Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Lima Puluh Enam


__ADS_3

"Bell, ayo mampir dulu ke apartemen kak Raymond, masih banyak yang harus aku ceritain ke kamu." ajak Luna.


Bella tidak bisa menolak, dia terpaksa mengangguk saja, hal itu membuat Raymond sumringah, sepertinya dia telah jatuh hati pada wanita ini.


"Kakak buatin kita jus atau apa deh, aku mau curhat sama Bella." Luna malah mengusir Raymond.


Raymond hanya bisa mendengus kesal, padahal ini adalah apartemennya, dia terpaksa memberikan privasi pada mereka.


"Memangnya kamu mau cerita apa, Lun?" tanya Bella, setelah mereka berdua duduk di ruang tengah.


"Aku sebel banget sama si kuyang itu, Bell. Masa dia cium aku di dekat Om Bara dan Tante Karin, pake ngaku aku pacarnya lagi." cerita Luna dengan nada kesal.


Bella terkejut mendengarnya, "Kok bisa?"


"Itu karena dia gak mau dijodohkan dengan wanita yang bernama siapa tuh chika-chika begitu."


"Oh iya Chika, dia emang orang ketiga di dalam hubungan Ghisell dan Kak Rafael dulu."


" Nah iya, makanya aku gak cerita tadi, aku merasa gak enak masa terus aja bersangkutan dengan Ghisell, gak adeknya sekarang kakaknya." Luna ingin menghargai perasaan Ghisell.


"Masalah Ghisell, aku rasa dia sebenarnya sudah punya hati sama Haikal, dia mungkin belum bisa menyadari perasaannya aja, lama-lama dia akan sadar sendiri." Malah Bella merasa Ghisell sudah memiliki hati walau sedikit saja setelah Ghisell dipaksa jalan bersama Haikal di festival waktu itu, dari cara Ghisell menceritakan tentang Haikal, dia merasa ada yang beda aja dengan tatapan matanya yang berbinar-binar, tapi mungkin Ghisell adalah tipe wanita yang ingin setia pada satu pria makanya dia terus menyakinkan hatinya untuk setia pada Rafael.


"Terus perasaan kamu sendiri gimana ke Kak Rafael?" tanya Bella, penasaran.


"Biasa aja, malah aku selalu sebel sama tuh orang." jawab Luna dengan penuh kekesalan.


"Hati-hati lho nanti dari benci malah jadi cinta. Malah bagus lho kalian bisa saling mengobati hati." Bella malah menggodanya.


Luna malah jadi kepikiran ciuman tadi, mungkin karena pertama kalinya dia merasakan ciuman, sampai sentuhan bibir Rafael masih terasa dibibirnya "Hmm... gak tau lah.," Luna merasakan ingin buang air, "Aduh Bell, aku ke belakang dulu ya." pamitnya.


"Iya," Bella menganggukkan kepala.


Lalu Raymond datang membawa tiga gelas jus buah, dia meletakkannya di atas meja. "Kemana Luna?" tanya Raymond seraya menatap Bella.


"Ke kamar mandi," Bella melirik jam tangannya, "Kayaknya aku harus pulang deh, tolong kamu beritahu Luna kalau aku harus pulang," Bella segera bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Namun Raymond malah menghalangi jalannya, "Kamu tidak bisa pergi begitu saja setelah apa yang kamu perbuat sama aku. Bahkan mana janji kamu kemarin katanya bersedia kencan satu hari aja dengan aku, tapi gak juga kan."


Bella menghela nafas "Aku belum siap berkencan sama kamu."


"Cuma satu hari."


Bella merasa kesal merasa dipaksa oleh Raymond, "Ya ampun dengar ya Lemon, aku sama sekali gak tertarik sama kamu, jadi buat apa aku kencan sama kamu."


"Kita buktikan apa setelah ini kamu tidak tertarik pada ku lagi!"


Bella mengerutkan dahinya, "Maksudnya?"


