskan nafas dengan pelan "Aku tidak tau kedepannya bagaimana hubungan pernikahan aku dengan Haikal, walaupun jika memang aku akhirnya harus berpisah dengan dia, aku tidak akan kembali sama kakak." Ghisell mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


Perkataan itu rasanya sangat menyayat hati, padahal dia akan berusaha bersabar untuk menunggu. "Ghi-Ghisell..."

__ADS_1


"Bukannya kakak sekarang ini pacaran sama Luna? Mulai sekarang cintai dia dengan setulus hati kakak, Luna itu orang baik, jangan jadikan dia pelampiasan. Kakak harus belajar untuk bisa lebih menghargai perasaan pacar kakak, jangan sampai kakak menyesal telah kehilangan dia." Ghisell mengatakannya dengan mata berkaca-kaca, berusaha untuk menahan agar air matanya tidak tumpah.


Rafael menggelengkan kepala, dia ingin menjelaskan hubungan yang sebenarnya antara dia dan Luna. "Ng-nggak, aku dan Luna itu..."


Tapi Ghisell malah memotong pembicaraan Rafael, "Mulai sekali hubungan kita adalah iparan, gak lebih dari itu. Jadi jangan menunggu dan mengharapkan aku lagi!"


Setelah mengatakan itu Ghisell pun memilih pergi meninggalkan Rafael, hati Rafael sangat hancur, dia pikir dia masih memiliki kesempatan untuk kembali bersama Ghisell, rupanya Ghisell tidak ingin kembali padanya.


Flashback Off...


Rafael menarik nafas dalam-dalam, menahan agar air matanya tidak tumpah, apalagi sebentar lagi akan ada bawahannya datang ke meeting room itu. Dia tidak boleh kelihatan sedih walaupun perkataan Ghisell sangat membuatnya sakit, Ghisell sama sekali tidak ingin ditunggu olehnya, dia melarangnya untuk menunggunya dan tidak ingin kembali padanya.


Perkataan Ghisell sangat menyayat hati!


Padahal dia mampu menunggu Ghisell , lebih dari 10 bulan pun dia mampu untuk menunggunya.


Ceklek!


Rupanya Luna datang ke meeting room tersebut, "Pagi Kak." sapanya, dia kalau berduaan dengan Rafael memang selalu memanggilnya kakak, tapi kalau di depan para karyawan harus memanggilnya Bapak.


Seperti biasa Rafael tidak merespon sapaan dari Luna, dia hanya menundukan kepala sambil bersandar di whiteboard digital.


Luna yang sudah terbiasa tidak mendapatkan respon dari Rafael, dia cuek aja, dia lebih memilih menyiapkan beberapa berkas yang nanti akan di butuhkan Rafael di atas meja.


Karena merasa tidak ada keperluan lagi Luna memilih keluar dari meeting room itu dari pada harus berduaan dengan Rafael disana, malah bikin uji nyali aja, apalagi waktu masih tersisa 10 menit lagi, dia bisa menghirup dulu udara dengan bebas takut kehabisan nafas jika harus terus berhadapan dengan Rafael.

__ADS_1


"Kak, aku keluar dulu ya." pamit Luna. Namun Luna menghentikan langkahnya saat memperhatikan Rafael yang dari tadi berdiri menundukkan kepala.


Luna menghampiri Rafael dengan perasaan cemas, "Kakak kenapa? Apa kak Rafael sakit?"


Rafael berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihannya, dia menjawab pertanyaan Luna tapi menghadap ke arah lain karena tidak ingin Luna melihat kesedihannya, "Kakak gak apa-apa kok. Kamu boleh pergi!"


Namun Luna terlanjur memperhatikan mata Rafael yang berkaca-kaca, walaupun pria didepannya itu menyebalkan tapi ada rasa iba juga di hatinya, dia memegang kedua lengan Rafael, "Kak Rafael lagi sedih? Kalau mau menangis, menangis saja, jangan dipendam, lelaki juga berhak kok untuk menangis."


Tanpa di duga Rafael menarik Luna ke dalam dekapannya, air matanya sudah terlanjur jatuh, dia tidak ingin Luna melihatnya menangis, sangat memalukan.


Luna hanya terpaku karena Rafael memeluknya secara tiba-tiba , membuat jantungnya berdetak sangat cepat, dia tidak boleh ada di situasi seperti itu dengan Rafael, namun Rafael malah memeluknya semakin erat.


"Aku mohon, biarkan seperti ini, hanya 10 menit." lirih Rafael.


Luna tak bisa menolaknya, dia mendengar suara Rafael seperti yang sedang menangis di bahunya, entah mengapa Luna merasa tersentuh hatinya, dia menepuk-nepuk pundak Rafael untuk menenangkannya.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...

__ADS_1


__ADS_2