Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Bonchap 24


__ADS_3

Besokny di kota A...


Raymond sama sekali tidak bersemangat untuk beraktivitas akhir-akhir ini walaupun dia sudah beberapa kali di hibur oleh Haikal, terus dihibur juga oleh Luna, malah Luna meminta Rafael untuk menghibur kakaknya juga.


Padahal hari ini dia sedang berkumpul bersama Haikal, Ghisell, Rafael dan Luna di rumah Refael, dia malah makin tersiksa karena harus berkumpul bersama dua pasangan yang pada bucin.


"Aishh... kalian ini mau menghibur aku atau memanasiku?" gerutu Raymond sambil memperhatikan dua pasangan bucin di hadapannya.


"Ishh... emang kita ngapain kak? Kita cuma senyum-senyum aja kok." Luna mengatakannya sambil menggaruk kepala yang gak gatal, Raymond akhir-akhir ini memang sedikit sensitif.


Drrrttt...Drrrttt...


Tiba-tiba ponsel Raymond berbunyi, dia mendapatkan pesan dari seseorang yang sangat dia cinta, siapa lagi kalau bukan Bella.


[Kemarin ayah sudah membatalkan rencana pernikahan aku dan Danu, padahal pernikahan kami akan diadakan besok dan undangan sudah tersebar, itu terjadi gara-gara kamu datang ke rumah untuk melamar aku, karena itu aku meminta tanggug jawab kamu untuk menikahi aku besok.]


Reno memang memutuskan untuk membatalkan acara pernikahan Bella dan Danu secara baik-baik pada Bram, dia bilang sejujurnya bahwa Bella telah memiliki seorang kekasih, beruntung Bram mengerti dengan keputusan Reno walaupun ada sedikit kecewa, itu adalah hal yang wajar. Tetap saja tidak akan berdampak pada persahabatan mereka, karena di dukung oleh Danu yang memundurkan diri juga karena tidak ingin menikahi wanita yang tidak mencintainya.


Raymond membulatkan matanya, sampai dia membaca pesan dari Bella secara berulang-ulang, sungguh rasanya seperti mimpi sampai dia mencubit paha Haikal.


"Arrggghh...lu apa-apaan sih." Haikal meringis sambil mengusap pahanya yang terkena cubitan Raymond.


"Paha lu sakit kan Kal?" seru Raymond. "Itu artinya gue gak mimpi,"


Raymond memperlihatkan pesan dari Bella kepada semua yang ada disana secara bergantian. "Wow akhirnya lamaran gue diterima. Gue harus pergi kesana untuk memastikannya."


"Hhh... kebalik, harusnya lu nyubit diri lu sendiri, bukan gue. Ya udah gue ikut." Haikal tidak boleh membiarkan Raymond menyetir mobilnya sendirian, dia takut saking senangnya Raymond tidak fokus menyetir mobil.


"Gue juga." Rafael tidak mau kalah karena dia pernah berjanji akan membantu Raymond apalagi Raymond tidak mempermasalahkan pernikahan mereka yang faktanya Luna mendahului kakaknya.


Ghisell dan Luna juga ingin ikut karena mereka sangat rindu pada Bella, sahabat mereka.


Dengan menempuh perjalanan 5 jam mereka telah sampai ke kota D, dengan posisi Haikal yang menyetir mobil di temani Ghisell disampingnya. Di kursi kedua tentu saja Rafael dan Luna ya walaupun Rafael belum bisa membuang sikap kakunya tapi dia sering menampakkan rasa cintanya untuk Luna, sementara Raymond sendirian di kursi ketiga.


"Bella!"


"Ghisell!"


"Luna!"


Trio wacan itu saling berpelukan saat melihat Bella yang baru ke luar dari rumahnya karena mendengar ada yang mengetuk pintu.


"Aku gak dipeluk nih." Lirih Raymond, ingin sekali dia memeluk Bella atau kalau bisa dia ingin langsung mengurungnya ke kamar saja saking rindunya.


"Oh no, belum muhrim kakak." Luna memperingati kakaknya, mendadak sok alim.

__ADS_1


Raymond mendengus kesal, seharusnya dia datang sendirian saja, dia mengacak-acak rambut adiknya saking gemasnya. Lalu dia saling berpandangan dengan Bella sambil tersenyum manis.


Suasana berubah menjadi horor saat melihat ada sang calon mertua datang. "Ehm"


Mereka yang ada disana langsung pada terdiam.


Ghisell menyapa sahabat papanya itu, "Siang om Reno,"


Reno langsung sumringah saat melihat Ghisell, "Oh Ghisell. Silahkan masuk ke dalam."


"Iya om." Ghisell menganggukan kepala.


"Tapi yang ceweknya aja, yang cowok nanti dulu."


Haikal, Raymond, dan Rafael mendadak tegang apalagi melihat Reno memegang pisau. Sementara para istri tega meninggalkan mereka di luar.


"Kalian suka mancing kan? Ayo kita mancing buat makan sore kita. Nanti om langsung mengeksekusi ikannya." Reno mengatakannya sambil memperlihatkan pisau tajam pada mereka.


"I-iya om." Mereka mendadak jadi anak penurut.


Selama dua jam memancing di halaman belakang, Haikal dapat ikan 6 ekor, sementara Rafael cuma dapat 4 ekor, apalagi Raymond cuma 2 ekor. Dan tentunya Reno mendapat banyak ikan.


"Ya ampun siapa nama kamu lupakan lagi saya, le..lemon...oh iya Remon. Masa cuma dapat dua?" Reno menatap tajam pada calon menantunya.


"Maaf om, mending kita beli aja, bagaimana?" Seumur hidup baru kali ini Raymond memancing ikan, biasanya mancing cewek.


