
Haikal membulatkan mata saat membaca pesan dari Abah Atar.
[Kami sudah bermusyawarah, kami memutuskan untuk menyetujui saran yang pak Haikal usulkan. Tolong tepati janji bapak.]
Perasaan Haikal jadi tidak karuan, rasanya dia seperti akan mendapatkan harta karun malam ini.
"Itu artinya malam ini Ghisell milikku?" Haikal mengatakannya sambil menganga.
"Ya dia miliku, malam ini dia akan menjadi milikku." Haikal terus berseru, rasanya sungguh nano nano, naluri seorang laki-laki pasti sangat bahagia jika ada wanita yang menawarkan diri untuk tidur dengannya, terlebih dia adalah istrinya, apalagi dia adalah wanita yang sangat dia cintai.
Berbeda dengan Ghisell, dia menjadi gugup untuk masuk ke dalam kamar hotel tempat dia dan Haikal menginap, beberapa kali dia mengerutkan keningnya dan menggigit bibir bawahnya.
"Aish... mengapa kau harus mengucapkannya tadi?" gerutu Ghisell pada dirinya sendiri.
"Tapi tetap saja, dia pasti akan meminta itu dariku. Jadi apa bedanya? Aku sudah berjanji untuk memberikan hadiah yang dia minta. Oke hanya malam ini saja. Itu juga belum tentu rencananya berhasil." Ghisell takut akan merasa kesakitan seperti saat dia terbangun dari tidurnya yang tiba-tiba merasakan sakit dibagian intinya dibawah sana waktu itu.
Ceklek!
Dengan hati yang berdebar-debar, Ghisell membuka pintu kamar hotel itu, dia melihat Haikal yang sedang menunggu kedatangannya, Haikal tersenyum manis padanya sambil duduk di tepi ranjang dengan posisi telanjang dada karena Ghisell akan mengobati luka lebam di punggungnya.
Tubuh sixpack Haikal begitu terlihat sek si, hampir membuat Ghisell terpana melihatnya. Ghisell mengalihkan pandangannya kemana saja asalkan bukan ke Haikal.
__ADS_1
Ghisell terpaksa ikut duduk juga ditepi ranjang, dia meminta Haikal untuk sedikit membelakanginya.
"Belakangi aku dulu, aku mau mengobati luka dipunggung kamu." Suruh Ghisell dengan ketusnya.
Haikal menurut saja, dia memposisikan badannya membelakangi Ghisell. Ghisell segera mengoleskan salep luka itu ke beberapa bulatan yang lebam di punggung Haikal.
"Besok kamu harus periksa ke dokter." saran Ghisell melihat luka lebam dipunggung Haikal.
"Tidak perlu, kalau istriku yang mengobati ku pasti akan cepat sembuh."
Ghisell malah mencibir, "Hmm.. jangan menggodaku!"
"Aku tidak menggoda kamu, aku berbicara benar apa adanya."
Haikal memposisikan dirinya berhadapan dengan Ghisell, dia menatap Ghisell dengan penuh rasa bahagia. "Akhirnya semua pedagang di pasar setuju dengan rencana aku."
"Wah benar kah?" Ghisell langsung berseru. Dia sangat bahagia sekali mengingat bagaimana perlakuan para pedagang disana padanya, rupanya Haikal begitu gampang menyelesaikan masalah ini.
Saking senangnya dia tidak sengaja memeluk Haikal, "Akhirnya aku bisa menyelesaikan tugasku disini."
Haikal hanya terpana, sama sekali dia tidak percaya bahwa kini Ghisell memeluk dirinya. Ghisell langsung melepaskan pelukan begitu menyadari siapa yang dia peluk.
__ADS_1
"Oh maaf, aku reflek gitu aja." Ghisell jadi teringat dengan hadiah yang akan dia berikan pada Haikal.
Oh my god, itu artinya aku harus....
"Aku ingin hadiahku malam ini. Tolong tepati janjimu." Haikal menatap Ghisell dengan intens membuat hati Ghisell berdebar-debar dan tidak tau harus menjawab apa.
"O-oh tentu saja." Ghisell pura-pura rilex, padahal dia sangat grogi, apalagi dia takut merasakan kesakitan.
Kedua tangan Haikal memegang wajah Ghisell yang cantik itu, "Aku tidak akan membuat kamu kesakitan, aku akan membuat kamu merasakan hal besar yang belum pernah kamu rasakan membuat kamu sulit melupakannya, jadi jika kamu ingin ikut menikmatinya kamu harus merespon dan membalas apa yang aku lakukan agar kamu tidak kesakitan."
"Tentu saja aku tau apa yang harus aku lakukan. Jangan khawatir." Ya begitulah Ghisell tidak mau terlihat gugup, dia harus pura-pura biasa saja, menutup rasa ketakutannya.
Haikal mencondongkan wajahnya dengan perlahan menyatukan kedua bibir mereka, dia menempelkan kedua dada mereka dan menekan tengkuk Ghisell untuk memperdalam ciumannya, Ghisell tidak ingin merasa kesakitan, dia mencoba mengikuti saran Haikal untuk ikut menikmati apa yang dilakukan Haikal padanya, dengan perasan berdebar perlahan dia membalas ciuman dari Haikal.
Haikal menyunggingkan seulas senyuman saat merasakan Ghisell membalas ciumannya, untuk pertama kalinya Ghisell membalas ciuman darinya. Keduanya pun saling mencecap dan bersilat lidah dengan sempurna. Kali ini Ghisell merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya, dia telah terbawa permainan Haikal, begitu sangat menikmatinya bahkan menginginkan lebih dari ini.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
__ADS_1
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...