Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Bonchap 11


__ADS_3

Ghisell dan Haikal semakin mesra saja, sudah tak ada lagi celah untuk pelakor dan pebinor masuk ke dalam rumah tangga mereka, karena kini mereka menjadi pasangan yang bucin.


Ghisell sengaja mengantarkan makanan untuk makan siang Haikal ke kantor Neo Grup, di dalam lift dia bersama dengan seorang perempuan. Perempuan itu sedang asik berteleponan dengan seseorang, perempuan itu adalah Maura, cewek yang pernah di ceritakan Raymond bahwa ada cewek yang ingin bertanya-tanya soal Haikal padanya.


"Ya aku sengaja datang kesini untuk bertemu Haikal." kata Maura kepada temannya disebrang telepon.


Entah apa yang dibicarakan temannya Maura sampai Maura berkata seperti ini. "Nah itu yang aku sesalkan, mengapa aku telat mengetahui Haikal sudah berada di Indonesia. Bahkan sudah menikah pula."


Ghisell merasa panas hatinya mendengar pembicaraan satu wanita ini, ya dia sudah tau betul pesona sang suami memang menggoda iman kaum wanita. Tapi dia berusaha untuk tetap menahannya.


"Hahaha... iya aku datang kesini pura-pura mau nawarin kerjasama aja, biar dekat dengan Haikal, apalagi kalau proyeknya di luar kota." Kata Maura lagi menjawab pertanyaan temannya di sebrang telepon.


Ghisell mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menjambak wanita ular yang satu ini, padahal baru saja mereka sudah tenang dengan tidak hadirnya Vira di kehidupan mereka lagi.


Maura masih saja asik berteleponan. "Ya nggak lah, namanya cinta harus diperjuangkan. Biar aku tendang aja istri sahnya. Kalau bisa aku pites dulu sekalian." Muara berbicara sambil cekikikan.


Ghisell merasa wanita ini lebih parah dari Vira.


"Mbak tolong tekan tombol lima." suruh Maura kepada Ghisell karena tangan kanannya sedang memegang ponsel, dan tangan kirinya memegang tas.


Ghisell menekan tombol dengan kasar, dia segera keluar begitu pintu lift terbuka.


"Ya ampun sombong banget tuh orang." ucap wanita yang memakai rok di atas lutut itu. Namun sebelum pergi ke ruang Haikal, dia harus memastikan dirinya terlihat sangat cantik dulu, dia ingin melihat penampilannya dulu di cermin yang besar yang ada di kamar mandi.


Ghisell masuk ke ruangan Haikal dengan menyembunyikan rasa kesalnya, dia tidak ingin menyapa suaminya dengan wajah muram. "Hai sayang." Ghisell mencium pipi sang suami. Lalu meletakan paper bag yang berisi makanan untuk Haikal.


Seperti biasa Haikal pasti meminta lebih dari itu, "Ini tidak?" Haikal menunjuk bibirnya.


Ghisell tersenyum, dia dengan senang hati mengalungkan kedua tangannya pada leher Haikal dan mencium bibirnya. Haikal menekan tengkuknya memperdalam ciuman mereka.


"Nanti kita teruskan di rumah." bisik Ghisell.


"Asik, yang benar ya. Aku akan bekerja lebih semangat hari ini." Haikal merenung sejenak "Oh iya, hari ini ada teman SMA aku, dia cewek namanya Maura, katanya sih mau membahas proyek di luar kota."

__ADS_1


Ghisell mengerutkan dahinya, "Maura? Maura yang pernah dibicarakan Raymond itu ya?"


Haikal merangkul pinggang Ghisell, dia menatap kedua matanya dengan lekat "Iya benar. Apa kamu mengizinkannya, sayang? Kalau tidak, aku tidak akan ambil proyek ini. Kamu tau sendiri kan aku bisa bersikap profesional dalam pekerjaan tapi bagiku perasaanmu lebih lebih penting." Haikal mengusap perut Ghisell yang masih rata, "Apalagi aku gak bisa jauh dari kamu dan anak kita."


Ceklek!


