
Di Salah satu Restoran Mewah milik K Grup.
Ada dua keluarga yang sedang mengadakan makan malam bersama, kedua keluarga itu nampak sangat begitu dekat, siapa lagi kalau bukan keluarga Bara dan keluarga Jonathan.
Rafael sama sekali tidak percaya bahwa ternyata makan malam ini tujuannya untuk membahas hubungan dia dan Luna.
"Aduh gak nyangka banget ya kita mau besanan" Seru Jesika, mamanya Luna.
"Iya bener, kamu ingat kan waktu aku melahirkan Rafael saat itu kamu hamil muda dan berharap anaknya cewek biar bisa dijodohkan, eh rupanya malah Raymond yang lahir. Tapi Raymond lebih dekat dengan adeknya Rafael, Haikal." Karin malah membahas masa lalu.
"Ngomong-ngomong Raymond kemana? Kok gak ikut?" Bara ikut bicara.
"Raymond orangnya sangat sibuk, Raymond jarang pulang ke rumah, memilih tinggal sendiri di apartemen." jawab Jonatan.
"Oh iya mereka tinggal sebelahan sama Haikal kan?" tanya Karin.
"Iya betul sekali," Kini Jesika yang menjawab.
Kedua orang tua mereka tengah mengobrol membahas apa saja yang ingin mereka bahas mulai dari keluarga, bisnis, dan persahabatan mereka.
Sementara Luna terus memelototi Rafael, gara-gara dia pura-pura bilang kalau Luna pacarnya Rafael urusannya jadi panjang karena kedua orang tua mereka malah ikut campur. Sementara Rafael bersikap santai saja dengan gaya coolnya.
"Jadi rencananya kapan kalian nikah nih?" tiba-tiba Jonathan bertanya itu ke Luna dan Rafael.
Luna dan Rafael terbelalak ditanya seperti itu.
"Aduh pah, kita belum kepikiran kesana, lagian hubungan ini..." Luna tak bisa meneruskan perkataannya karena takut membuat orang tuanya malu dan kecewa jika bilang yang sebenarnya.
Malah Rafael yang angkat bicara, "Kita kebetulan baru jadian jadi ingin saling mengenal sifat masing-masing dulu Om. Gak ingin terburu-buru apalagi Luna masih muda, kakaknya Luna juga belum menikah. Ya mungkin menunggu sampai 9 bulan atau 10 bulanan, kita ingin menjalaninya dengan santai."
"Apa gak terlalu lama, Raf?" Bara keberatan dengan pernyataan anaknya.
"Nggak lah, Pa. Kami kan harus saling mengenal satu sama lain dulu, pernikahan itu bukan main-main, gak boleh terburu-buru."
"Ya udah, mama terserah kalian aja. Yang menjalani hubungan kan kalian, yang penting mama harap kamu bisa menjadi pacar yang baik buat Luna, jangan mengecewakannya." Karin sangat berharap Rafael bisa menjadi kekasih yang baik buat Luna.
Rafael hanya mengangguk saja, sementara Luna hanya diam dari tadi. Sebenarnya dia sangat ingin marah pada Rafael karena telah membawanya ke dalam masalahnya, berimbas ke keluarganya yang langsung setuju begitu saja.
Malam itu setelah makan malam, Rafael dan Luna membiarkan kedua orang tuanya sedang bernostalgia, dia dan Luna mencari angin disekitar restoran itu sambil menikmati es krim.
"Ini semua gara-gara kakak, aku jadi kena imbasnya kan?" Luna mengomel, dia sama sekali tidak berminat memakan es krim yang diberikan Rafael.
__ADS_1
Emang dia pikir Luna itu anak kecil sampai menyogoknya es krim agar tidak marah-marah.
Sementara Rafael bersikap tenang saja, mereka sedang duduk di taman belakang restoran tersebut, sekali-kali Rafael menikmati es krimnya, "Kamu tenang saja, yang aku butuhkan status agar orang tua aku mengira aku sudah benar-benar move on dari Ghisell."
"Padahal kenyataannya nggak kan? Terus kenapa harus bilang 9 atau 10 bulan?" Luna mengatakan itu sambil berpikir, dia memelototkan matanya karena terlintas pikiran yang nggak-nggak pada Rafael, "Kakak mau menunggu Ghisell lahiran kah?"
"Ya."jawab Rafael dengan jujur.
"Ya ampun kakak, dia itu adik ipar kak Rafael lho, istri dari Haikal, adik kakak."