Sungguh tanpa diduga Raymond menekan tengkuk Bella dan langsung menyambar bibirnya, Bella terpekik kaget tapi tak bisa melawan karena Raymond menciumnya dengan begitu brutal sampai menghentakannya ke dinding.


Raymond membelakakan mata merasakan celananya sesak. Benar saja, dia seperti dapat kutukan, wanita ini selalu membuatnya bergairah setiap melihatnya, tapi hanya wanita ini saja, bahkan dengan ciumanpun membuat joninya terbangun.


Bella yang ingin berontak, dia terbawa suasana, perlahan dia malah ikut menikmati ciuman dari Raymond. Raymond memang ahli dalam hal seperti ini, tapi dia ingin memperlakukan Bella beda dari wanita lain, dia ingin mencintainya dengan benar bukan karena naf su.


Raymond menghentikan ciumannya, dia tidak boleh hilang kendali, apalagi ada Luna.


Hah? Bella membulatkan matanya, "Mana bisa begitu?"


"Kita tadi sudah berciuman, artinya kita sudah jadi sepasang kekasih."


"Tu-tunggu dulu. Masa cuma ciuman bisa langsung jadi kekasih?"


"Terus mau apa, mau tidur bareng?" Raymond malah menggodanya.


"Ish..." Bella memukul lengan Raymond.


"Tenang aja, aku akan melakukannya setelah kita menikah nanti."


"Menikah?" Bella malah terkekeh, "Ya ampun kamu bicaranya terlalu kejauhan."


Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar suara Luna yang berjalan habis dari kamar mandi. Raymond dan Bella segera duduk kembali.

__ADS_1


"Maaf ya menunggu lama," ucap Luna tanpa tau apa yang terjadi pada mereka tadi.


...****************...


Sementara di Ruang Apartemen sebelah, Haikal dan Ghisell masih saling pandang, pria tampan itu masih mengunci tubuhnya yang duduk di atas kursi.


Haikal mencondongkan wajahnya sehingga jarak kedua bibir mereka begitu sangat dekat, bahkan hembusan nafasnya begitu terasa menelisik jiwa, "Kamu pilih saja, makan buah markisa itu semua sampai habis atau aku yang memakan kamu?"


Ghisell nampak kebingungan untuk menjawab hukuman apa yang akan dia pilih, dia merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya seakan tubuh itu ingin mendapatkan sentuhan, tapi dia malu mengakuinya.


"Masa cuma gara-gara buah markisa aku dihukum?" protes Ghisell.


Sebenarnya hukuman ini akal-akalan Haikal saja, dia tidak bisa bebas menyentuh Ghisell karena Ghisell melarang menyentuhnya, malam itu terjadi karena sebuah hadiah yang diberikan oleh Ghisell. Karena itu malam ini dia menginginkannya lagi dengan alasan hukuman.


"Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum menentukan pilihan."


"Kalau aku tidak ingin memilih?" tanya Ghisell dengan melebarkan pandangannya.


"Kalau kamu tidak memilih, biar aku putuskan hukuman apa yang pantas buat kamu."


"Loh kok gitu sih?"


Haikal semakin mencondongkan badannya, dia mencium bibir Ghisell membuat Ghisell membelakakan matanya, dia menciumnya dengan nafas yang begitu menggebu sampai Ghisell tak diberi kesempatan untuk bicara, dia terbawa suasana sampai tak terasa lidah itu masuk menyusuri disetiap inci rongga mulut, dengan lihai sang indra perasa bermain disana meningkatkan hasrat yang bergelora dijiwa.


Perlahan mulut itu turun ke bawah menyusuri disetiap inci leher Ghisell, menciumnya disertai dengan sesapan yang kuat, Ghisell tak bisa menolaknya, tubuhnya tidak sinkron dengan akal pikirannya, tubuhnya memang merindukan sentuhan itu.


Sentuhan pria ini rasanya begitu candu untuknya sampai di tidak bisa menolak dengan apa yang akan Haikal lakukan pada tubuhnya.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....

__ADS_1


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...


__ADS_2