Pembicaraan mereka terhenti karena ada seseorang membuka pintu. Orang itu menyembul masuk ke dalam dengan tersenyum menggoda "Haik..." Dia tidak meneruskan perkataannya begitu melihat wanita yang ada lift bersamanya tadi.


"Oh Maura, silakan duduk." Haikal memang harus bersikap ramah pada kliennya.


Maura duduk di kursi sofa sambil terdiam memandangi Ghisell, Dia siapa? Apa mungkin sekretarisnya?


Ghisell yang tengah berdiri dibelakang kursi yang diduduki Haikal, kedua tangannya melingkari pundak Haikal memeluknya dari belakang.


Haikal hanya bengong mengapa Ghisell tiba-tiba memeluknya di depan orang lain, tapi dia membiarkannya malah senang dengan perlakuan sang istri.


Tidak dengan Maura, dia tercengang melihat Ghisell yang merangkul pundak Haikal dari belakang, perasaannya jadi tidak enak.


Mati gue, jangan-jangan dia...


Rasanya Maura tersambar petir begitu dasyat karena dia tau Ghisell pasti mendengar pembicaraan dia yang berteleponan dengan temannya.


Ghisell melepaskan pelukan, dia berjalan dengan berlenggok duduk di samping Haikal. Dia mengulurkan tangan pada Muara, "Hai salam kenal dari istri sah yang ingin kamu tendang dan ingin kamu pites itu."


Haikal langsung menoleh ke Ghisell, dia tidak mengerti mengapa Ghisell mengatakan itu pada Maura, tapi dia yakin pasti ada alasan mengapa Ghisell mengatakan itu.


Apalagi Maura, dia tidak tau bahwa Ghisell akan seberani itu padanya.


"Asal kamu tau, suamiku bukanlah pria yang gampang tergoda, apalagi wanita murahan seperti kamu. Malah aku yang akan mematahkan tangan kamu jika tangan kamu berani menyentuh suamiku."


Maura segera berdiri, perkatan Ghisell membuatnya ketakutan apalagi dia takut Ghisell akan menceritakan semua yang dia dengar tadi pada Haikal, Haikal pasti akan marah besar padanya. "Maaf aku rasa gak bisa melanjutkan kerjasama kita."


Maura segera pergi dengan terburu-buru.

__ADS_1


Ghisell menceritakan semuanya pada Haikal.


Haikal malah tersenyum lebar, dia semakin yakin Ghisell benar-benar telah memberikan perasaannys dengan sepenuh hati. Dia memeluk Ghisell dari belakang, "Maaf..."


"Kenapa jadi kamu yang minta maaf?" Ghisell tidak mengerti.


"Iya maaf karena aku terlahir dengan begitu tampan, jadi membuat kamu tidak tenang." Haikal mengatakannya dengan segala kenarsisannya.


"Aku tenang kok, karena aku tau kamu gak akan mungkin khianati aku."


"Tentu saja, cuma kamu satu-satunya wanita yang aku cinta. Gak ada yang lain. Aku cuma mau Ghisell, hanya Ghisell."


Ghisell merasa tersentuh dengan ucapan Haikal. Dia melepaskan pelukan Hangat dan mereka akhirnya saling bercumbu dengan begitu mesra.


Haikal melepaskan ciuman mereka, dia ingin mengirim pesan pada Jerry.


[Jerry, jangan ada yang masuk ke ruangan saya selama dua jam, termasuk kamu.]


Jerry yang menerima pesan tersebut, dia hanya tersenyum geli.


Haikal mengangkat tubuh Ghisell membiarkan dia duduk di meja kebesarannya. Mereka berciuman kembali dengan begitu naf su, dia hanya membuka kain pengalang saja di balik rok mini itu dan langsung melakukan penyatuan setelah Haikal membuka celananya.


Untung ruangan Haikal kedap suara sehingga tidak terdengar suara erangan dan de sahan mereka yang memenuhi ruangan CEO tersebut.


Karena klub kesayangan othor menang , othor up 3 bab hari ini. Semangat 💪💪 semangat 💪💪


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....

__ADS_1


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...


__ADS_2