"Kamu kenal Haikal kan? Dia suka digandrungi wanita, aku tidak jamin Haikal akan setia pada Ghisell. Dan bahkan mereka selalu tidur terpisah, itu artinya apa? Mereka hanya membutuhkan status pernikahan saja demi anak mereka, aku yakin mereka akan bercerai begitu bayi itu lahir. Apa salahnya aku menunggu?"
Benarkah mereka tidur terpisah? Tapi Luna tidak ingin lagi mengharapkan Haikal yang sudah berstatus suami dari temannya "Ah gak tau lah, aku sama sekali gak ingin tau urusan kak Rafael."
"Bukannya kamu suka Haikal? Kamu masih memiliki kesempatan untuk menunggunya."
"Nggak kak, aku gak ada kepikiran kesana, apalagi Ghisell teman aku. Walaupun berat, harusnya kakak mencoba move on dari Ghisell."
Rafael hanya diam, jika bisa memilih dia juga ingin move on dari Ghisell tapi rasanya sangat berat, bahkan kadang dia diam-diam saat pulang kerja melewati kantor Adva hanya ingin sekedar melihatnya dari jauh.
Luna melihat ada sisa ice krim dibibir Rafael, dia mengambil sapu tangannya dari saku celana dan mengelap sisa es krim itu, Rafael yang tengah melamun reflek memegang tangan Luna yang menyentuh bibirnya, sampai tidak sengaja kedua netra itu saling bertemu.
Luna segera melepaskan tangannya dari pegangan Rafael, "Maaf kak, tadi ada sisa es krim di bibir kakak." Luna mengatakannya dengan gugup.
"Oh em... ya... terimakasih." Rafael sama gugupnya karena tiba-tiba Luna menyentuh bibirnya. Tapi dia berusaha untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
...****************...
Sementara itu di apartemen.
"Hmm... ya sudah, aku masuk ke kamar dulu." pamit Haikal, padahal malam ini dia ingin sekali meminta jatahnya sebagai seorang suami pada istrinya tapi dia yakin Ghisell akan menolak.
Haikal segera masuk ke dalam kamar.
Begitu juga Ghisell, dia masuk juga ke kamar miliknya.
Namun entah kenapa kata-kata Bella jadi terngiang di telinganya soal pelakor, bagaimana mengerikannya seorang pelakor apalagi kalau suaminya tidak puas dengan istrinya.
Ghisell malah berjalan mondar mandir sambil berpikir.
"Bagaimana kalau wanita bernama Vira itu terus mendekati Haikal malah merayunya?"
__ADS_1
Ghisell menjawab perkataannya sendiri, "Tapi kenapa aku harus peduli, bukannya kalau Haikal selingkuh malah semakin cepat aku bercerai dengannya!"
Tapi kenapa rasanya dia sakit hati dan tidak rela membayangkan jika Haikal bermesraan dengan wanita lain.
"Argghhh ada apa denganku? Kenapa aku seperti ini?"
Bahkan Ghisell teringat dengan malam kemarin yang baru pertama kalinya melihat Haikal begitu kecewa karena Ghisell menolak untuk bercinta dengannya, bahkan Haikal yang bilang sendiri tidak akan memaksa Ghisell lagi untuk melakukannya.
Ghisell membuka lemarinya untuk mengganti bajunya dengan piyama tapi pandangannya teralihkan saat melihat ada lingerie pemberian dari Omah Rosa.
Apa aku harus membuatnya puas agar dia tidak tergoda oleh mantan tunangannya itu?
Ghisell terpaksa memakai lingerie itu dengan ragu-ragu, dia sangat malu karena sangat terlihat seksih sekali.
Bahkan selama setengah jam Ghisell berjalan mondar mandir dia didepan pintu kamar Haikal. Dia sangat gugup sekali untuk mengetuk pintu kamarnya.
Ayo Sell, ketuk pintunya!
Kalau dia kepedean bagaimana masa aku yang minta duluan?
Ini sangat genting, jangan lagi ada kata gengsi, kamu mau Haikal tergoda mantan tunangannya?
Hati dan pikiran terus saja berperang dibenaknya..Sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Haikal dengan perasaan berdebar.
Tok...Tok...Tok...
Ceklek!
"Ada ap..."
Suara pintu terbuka itu sungguh membuatnya merinding apalagi saat Haikal menatapnya dengan tatapan liar seperti binatang buas yang akan segera menerkamnya.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...
__ADS_1