
"Hmm... mereka sedang ngapain ya?" tanya Raymond, pikirannya melanglang buana juah ke angkasa, memikirkan Haikal dan Ghisell sedang apa di saat hujan seperti ini.
Saat itu dia dan kekasihnya sedang menikmati makan di sore hari di rumah makan sederhana disana, di temani gerimisnya air hujan.
"Ya mana aku tau, telepon aja sahabat kamu itu." jawab Bella dengan polosnya.
"Ya ampun Ebell, kamu polos banget ya, masa aku harus ganggu mereka."
"Ya udah kalau gak mau ganggu, gak usah nanya mereka lagi ngapain, Lemon."
"Hehe jadi mau."
Bella menunjukkan tinju pada Raymond, "Mau apa?" Dia memelototkan matanya jika Raymond berniat mesum padanya.
"Mau kayak mereka, kenapa kita gak nikah aja?"
"Ishh... kamu pikir nikah itu cuma buat begitu aja." Bella malah mencibir, pipinya merah merona.
"Ya bukan cuma buat itu aja, tapi aku ingin hidup bersama kamu juga. Aku cukup mapan walau usiaku masih 23 tahun. Aku akan menjadi pria yang setia sama kamu." Raymond memang satu tahun lebih tua dari Haikal.
"Kamu kayak yang gak tau ayahku aja, ayah gak akan gampang merestui hubungan kita begitu saja." Ayahnya Bella (Reno) memang sangat selektif dalam memilih calon menantu.
"Aku akan meyakinkan ayah kamu,"
"Duh enggak deh, aku belum siap mengenalkan kamu ke ayah aku."
Dua tahun yang lalu Bella pernah membawa pacarnya ke rumah, setelah bertemu ayahnya Bella, pacarnya merasa kapok, dan tidak ingin berhubungan dengan Bella seperti ketakutan begitu. Mungkin Reno di kira scream.
Raymond memegang tangan Bella lalu mencium tangannya "Aku serius sama kamu, Bell. Aku gak berniat pacaran lama sama kamu, aku kan sudah memutuskan kamu adalah masa depan aku. Aku gak mau keduluan sama Luna,"
Bella mengerutkan dahinya, "Emang Luna mau menikah? Sama siapa?"
__ADS_1
"Gak tau juga sih Luna mau nikah kapan, aku juga masih belum percaya kok bisa Luna pacaran sama Rafael. Padahal aku yakin Rafael belum move on dari bininya Haikal, awas aja kalau sampai dia mempermainkan Luna, akan langsung berhadapan dengan aku." Raymond tidak akan membiarkan adiknya disakiti orang lain.
"Ish... jangan begitulah, mungkin aja mereka lagi sama-sama menyembuhkan diri mereka. Luna yang cinta bertepuk sebelah tangan dengan Haikal. Kak Rafael yang ditinggal nikah sama Ghisell. Pasti mereka sama-sama butuh tempat untuk bersandar. Seiringnya berjalannya waktu, mereka pasti akan pasangan yang bahagia."
Raymond menganggukan kepala, "Terus kenapa tiba-tiba kamu terima cinta aku?"
"Ya aku orangnya gak mau bertele-tele, ya kalau aku suka ya udah,"
Raymond tersenyum lebar mendengarnya, "Berarti kamu suka dong sama aku."
"Ya, sedikit." Bella mengatakannya dengan menyipitkan matanya sambil nyengir.
"Lah kok sedikit sih?"
...****************...
Gemericik hujan telah menjadi saksi bisu bagaimana panasnya dua insan yang sedang melampiaskan seluruh rasa rindu yang mereka yang menggebu di dalam dada. Di dukung dengan hawa dingin yang menelisik meningkatkan gairah yang bergelora dijiwa.
Haikal membawa Ghisell ke dalam kamar, keduanya masih berciuman panas, lalu berlanjut di atas ranjang, Ghisell kini berada di bawah kunkungan Haikal.
"Tentu saja, bagiku kamu adalah pria yang paling menyebalkan." jawab Ghisell dengan nada kesal.
Haikal hanya terkekeh, Ghisell mungkin bukan tipe wanita yang gampang bilang cinta, tapi dengan dia tidak sengaja mengatakan bahwa dia merindukan Haikal, bagi Haikal itu sudah luar biasa bukan main bahagianya, rasanya seperti ditaburi emas batangan yang berjatuhan dari langit.
"Nyebelin tapi ngangenin kan?" goda Haikal.
"Aku tarik kembali ucapan itu." Ghisell sangat malu mengapa dia bisa keceplosan bilang rindu pada Haikal.
"Sayangnya ucapan kamu sudah aku save di memori kepalaku. Seorang Ghisell, istri dari Haikal, sedang merindukan aku." Haikal mengucapkannya dengan penuh rasa bangga.
Haikal mengecup bibir Ghisell sebentar lalu menatap kembali kedua mata Ghisell, mengelus lembut rambutnya "Aku jauh merindukan kamu, rasanya aku seperti orang gila yang tak bisa hidup tanpa mendengar apa pun tentang kamu."
__ADS_1
Ghisell tak bisa mengalihkan pandangannya, pria itu memang sangat mempesona, begitu agung dengan rahangnya yang keras. Ghisell mencoba untuk menyentuh wajah tampan Haikal, dia mengusap dengan lembut wajahnya, memandangi pria yang berstatus suaminya itu.
Haikal tersenyum miring menatap Ghisell dengan tatapan penuh gairah, dia merasakan tangan yang lembut itu menyentuh wajahnya membuat hasratnya meremang, dia menyatukan kembali kedua bibir mereka, Haikal tidak bisa mengontrol dirinya, dia mengobrak abrik bibir Ghisell dengan ganas.
Dengan cepat Haikal membuat Ghisell tak memakai satu halai kain apapun, tubuh indah itu terpampang dengan begitu nyata.
Sangat menggoda!
Menggairahkan!
"Haikal!" Ghisell melenguh nikmat saat Haikal menyentuhkan lidahnya ke ujung pucuk di dada Ghisell.
"Mmhhh..." Indera perasa itu menari-nari memainkan put ing Ghisell, tubuh Ghisell menggelinjang nikmat tak tertahan saat Haikal mulai mencumbu bongkahan indah itu di dadanya dan menyesapnya dengan rakus.
Dengan terengah dia menerima kembali cumbuan Haikal.
Ghisell menengadah ke atas dan sedikit menganga saat Haikal memainkan jemarinya di daerah inti Ghisell, membelainya dengan dengan begitu menggoda.
"Aahhh...Haikal!" Ghisell menyebutkan nama suaminya di sela-sela rintihan de sahan yang keluar mulutnya saat satu jemari Haikal mulai bergerak di bawah sana, bergerak maju mundur dengan begitu lembut.
Tubuh Ghisell menegang, kedua tangannya mencengkram dengan erat tangan kokoh Haikal yang sedang beramain di miliknya.
Haikal mempercepat ritme pergerakan jemarinya dibawah sana, tubuh Ghisell semakin menggelinjang hebat.
"Hai..khal..." Ghisell sudah tidak bisa mengontrol dirinya, sentuhan itu begitu memabukan. Dia menjepit jemari Haikal yang bermain di intinya...
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
__ADS_1
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...