Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Bonchap 8


__ADS_3

Berbeda dengan kediaman Rafael, Rafael sungguh sangat malu atas perbuatannya sendiri, malam itu dia sungguh tak bisa menahan pesona Luna yang posisi tidurnya sangat menggoda, malam itu Rafael benar-benar lupa diri sampai dia tak sengaja meninggalkan tanda merah tepat di dada Luna.


Bagi Rafael hasrat dan Cinta itu adalah hal yang berbeda. Dia merasa dirinya wajar jika memiliki hasrat pada Luna karena Luna tidur satu kamar dengannya. Berbeda dengan cinta, Rafael sangat pemilih terhadap gadis yang ingin dia cintai, makanya seberapa besar perhatian Chika padanya dan dia juga perhatian pada Chika sebagai sahabat tapi karena bagi dia Chika bukanlah tipenya, dia tidak bisa membalas perasaan Chika, terlebih lagi pada Luna.


Bagi dia Ghisell adalah sosok wanita yang sesuai dengan tipenya dan mampu membuat jantungnya berdetak. Jika dia bisa memilih, dia ingin ada sosok wanita yang seperti Ghisell untuk menggantikan Ghisell dihatinya.


Pagi ini Rafael, Luna, dan kedua mertuanya sedang menikmati sarapan pagi, saat itu kebetulan Rafael memesan makanan ke restoran terdekat untuk mengantarkan makanan ke rumahnya.


Rafael merasa tidak enak hati karena mama mertuanya dari tadi senyum-senyum tidak jelas seperti menahan tawa mungkin karena tiba-tiba Luna menanyakan tentang tanda merah di dadanya.


Aishh...


Ingin rasanya Rafael bersembunyi dimana saja, menyembunyikan wajahnya, saking malunya.


Rafael sangat malu sekali kepada sang mama mertua karena dia seperti maling yang sudah ketahuan berbuat mesum kepada anaknya tanpa sepengetahuan anaknya.


Jessica bisa menebak mungkin Rafael dan Luna masih saling jaim, maklum lah pengantin baru, walaupun pernikahan mereka terpaksa dilakukan secara dadakan karena takut mereka pacarannya kebablasan.


"Mama kenapa dari tadi senyum-senyum terus?" tanya Jo kepada istrinya.


"Oh nggak ko, ada yang lucu aja." Jesika tidak ingin menjelaskannya.


Sungguh Rafael sangat malu sekali kepada mama mertuanya itu, wajah Rafael memerah, seandainya dia menjadi siput pasti akan langsung bersembunyi masuk ke dalam cangkangnya.


"Kira-kira kapan kalian siap meresmikan pernikahan kalian dan sekalian mengadakan resepsi?" tanya Jo kepada anak dan menantunya.


Luna tidak bisa menjawab karena tidak tau mau dibawa kemana hubungan pernikahannya dengan Rafael.


"Nanti saja, Pa. Kami ingin menikmati dulu masa-masa pengantin baru kami. Lebih baik kalau Raymond dulu yang mengadakan resepsi pernikahan." Rafael yang menjawab pertanyaan ayah mertuanya.


Rafael tidak mungkin langsung menceraikan Luna begitu saja, setidaknya minimal satu bulan dalam pernikahan mereka biar tidak terlalu cepat. Karena itu Rafael berusaha menahan hasratnya karena dia tidak ingin meninggalkan bekas pada Luna, dia ingin mereka bercerai dalam keadaan Luna masih perawan biar tidak merasa bersalah pada Luna.


Walaupun semalam sempat kecolongan, tapi dia langsung menghentikan aktivitasnya begitu dia ingin menyentuh bongkohan yang indah di dada Luna. Makanya Rafael harus tidak satu kamar lagi dengan Luna. Dia merasa susah mengendalikan hasratnya semenjak kejadian sore panas itu, satu minggu yang lalu.


Setelah mertuanya pulang, baru saatnya tiba dia ingin mengintrogasi Luna tentang apa saja yang dibicarakan dia dan mamanya mengenai tanda merah di dada Luna.

__ADS_1


Rafale langsung mendeliki Luna begitu mobil milik mertuanya telah berlalu.


"Tadi mama kamu jawab apa tentang tanda merah itu?"


"Gak tau, mama malah tertawa katanya nanti juga aku tau sendiri mengapa ada bercak merah di dadaku. Emm... apa jangan-jangan..." Luna berpikir apa mungkin Rafael yang melakukannya, tapi rasanya tidak mungkin pria sekalem Rafael akan berbuat mesum padanya. Rasanya sangat mustahil.


