
"Kenapa kamu bisa kesini?" tanya Ghisell, mereka berdua berbicara di dalam mobil sebagai bentuk privasi.
"Tentu saja untuk melindungi kamu," jawab Haikal dengan santai.
"Punggung kamu pasti terluka?" Seperti biasa Ghisell mengatakannya dengan nada datar.
"Enggak kok tenang aja, kamu mengkhawatirkan aku?" Haikal merasa senang akhirnya istrinya mengkhawatirkan dirinya.
"Jangan GR, aku cuma takut kamu terluka gara-gara aku."
Sudah Haikal duga jawabannya pasti itu, dia mencoba memikirkan pekerjaan istrinya itu, "Apa kamu yakin mau membangun Departemen Store Adva disana?"
"Tentu saja, pusat perbelanjaan kota C di daerah sini, tempatnya sangat strategis."
Kota C memang termasuk perkampungan, namun tempat ini tidak jauh dari tempat pariwisata, bahkan di daerah sini begitu ramai karena menjadi pusat perbelanjaan di kota C.
"Itu artinya kamu harus bisa berdamai dengan mereka."
"Kenapa harus berdamai? Bahkan mereka yang mau melukaiku!"
Haikal tersenyum tipis mendengar jawaban dari istrinya itu, "Lalu apa rencana kamu nanti? Mau mengusir mereka secara paksa?"
"Tidak, aku akan memberi mereka uang sesuai kesepakatan agar mereka bisa meninggalkan tempat itu dengan suka rela."
Haikal tertawa kecil mendengar jawaban dari Ghisell, dia merasa gemas padanya, kalau di rumah dia pasti sudah menciumnya.
"Jika melakukan itu, mereka malah makin marah dan merasa harga diri mereka terinjak. Yang mereka butuhkan bukan uang tapi tempat untuk mereka mendapat uang sehari-hari."
"Lalu aku harus apa? Mengalah saja? Padahal tempat itu milik Adva!" Ghisell tidak mengerti mengapa Haikal malah berpihak pada mereka.
"Tapi mereka sudah membayar sewa tempat sebelum pasar itu di jual. Aku sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan Adva bersama mama kamu, aku yang bertanggungjawab dalam proyek pembangunannya disini. Jadi ayo kita kerjasama agar bisa membangun Departemen Store Adva disini."
Ghisell mengernyitkan keningnya, "Caranya?"
"Kita harus mengambil hati mereka. Biar kita berdua saja yang melakukannya, jangan memakai bodyguard biar tidak mencolok."
__ADS_1
Ghisell malah tertawa geli mendengarkan jawaban dari Haikal. "Hm baiklah aku ingin tau caramu itu."
"Kalau caraku berhasil aku ingin kamu memberikan hadiah untukku." Haikal mengatakannya dengan tersenyum manis memandangi sang istri.
"Oke, aku akan memberikan hadiah apa yang kamu minta. Asalkan rencanamu itu berhasil." Ghisell menyetujui permintaan Haikal.
...****************...
Bella memutuskan pulang, dia tidak ingin menjadi nyamuk diantara Ghisell dan Haikal walaupun Ghisell sudah beberapa memintanya untuk menemaninya, tapi Bella tetap memilih untuk pulang dari sana bersama para bodyguard.
Sore itu Haikal membawa Ghisell masuk ke dalam pasar sana, dia menggenggam tangan Ghisell agar tidak ketakutan mengingat dengan kejadian tadi makanya mereka sengaja menutup wajah mereka dengan masker agar tidak ada yang mengenali mereka.
Haikal memperhatikan ada orang yang sangat di hormati di pasar tersebut, bahkan ada beberapa pedagang sampai membungkukkan badan tanda hormat setiap berpapasan dengannya.
Haikal pura-pura membeli buah apel disana, dia ingin menanyakan siapa orang itu kepada pedagang buah-buahan.
"Mau beli buah apel mas, mbak?" tanya pedagang itu.
"Iya, saya beli bu." Haikal memilih buah apel disana. Lalu dia mulai bertanya, "Orang yang tadi itu siapa ya bu? Yang pakai baju berwarna biru? Sepertinya dia sangat dihormati disini."
Pedagang itu berpikir sejenak "Oh beliau namanya Abah Atar, beliau bisa disebut ketua dari para pedagang disini."
"Taulah Mas, siapa sih yang gak tau tentang si Abah. Memangnya ada apa Mas?"
"Aku ada keperluan sama dia."
Akhirnya Haikal mendapatkan alamat orang yang paling disegani di pasar tersebut. Haikal hanya membeli beberapa buah apel saja padahal dia tidak memerlukannya, hanya ingin bertanya soal Abah Atar ini.
"Semuanya 50 ribu, Mas."
Haikal mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, "Ini ambil aja buat ibu."
"Aduh kebanyakan sekali ini, Mas."
"Gak apa-apa ambil aja."
__ADS_1
Ghisell memandangi Haikal, apa selama ini dia tidak tau sifat asli suaminya itu? Rupanya Haikal memiliki sisi baik yang dia tidak ketahui.
"Aduh makasih ya Mas, semoga rumah tangga Mas dan istrinya langgeng ya dan cepat dapat momongan."
Ghisell hanya terdiam mendapatkan do'a seperti itu dari, yang tidak sesuai harapannya.
"Kebetulan istri saya sedang mengandung, Bu." Haikal mengatakannya sambil merangkul Ghisell.
"Wah selamat ya Mas, pasti anaknya sangat bangga punya ayah seperti Mas ini. Apalagi istrinya, pasti beruntung punya suami kayak Mas ini. Semoga anakku punya suami kayak Mas ini." kata ibu itu sambil melirik putrinya yang baru datang.
Anak dari pedagang buah-buahan itu hanya tersenyum mesem melihat ke arah Haikal, walaupun wajahnya ditutupi masker tapi dia yakin Haikal pria yang tampan, dia sangat tersipu malu mendengar ucapan ibunya.
"Nah biar anak ibu aja yang antar kalian."
"Oh boleh bu." sahut gadis itu dengan pandangan yang tak lepas dari Haikal.
Ghisell terus memperhatikan tatapan gadis itu.
"Gak usah, kita bisa cari sendiri." Ghisell menolak untuk diantar gadis itu, dia langsung menarik tangan Haikal.
"Lho kok malah nolak, kita gak tau lho alamat disini?" Haikal tidak mengerti mengapa Ghisell malah menolak bantuan mereka.
"Kita kan tau nama alamatnya, ya udah kita cari aja sendiri." ketus Ghisell. "Tapi ada keperluan apa kita kesana?"
"Nanti juga kamu tau. Ya udah kalau itu mau kamu, jangan marah-marah ya kalau nyasar. Dan ingat kamu harus kasih aku hadiah kalau rencana itu berhasil."
Ghisell tidak tau apa hadiah yang diinginkan Haikal, tapi kenapa hatinya berdebar-debar menebak hadiah yang diinginkan suaminya.
Hadiah apa nih kira-kira? 😅
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
__ADS_1
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...