
"Boleh kan Raf, aku ngajak asisten kamu untuk jalan bareng sama aku besok?" Karena tidak ada jawaban dari Luna, Vano malah bertanya kepada Rafael.
Luna memandangi Rafael, dia ingin tau apa jawaban Rafael, apa dia akan mengizinkan istrinya jalan bareng dengan pria lain.
Rafael terdiam sejenak, "Kebetulan besok pekerjaan kami akan lembur, saya gak bisa mengizinkan Luna untuk pulang lebih cepat."
Vano mengangguk saja walaupun jawaban dari Rafael membuatnya kecewa, "Oh ya sudah tidak apa-apa,"
Begitu juga Luna, dia mereka kecewa karena Rafael tidak mengizinkan mereka jalan bareng dengan alasan lembur, berarti jika tidak ada lembur kerja apa Rafael akan merelakan dia jalan bareng pria lain? Segitunya Rafael tidak menganggap dia sama sekali sebagai istrinya.
...****************...
Setelah sampai di depan rumah, Luna langsung menanyakan pertanyaan yang ada di benaknya pada Rafael.
"Kenapa kak Rafael berada di Cafe itu? Apa kak Rafael mengikutiku?" tanya Luna sambil membuka pintu rumah.
Rafael malah tersenyum sinis "Untuk apa aku mengikuti kamu? Aku tadi merasa lapar jadi cari makan di luar, eh gak taunya ketemu kamu disana.".
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Luna duduk di kursi sofa dan langsung menyalakan televisi, dia ingin melihat film kesukaannya.
Rafael ikut duduk di samping Luna.
"Bukannya kak Rafael lebih suka masakan rumahan? Tumben makan di Cafe." Luna masih saja bertanya, entah mengapa dia menginginkan Rafael menjawab pertanyaan yang sesuai dengan harapannya.
"Ya terserah aku dong, aku yang makan."
__ADS_1
Jawaban Rafael malah membuat Luna kesal, dia memilih fokus menonton film saja, tapi Rafael malah merebut remote dari tangan Luna.
"MotoGP pasti sudah mulai nih." Rafael menekan tombol nomor 5 di remote tersebut. Rafael berseru karena pemain kesayangannya sudah pulih dari cederanya, "Wah akhirnya Marc Marquez main lagi!"
Luna sangat kesal padahal film yang dia tonton sedang seru-serunya, dia merebut lagi remot TV di tangan Rafael dan menekan tombol 4. "Ganggu aja."
"Ya ampun Luna, itu MotoGP sudah di mulai." protes Rafael.
"Emang gak bisa ya dalam hal ini aja kak Rafael mengalah, tinggal nonton aja di kamar." Luna tidak ingin mengalah.
"Kalau nonton di kamar, suasananya beda, malah sering ketiduran."
"Sama."
"Katanya mau nonton MotoGP?"
"Nanti dulu."
Sampai akhirnya mereka malah tertawa bersama saat ada adegan kocak di film itu, sampai Luna terus memukul-mukul lengan Rafael. Namun mereka sama-sama terdiam waktu ada adegan ciuman di film itu, mereka menelan saliva saat melihat adegan ciuman itu malah semakin panas sampai terjadi adegan ranjang, scene di film itu malah menimbulkan hawa panas di sekujur tubuh mereka.
Luna segera mengganti channelnya ke MotoGp, "Kak Rafael ingin menonton MotoGP kan? Biar aku nonton di kamar saja."
Rafael hanya diam.
Luna melangkahkan kakinya menuju kamar, dia merasa tidak aman untuk melanjutkan menonton film itu jika berduaan dengan Rafael.
__ADS_1
Ceklek!
Saat dia membuka pintu kamar, dia tersentak kaget saat tiba-tiba Rafael menarik lengannya dan membuat dia berada dalam dekapan Rafael.
Tatapan Rafael malam ini sangat berbeda sekali, seperti hewan buas yang siap memangsa dirinya.
"Kak..."
Tangan Rafael dengan lembut menyentuh bibir Luna, "Bibir ini adalah milikku, jangan ada lagi yang menyentuhnya selain aku. Paham? " Rafael mengatakannya dengan terengah-engah.
Luna membulatkan mata begitu mendengar ucapan Rafael, dia lebih terkejut saat tiba-tiba Rafael meraih tengkuknya membuat bibir mereka menyatu, menyatukan nafas mereka, memagutnya dengan begitu lembut namun dalam, bahkan hawa dingin di malam haripun begitu mendukung mereka untuk saling mendekap lebih erat.
Luna terlena dengan sentuhan benda lembut dibibirnya itu, tanpa disadari entah dari kapan dia membalas ciuman Rafael, mereka saling memagut dengan begitu mesra, suara cecapan ciuman mereka begitu terdengar indah membuat birahhi semakin memuncak, bahkan kini mereka saling membelitkan lidah dengan nafas yang kian memburu.
Ciuman mereka semakin lama semakin panas, bahkan sambil saling bercumbu Rafael terus melangkah membuat Luna berjalan mundur, sampai langkah mereka terhenti karena mereka telah berdiri di tepi ranjang.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya....
__ADS_1