
Rafael masih menikmati dua bongkahan indah di dada Luna di dalam mulutnya. Terus mengulum dan menyedot bagian pucuknya, lalu menjilatinya seperti ice krim. Dan sesekali me lu matnya sampai tubuh Luna bergetar menahan segala kegelian di dadanya.
"Owwhhh...kak!"
Luna sudah begitu terlena dengan sesapan dan lu matan di payu daranya, Luna memeluk erat kepala Rafael, menekannya, dan meremas rambutnya, entah mengapa tubuhnya merasa kehausan menginginkan lebih dari ini.
Rafael membuka celana Luna beserta kain tipis disana, Rafael membulatkan mata memandangi keindahan yang tersembunyi di bagian bawah wanita, pantas saja disebut surga dunia, karena memang sangat indah.
Luna menutup miliknya dengan tangan, "Aku malu kak."
Rafael mengangkat tangan Luna, dia memainkan jemarinya terus bergerak maju mundur disana, tubuh Luna semakin menggelinjang, tak bisa diam saat merasakan ada yang bergerak-gerak di daerah pusat intinya.
"Ahhh...berhenti kak, ini geli!"
Namun bukannya berhenti, Rafael malah membenamkan kepalanya ke diantara kedua paha Luna. Dia menyentuhkan ujung lidahnya dengan sesuatu yang kecil disana.
"Ahhh... kak." Luna semakin menggila merasakan ada sesuatu yang basah menyentuh miliknya. "Stop kak, aku gak kuat."
Rafael malah tersenyum puas, dia membiarkan lidahnya bergerilya disana, menciumnya seperti sedang bercumbu, sesekali dia menjilatinya dan memasukan idera perasa itu ke dalam. Membuat tubuh Luna menegang.
"Owhh...kak...ahhh..." Luna mencengkram rambut Rafael, malah dia menekan kepala Rafael sampai Rafael semakin mempedalam lu mat tannya. Tanpa sadar dia terus menggerakkan tubuhnya mengikuti mengimbangi gerakan lidah yang tiada hentinya membuatnya meremang.
"Kak stop ahhh... aku mau pipis ahhhh..." Luna mengerang panjang merasakan ada cairan keluar dibawah sana, tubuhnya bergetar hebat merasakan bagaimana nikmatnya saat pelepasan itu datang.
Rafael membuka celananya, sampai terlihat jelas sesuatu yang panjang, berurat dan menggoda. Luna bergidik ngeri, dia menutup kedua matanya "Arrghhh kak, pakai lagi celana kamu!"
Rafael hanya bisa tersenyum geli mendengarnya. Dia sudah tidak ingin berhenti lagi, ingin menjelajah lebih dalam ke tubuh indah itu.
Luna menutup miliknya dengan bantal, "Kata orang rasanya sakit banget kak!" Luna sedikit merengek.
__ADS_1
"Hanya sebentar, kamu akan menikmatinya nanti." Rafael mencoba meyakinkan Luna, dia mengecup bibir Luna dan tangannya menyingkirkan bantal yang menutupi milik Luna.
"Tapi kak..."
Rafael tak ingin mendengarkan protes Luna, dia memposisikan dirinya berada di kedua paha Luna, dia menggesek miliknya kepada pusat inti Luna untuk membuat Luna bergairah.
"Mmmmhh...kak..ini..ahhhh." Sialnya badannya menginginkan benda itu memasuki dirinya.
Rafael mengarahkan kejantanannya pada area inti Luna.
"Kak!" Luna sedikit was was merasakan ada yang bergerak untuk masuk kedalam miliknya.
Rafael mengentakan miliknya, membuat Luna menjerit.
"Arrghhh ! kakak sakit!" Luna mencengkram punggung Rafael.
Ternyata tidak gampang, mungkin karena Luna masih perawan, jadi Rafael agak kesulitan untuk memasukkan sepenuhnya ke dalam. "Tahan sebentar, Luna!"
"Arrrggghhh...sakit banget kak! Lepas...kan!" Luna mendorong tubuh Rafael, namun sayangnya Rafael sangat kuat, dia menggenggam kedua tangan Luna meletakkannya di atas kepala Luna.
Rafael menghapus air mata yang keluar dipelupuk mata Luna, dia merasakan tubuh Luna kaku yang berusaha menerimanya kejantanan Rafael yang berada di dalam sana.
"Ahhhh...Luna!" Rafael merasakan nikmatnya saat kedua milik mereka menyatu dan saling berdenyut.
Rafael mulai bergerak perlahan, Luna sempat tersentak namun secara pelan rasa sakit itu tergantikan dengan rasa yang tak pernah dibayangkan oleh Luna. Rasa naf su dan bi ra hi semakin menyatu saat Rafael mencumbu kembali pa yu daranya.
"Ahhh...kak Rafael...akhhh..." De sah Luna setiap kali Rafael bergerak masuk semakin dalam. Dia memeluk punggung yang kokoh itu.
De sa han indah itu membuat Rafael semakin bergerak liar.
__ADS_1
Beberapa kali Rafael menengadah ke langit-langit merasakan betapa nikmatnya malam ini. "Ahhh...nikmat sekali Luna,"
"Emmmhhh..kak ahhh!" Luna semakin menjadi ketika Rafael semakin bergerak dengan begitu cepat, menghantam miliknya semakin dalam, lidahnya tiada henti memanjakan payu dara Luna.
"Kita keluarkannya bersamaan." Bisikan Rafael.
Luna hanya mengangguk pasrah.
"Ahhh...kak." Erang Luna merasakan Rafael semakin mempercepat gerakannya, keluar masuk dengan begitu cepat.
Keduanya sama-sama mengerang bersamaan saat mencapai pelepasannya. Bahkan sangat terasa hangat ketika Rafael menyemburkan cairannya ke dinding rahim Luna.
"Akhhh....aaaahhh..."
Malam ini mereka melakukannya berkali-kali sampai mereka lelah, bahkan saat Luna sudah mulai mengantuk pun Rafael masih kuat memompa tubuhnya. Luna pasrah saja merasakan sang junior masih bergerak nakal di bawah sana.
Paginya... Luna terbangun, dia memandangi wajah Rafael yang masih mendekap tubuhnya, walau masih tertidur pun pria ini sangat tampan dan mempesona, dengan perlahan dia mengecup bibir Rafael yang masih tertidur pulas.
Boleh kah aku mengharapkan cintamu, kak ?Walaupun rasanya tidak mungkin aku bisa menggantikan Ghisell di hatimu.
Othor butuh es batu untuk mendinginkan tangan yang sudah tidak polos ini 🤦♂️
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya....