
Berbeda dengan kota C, di kota A sangat cerah sekali sore hari ini.
Di Kantor K Grup, Rafael terus memperhatikan Luna yang tersenyum-senyum seperti orang gila menatap layar ponselnya.
"Kak, ini kan sudah waktunya jam pulang, aku pulang duluan ya. Aku mau reunian sama teman SMP aku."
"Hmm... ya udah." Rafael mengizinkan Luna pulang duluan. Kebetulan hari ini dia mendapat pesan dari Chika ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali di sebuah klub.
Begitu sampai di Klub, Rafael tidak meminum satu gelas pun minuman disana, dia hanya ingin bertemu Chika saja.
"Apa kita tidak bisa sedekat dulu lagi Raf?" tanya Chika dengan terisak, "Bagaimana bisa kamu pacaran sama cewek kekanakan kaya gitu."
Entah kenapa Rafael tidak suka jika Chika menyebut Luna sangat ke kanakan, "Faktanya sifat dia lebih dewasa dari kamu, dia mengajarkan aku kalau cinta itu tak harus memiliki, aku berusaha untuk menerima kenyataan bahwa Ghisell adalah adik ipar aku walaupun hati aku sakit. Kamu juga harus menerima bahwa aku tidak bisa membalas cinta kamu."
Ya mulai sekarang Rafael memang harus bisa bersikap tegas.
Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar kebisingan sekelompok orang yang sedang bermain kartu disana, setiap yang kalah maka mereka harus minum.
"Luna?" Rafael membulatkan matanya saat melihat Luna ada di Klub yang sama.
"Luna!"
"Lunaa!"
"Lunnaaa!"
Mereka bersorak menyebut nama Luna ketika Luna terpaksa minum bir itu, dia menggelengkan kepala untuk membuyarkan rasa pusingnya karena dia sudah minum banyak akibat kalah terus.
Teman-teman Luna pada bersorak melihat Luna menghabiskan satu gelas bir itu.
"Ahhh... aku nyerah. Aku nyerah." Luna gak ingin main kartu lagi karena tidak sanggup jika harus kalah lagi yang mengharuskan dia meneguk minuman memabukan itu.
__ADS_1
"Ya udah kalau nyerah,bagaimana kalau bermain berdua sama aku aja Lun?" tanya pria yang bernama Edward.
"Berdua?" Luna tidak mengerti, dia memegang kepalanya yang pusing. Dia jadi menyesal mengapa harus mengikuti permainan gila itu.
Edward membantu Luna berdiri, dia memapah Luna untuk membawanya pergi dari sana.
"Aku bisa pulang sendiri." Luna menolak untuk di bantu oleh Edward.
Edward yang saat itu pernah di tolak oleh Luna merasa ingin memanfaatkan situasi, "Gak apa-apa, biar aku bantu kamu." Edward kekeuh ingin membawa Luna pergi ke tempat dimana dia akan membuat Luna menjadi miliknya seutuhnya. Dia terus memaksa Luna untuk ikut dengannya.
Bughh...
Tiba-tiba ada yang memukul wajah Edward sampai dia jatuh tersungkur ke lantai, siapa lagi kalau bukan Rafael.
"Arrrggghhh..." Edward mengerang kesakitan, memegang wajahnya. "Lu siapa? Jangan ikut campur urusan kita." bentak Edward.
"Tentu saja harus, dia adalah pacarku." jawab Rafael dengan santai, dia sengaja mengatakan itu agar Chika berhenti mengharapkannya.
Luna yang sedikit terpengaruh alkohol, dia memegang kedua tangan Rafael dan mengayun-ayunkan tangan itu seperti anak kecil "Ah iya aku lupa, sekarang ini aku punya pacar. Seorang CEO yang tampan dan dingin. Walaupun cuma pacar bo...Emmmhhh."
Rafael terpaksa membungkam mulut Luna dengan mulutnya karena kedua tangannya dipegang erat oleh Luna. Rafael terpaksa melakukannya karena Chika tidak boleh tau kalau Luna adalah pacar bohongannya.
"Ughhh...So sweet!" Orang-orang yang ada disana pada berseru.
Edward sangat kesal melihatnya, apalagi Chika, ini kedua kalinya melihatnya Rafael mencium bibir Luna.
Rafael melepaskan ciumannya, dia memandangi Luna yang sudah mabuk berat karena itu dia tidak begitu terkejut saat Rafael menciumnya.
Ini kedua kalinya aku mencium Luna, semoga dia tidak ingat yang sore ini.
Rafael terpaksa mengantar Luna ke rumahnya, sambil menyetir mobil dia terus mengomeli Luna yang bisa-bisanya mengikuti permainan gila itu
__ADS_1
"Kamu benar-benar merepotkan ya, bagaimana kalau tadi gak ada aku? Pria itu pasti sudah kurang ajar sama kamu!"
Namun sayang yang diajak bicara malah tidak merasa bersalah, akal sehat Luna tidak ada disana. Dia malah terus meracau tidak jelas.
Rafael terpaksa menggendong Luna di punggungnya, membawanya masuk ke dalam rumah.
"Husss...husss... cepat lari!"
Luna malah menjambak rambut Rafael, mengira dia sedang naik kuda.
"Arrrggghhh Luna." bentak Rafael sambil meringis. "Tolong kamu diam ya, nanti kita jatuh."
Luna akhirnya diam dibentak seperti itu, dia malah menyadarkan kepalanya di punggung Rafael.
Sayang sekali kedua orang tua Luna tidak ada di rumah karena sedang ada dalam urusan bisnis.
"Maaf tuan Rafael, Nyonya dan Tuan sedang tidak ada di rumah." kata ART disana. ART malah pergi begitu saja setelah memberitahu Rafael karena ingin menghargai privasi majikannya. Dia hanya menjelaskan letak kamar Luna di atas sana.
Rafael hanya menghela nafas, "Kamu merepotkan sekali." Rafael mengomeli Luna, dia terpaksa menggendong Luna menaiki tangga satu persatu menuju lantai atas.
Mumpung othor bergadang habis nonton timnas, hari ini othor up 3 bab juga. Jangan lupa antar kopinya hehe...
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...
__ADS_1