"Biar kami cari kayu bakarnya om." Raymond sangat bersedia untuk mencarikan kayu bakar untuk calon mertuanya.


Rafael menyiku pinggang Raymond, "Lah kok kami?" bisiknya.


"Oh bagus lah, kalian pemuda yang sangat kuat dan bisa diandalkan." Reno terkekeh. Reno mempersilahkan mereka pergi untuk mencari kayu bakar, "Cari saja ke gunung disekitar sini, pasti banyak."


"Gu-gunung om!" Haikal membulatkan mata.


"Ya udah, kami pergi dulu om." Raymond menarik lengan Haikal dan Rafael untuk ikut bersamanya, mereka menyusuri gunung yang ada di dekat sana, berjalan dengan perlahan karena jalannya sedikit menanjak.


Mereka mencari ranting-ranting kering disekitar sana, dan mulai mengumpulkannya agar jumlahnya lumayan banyak.


"Hhh... kenapa aku harus melakukan ini?" keluh Rafael.


"Bukannya kamu bilang mau membantu kakak iparmu ini." Raymond memperingati Rafael kalau dia adalah kakak iparnya Rafael.


Rafael terpaksa tersenyum, "Ah iya, kakak ipar ya, " Dia takut dipecat menjadi adik iparnya makanya membantu lagi Haikal yang sedang sibuk mencari ranting atau kayu kering disana.


"Om Jo dan tante Jesika kapan mau datang kesini?" tanya Haikal, dia sudah mengeluarkan banyak keringat tapi tetap gigih untuk membantu sahabatnya.

__ADS_1


"Nanti malam karena harus membeli banyak hal juga untuk pernikahan kami, apalagi ini dadakan sekali." Walaupun dadakan tapi Raymond sangat bahagia akhirnya Bella akan resmi menjadi miliknya, apalagi sang joni sudah lama berpuasa, dia tidak tau apa jadinya nanti jika kunci itu telah menemukan gembok yang tepat.


Setelah merasa kayu bakar itu cukup, mereka pun memutuskan untuk pulang dengan masing-masing membawa kayu bakar , mengikatkannya ke punggung mereka. Ini pengalaman yang luar biasa bagi mereka, yang awalnya merasa terpaksa, rupanya dibalik semua itu malah membuat ketiga pria itu kompak dan dapat menikmati sejuknya udara pegunungan apalagi pemandangan yang indah disana.


"Tempat ini kayaknya cocok buat di pakai camping." kata Haikal memperhatikan lingkungan disekitar kaki gunung tersebut.


"Lah emang iya, dulu Bella bercerita ke gue katanya di dearah sini suka di pakai tempat camping."


"Nah cocok tuh buat bulan mudu disini." kata Rafael.


"Aishh... masa malam pertama di tenda." kata Raymond, tapi dia merasa ada bagusnya juga ide Rafael.


Sore hari itu...


Mereka menikmat bakar ikan hasil pancingan mereka sendiri, masakan Arumi memang sangat lezat, di tambah Ghisell dan Bella ikut membantu, begitu juga Luna tak kalah ingin membantu karena dia bisa memasak sedikit-sedikit di ajarkan oleh Rafael walaupun malah sering terjadi pertempuran panas di dapur sana.


...****************...


Malam harinya, Raymond duduk sendirian di depan rumah menunggu kedatangan kedua orang tuanya. Dia membiarkan Haikal dan Rafael beristirahat berduaan sama istri mereka masing-masing di kamar yang telah disiapkan oleh Reno, rumah Reno memang sederhana tapi sangat luas dan memiliki banyak kamar.


Dia dikejutkan oleh Bella yang tiba-tiba datang sambil membawa segelas kopi cappucino kesukaan Raymond, "Ka-kamu belum tidur?" tanya Raymond dengan gugup, sudah lama mereka tidak bertemu dan tidak berkomunikasi pastinya agak sedikit canggung walaupun aslinya memendam rasa rindu yang begitu menggebu.


"Belum, aku belum bisa tidur." Bella duduk di samping Raymond, "Mama dan ayah pasti kecapean karena harus mengurus rumah makan dari pagi sampai malam, karena itu tadi menyuruh aku untuk membangunkan mereka kalau om Jo dan tante Jesika datang."


"Tapi ini sudah jam 11 malam lho, kamu harus banyak istirahat, aku gak mau kamu kecapean di acara pernikahan kita."


Bella pun bangkit dari duduknya "Tadi aku sudah menghubungi mama kamu katanya sebentar lagi nyampe, karena itu aku mau ngasih tau mama dan ayah dulu buat..."


Raymond tiba-tiba menarik lengan Bella hingga dia terduduk ke pangkuannya. Raymond memeluk Bella. Bella hampir terkena serangan jantung atas perlakuan Raymond.


"Aku kangen banget sama kamu, aku bisa gila kalau sampai aku kehilangan kamu, Bella." Raymond mengatakannya dengan bersungguh-sungguh dan menatap Bella dengan tatapan sendu.


Rasa gugup Bella kalah dengan rasa rindunya, dia memegang wajah Raymond, "Aku juga, aku juga kangen sama kamu."


Rasa rindu yang begitu menggebu, ingin sekali mereka curahkan malam ini. Mereka saling menatap dengan begitu dalam, Bella memegang erat bahu Raymond, sementara Raymod menekan tengkuk Bella, dengan pelahan mereka mendekatkan wajah mereka... namun bunyi klakson mobil membuyarkan suasana. Mereka berdua terperanjat, Bella dan Raymond segera berdiri.


Rupanya kedua orang tua Raymond sudah tiba. Bella dan Raymond bergegas untuk menyambut kedatangan mereka.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....

__ADS_1


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya....


__ADS_2