Rafael sangat menyesal mengapa dia harus kecolongan seperti itu. "Jangan apa?" Rafael pura-pura merasa tak berdosa.


Gak mungkin, gak mungkin dia yang melakukannya.


"Gak tau, aku juga bingung." Luna nampak kebingungan , tapi dia memilih untuk tidak ambil pusing dengan masalah itu.


"Besok, kita akan ketemu klien penting, dia teman aku waktu kuliah. Jadi jangan buat aku malu, jangan membuat kesalahan lagi, kamu harus jadi asisten yang elegan." Rafael memperingatinya dengan nada mengancam.


"Ishhh... ya tenang aja,"


"Kulkas masih kosong. Lebih baik sekarang kamu belanja gih!" suruh Rafael.


"Masa aku sendiri? Yang benar aja ka!"


...****************...


"Dasar kuyang tidak berperasaan, sampai kapan aku di suruh-suruh terus sama dia. Ishh...seharusnya waktu itu aku gak mabuk! Kenapa nasibku sial begini." Luna terus meracau sambil memasukan apa saja yang ingin dia beli ke dalam shopping troley.


Namun saat dia akan membawa satu minuman kesukaannya, Jemarinya malah saling bersentuhan dengan seorang pria karena pria itu akan membeli minuman tersebut, rupanya disana cuma ada satu lagi minuman itu.


Luna segera menarik tanganya begitu tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan seorang pria asing.


Pria itu malah memandangi Luna, mungkin terhipnotis dengan kecantikannya. Dia segera mengerjapkan mata saat tersadar kembali ke dunianya, "Oh buat kamu aja minumannya." Pria itu terpaksa mengalah.


Luna mengangguk saja, dia membawa minuman kesukaannya itu, dan berbelanja kembali sampai belanjaannya sangat banyak dan Luna tidak sanggup membawanya karena penuh.


"Mbak, bisa tolong bawa belanjaan saya ke mobil saya?" tanya Luna pada penjaga minimarket itu.


"Shift pagi ini yang jaga cuma dua orang mbak, cewek semua, apalagi yang beli masih antri." Karyawan minimarket itu gak bisa menolong Luna.

__ADS_1


Luna terpaksa menjinjing satu dulu kresek besar yang berisi belanjaanya sampai hatinya terus saja mengumpat, Dasar kuyang menyebalkan pasti dia enak-enakan tiduran di rumah sementara aku harus belanja banyak begini.


Tiba-tiba ada seorang pria menjinjing satu kresek yang ada di dekat meja kasir, lalu merebut kresek yang di jinjing Luna, "Biar aku saja." katanya dengan tersenyum manis.


Luna malah bengong karena tiba-tiba ada yang menolongnya, apalagi pria yang menolongnya itu cukup tampan, dia baru menyadari kalau pria itu adalah yang tadi hampir berebutan minuman dengannya.


Pria itu sama sekali tidak merasa berat, kedua tangannya menjinjing kresek besar yang isinya sangat penuh itu. Luna mengikutinya dari belakang.


"Mana mobil kamu?"


"Nah ini Mas." Luna membuka pintu mobilnya. Membiarkan pria itu menyimpan belanjaan Luna ke dalam mobil.


Dari penampilannya Luna tau dia bukan orang tidak mampu makanya pasti tidak akan mau menerima jika Luna memberinya uang untuk membayar jasanya yang telah menolong dia, Luna mengambil satu minuman bersoda dari belanjaannya, dia memberikannya pada pria itu.


"Terimakasih Mas sudah mau menolong saya." Luna mengatakannya sambil menyodorkan satu kaleng minuman yang tadi ingin dibeli pria itu.


"Oh gak usah."


"Gak apa-apa, ambil aja." Luna mengatakannya dengan nada memaksa.


Pria itu terpaksa membawa minuman yang diberikan Luna, "Oh iya terimakasih." Pria itu mengulurkan tangan, "Namaku Abil Evano Bagaskara. Panggil saja Vano. Nama kamu siapa?"


Luna terpaksa menerima uluran tangan pria itu sebentar "Namaku Luna." Luna melepaskan lagi jabatan tangannya dengan pria itu.


"Kalau gitu aku pulang duluan ya Mas." pamit Luna sambil masuk ke dalam mobil.


Vano menganggukan kepala, dia tersenyum memperhatikan mobil Luna yang telah berlalu, lalu memandangi satu kaleng minuman bersoda yang diberikan Luna, dia merasa sayang sekali jika dia meminumnya, Vano menyimpan minuman itu ke dalam mobil.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....

__ADS_1


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...


__ADS_2