
Dua hari berlalu... Rafael masih bersikap biasa saja pada Luna, seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka malam itu. Membuat Luna sangat kecewa.
Siang ini dia janjian makan bereng Ghisell dan Bella.
"Masa sih kalian mau putus begitu aja?" tanya Ghisell, saat mendengar cerita dari Bella tentang hubungannya dengan Raymond.
"Aku mau dijodohkan dengan keponakannya om Bram, aku gak bisa menentang keputusan ayah aku." Bella sebenarnya berat untuk memutuskan Raymond tapi dia adalah anak yang patuh kepada orang tuanya.
Luna hanya mengehela nafas mendengarnya, bagaimanapun juga dia tidak tega jika kakaknya patah hati, tapi dia menghargai keputusan Bella yang notabenenya Bella adalah anak yang penurut kepada orang tuanya. "Hmm... aku hargai kuputusan kamu, Bell. Tapi asalkan kamu tau kalau kakak aku sangat mencintai kamu. Malah dia sering menanyakan apa saja yang kamu suka dan yang gak kamu suka."
Bella hanya menundukkan kepala, matanya berkaca-kaca menahan tangis, dia juga tidak ingin putus dari Raymond, namun mau bagaimana lagi, dia tidak bisa menentang keputusan kedua orang tuanya.
Ghisell memperhatikan Luna yang nampak muram juga, dia merasa disini hanya dia yang merasa bahagia, sementara kedua sahabatnya nampak lesu.
"Terus kamu kenapa Lun?" tanya Ghisell.
"Aku..." Luna merasa berat untuk mengatakannya, "aku merasa kalau aku jatuh cinta sama kak Rafael, Sell. Bodoh banget kan aku mengapa bisa jatuh cinta sama orang yang menyebalkan begitu?"
Ghisell tersenyum geli mendengarnya, "Dia kan suami kamu, ya wajar dong kamu jatuh cinta sama suami kamu."
"Tapi dia gak cinta sama aku, Sell. Dia cuma anggap aku istri sementara dia."
"Hanya sementara? Lho kok bisa?" sewot Bella.
Ghisell jadi teringat dirinya yang dulu seperti itu pada Haikal, "Waktu aku berkunjung ke rumah kamu, aku melihat tatapan kak Rafael terus tertuju padamu, diam-diam dia memperhatikan kamu, mungkin tanpa dia sadari dia sudah jatuh cinta sama kamu. Cuma ya begitu kak Rafael, dia orangnya memang jarang mengatakan cinta, dia orangnya emang kaku."
Luna hanya tertawa kecil, "Gak mungkin lah kak Rafael cinta sama aku."
...****************...
"Bella, mutusin gue Kal. Hidup gue ancur banget." lirih Raymond, padahal dia sangat mencintai Bella.
__ADS_1
Nyesek banget pas lagi cinta-cintanya Bella malah memutuskannya begitu saja. Apalagi Bella akan menikah dengan pria pilhan ayahnya.
"Yang semangat dong bro, masih ada harapan buat kamu merjuangin dia. Gue pasti bantu lu." Haikal mencoba menyemangati Raymond.
Malam itu Haikal menemani Raymond yang tengah patah hati di apartemennya. Begitu juga Ghisell menemani Bella di apartemennya yang tengah bersedih.
"Sebenarnya aku gak mau mutusin Raymond, Sell. Tapi aku bingung dengan posisi aku sekarang ini." Bella terisak-isak.
Kini giliran Ghisell yang menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya itu. Ghisell menepuk-nepuk pundak Bella untuk menengkannya. "Aku yakin pasti akan ada jalan buat kamu dan Raymond bersatu."
Setelah pulang dari apartemen Bella, Ghisell melihat Haikal yang sedang memasak untuk makan malam mereka berdua, rupanya Haikal yang telah pulang duluan ke apartemen.
Ghisell memeluk Haikal dari belakang, menyadarkan kepalanya ke punggung sang suami.
Haikal tersenyum tipis saat merasakan pelukan hangat sang istri.
"Kedua temanku, lagi sedih. Aku gak bisa bantu mereka." lirih Ghisell.
"Hm."
"Kamu gak usah khawatir tentang Luna, ada sesuatu yang nanti habis makan aku ceritakan sama kamu tentang Luna dan kakakku."
"Wah ada apa nih?"
"Ya nanti saja, kita makan dulu. Urusan Raymond dan Bella biar kita pikirkan nanti. Mereka sudah membantu kita. Kini giliran kita membantu mereka."
Haikal mematikan kompor ketika masakannya sudah matang. Dia melepaskan pelukan Ghisell, membalikan badan, merangkul pinggang Ghisell, "Masakan sudah matang."
"Tadi kan aku sudah bilang biar aku yang masak."
"Gak apa-apa, kita harus saling pengertian."
__ADS_1
Ghisell tersenyum manis mengusap wajah tampan sang suami, "Maaf, dulu pasti sikapku membuat kamu sakit."
"Nggak ko sayang. Malah aku yang merasa bersalah karena telah mengacaukan hidup kamu."
Ghisell menggelengkan kepala "Sekarang aku sangat bahagia, aku sangat beruntung punya suami seperti kamu. Ya walaupun aku harus siap siaga dari para pelakor yang ingin menggoda kamu."
Haikal tertawa kecil, "Tapi nyatanya istriku ini sangat galak, mereka malah akan ketakutan lebih dulu sebelum menggodaku. Dan aku tidak pernah tertarik dengan yang lain selain kamu. Walaupun ada sih yang membuat aku tertarik dan penasaran."
Ghisell memelototkan matanya, "Siapa?"
Haikal mengelus perut Ghisell, "Anak kita, selain dirimu, aku juga tertarik pada anak kita. Aku penasaran banget bagaimana saat nanti dia terlahir, aku ingin melihatnya wajahnya, aku ingin segera mendengar dia memanggil aku papa."
Ghisell yang tadinya cemberut, dia mengalungkan tangan pada leher Haikal. "Aku juga sama, aku gak sabar ingin mendengar anak kita memanggil aku mama."
Haikal mencium kening Ghisell, dia menatap Ghisell dengan tatapan penuh cinta "Aku mencintai kamu, istriku."
"Aku juga mencintaimu, suamiku."
Dengan perlahan mereka menyatukan kedua bibir mereka. Mereka selalu berusaha untuk saling pengertian dan perhatian, karena itu jarang sekali ada pertengkaran di rumah tangga mereka, yang pasti mereka saling percaya.
Tinggal bab-bab akhir ya, menuju mau tamat 🙏😁
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya....
__ADS_1