Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Empat Puluh Satu


__ADS_3

Haikal telah membeli satu unit apartemen di samping apartemen milik Raymond, dia sengaja ingin tinggal disana karena Ghisell pasti ingin dekat dengan sahabatnya juga, Bella.


"Wadaw yang akan jadi suami orang nih." goda Raymond, dia ikut membantu Haikal membenah barang-barang yang ada di apartemennya itu.


Haikal melongo sebentar, begitu menyadari dirinya akan menjadi suami Ghisell "Itu artinya gue akan tinggal bareng Ghisell?"


"Ya iyalah kan dia jadi bini lu." jawab Rayomnd sambil membenarkan letak kursi sofa disana.


Haikal mencubit kedua pipi Raymond sambil berseru, "Itu artinya gue bakal lihat dia setiap hari, setiap waktu..."


"Aishh..." Raymond melepaskan tangan Haikal yang mencubit pipinya dengan keras, "Bahkan lu bisa nidurin dia setiap hari. Lu tuh gimana sih yang namanya istri kayak gitu."


"Gue merasa mimpi aja, Ray. Padahal sebelumnya dia sudah nolak gue."


Mereka kembali sibuk membereskan yang akan menjadi tempat tinggal Haikal dan Ghisell nanti.


"Hm gue perhatiin akhir-akhir ini lu gak pernah kencan lagi sama cewek ya?" tanya Haikal dengan sedikit mendeliki Raymond.


"Gak tau lah Kal, semenjak peristiwa yang terjadi pada joni gue, gue kayak gak bergairah aja melihat cewek lain. Padahal kondisi gue baik-baik aja, dan si joni juga sehat tapi gak mau bangun aja walaupun gue rangsang juga."


"Hmm... baguslah ibarat sebuah gembok dan kunci, mereka sudah ditakdirkan berpasangan, lu harus menemukan gembok yang pas, begitu lu nemu gembok itu jangan lu lepas, karena itu adalah jodoh lu."


Raymond malah menggeleng, "Ah gue gak ngerti kata-kata lu, gembok kunci apaan sih."


"Tau ah susah ngomong sama lu."


Akhirnya pekerjaan mereka beres juga.


Haikal melirik jam yang telah bertengger di dinding "Udah malam nih gue pulang dulu ya." pamit Haikal.


"Lah ini kan apartemen punya lu?"


"Iya gue tau, tapi gue harus pulang dulu ke rumah."


Begitu keluar dari apartemennya, mereka berpapasan dengan Luna yang ingin pergi ke apartemen kakaknya.


"Haikal?" sapa Luna sambil tersenyum manis dan dengan tatapam yang berbinar-binar.


"Oh hai Luna." Haikal membalas sapaan dari Luna.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Raymond pada adiknya.


"Ya ampun kak, masa gak boleh ke apartemen kakaknya." Pandangan Luna tidak bisa lepas dari wajah tampan Haikal, "Emm... Bagaimana kabar kamu?"

__ADS_1


"Haikal besok mau nikah," Malah Raymond yang menjawab pertanyaan adiknya membuat Luna tercengang mendengarnya. Raymond menyuruh Haikal pulang, "Kal, kalau mau pulang silahkan!"


"Oh siap, gue pulang dulu ya." Setelah berkata begitu Haikal segera pergi.


Haikal tidak menyadari Luna terus menatapnya dengan tatapan sedih, "Haikal beneran besok mau nikah kak? Apa dengan wanita yang bernama Vira itu?"


"Bukan,"


Raymond tidak sengaja melihat Bella yang habis lembur pulang dari pekerjaannya, dia menunjuk Bella yang sedang membuka pintu, "Nah sama sahabatnya dia."


Bella langsung menoleh, "Ada apa?" Dia kebingungan tiba-tiba Raymond menunjuknya.


"Bella? Kamu tinggal di sebelah kak Raymond?" tanya Luna, dia merasa dunia ini sempit bisa bertemu Bella lagi.


"Emm... iya." Bella masih merasa malu pada Luna soal kejadian tadi siang.


Luna menunjukan paper bag yang berisi spageti, "Ini mama masak spageti banyak sekali, ayo kita makan bareng di apartemen kak Raymond? Sekalian aku ingin bicara sama kamu."


Raymond dan Bella saling pandang, Bella terpaksa mengangguk karena dia penasaran dengan apa yang akan dibicarakam Luna padanya.


Dan akhirnya Raymond terpaksa menghidangkan spageti buatan mamanya itu di dapur sambil terus menggerutu. Sementara Bella mendengarkan curhatan Luna.


"Yang bener kamu? Jadi Haikal akan menikah dengam Ghisell?" Luna terpekik kaget. Luna dan Bella adalah adik kelas Ghisell karena saat mereka naik ke kelas dua, Ghisell mengikuti akseleresi bisa langsung naik ke kelas tiga. Luna dan Ghisell gak begitu dekat. Sementara Bella lebih dekat dengan Ghisell karena kedua orang tuanya sahabatan.


Luna berusaha untuk tidak terlihat sedih, saat kecil dia sering bertemu dengan Haikal karena orang tua mereka sangat dekat, sampai Luna menganggap Haikal pangerannya, tapi begitulah Haikal, kalau dia tidak suka ya bilang tidak, kalau suka ya bilang suka, makanya saat Luna memberanikan diri mengungkapkan perasaannya, Haikal langsung menolak hari itu juga.


Luna tidak ingin menangis di depan Bella, dia pergi ke kamar mandi pura-pura buang air.


"Luna mana?" tanya Raymond sambil meletakan tiga piring yang berisi spageti.


"Lagi ke kamar mandi." ketus Bella.


Raymond malah gemas melihat Bella ketus padanya, dia duduk disamping Bella , "Ya ampun jangan ketus gitu napa? Ingat ya dengan syarat..."


Bella memotong perkataan Raymond "Iya nanti kalau aku udah siap, akhir-akhir ini aku lagi banyak pekerjaan."


Raymond mencondongkan wajahnya, "Harus tampil cantik ya baby."


"Babi babi....kepala buntung." Bella malah mengumpat.


"Ya ampun kamu gak bisa diajak romantis ya."


Raymond segera pindah tempat duduk saat mendengar langkah Luna yang habis dari kamar mandi.

__ADS_1


"Maaf ya lama." ucap Luna


"Gak apa-apa, harusnya lebih lama." canda Raymond sambil mengedipkan mata ke Bella menggodanya.


Ishh...kalau bukan karena nenek itu aku gak akan mau menuruti persayaratannya. Tapi mau bagaimana lagi aku juga yang sudah membuat nenek itu pingsan karena hampir menabraknya.


...****************...


"Keluarganya Pak Gibran meminta Haikal ingin segera menikahi Ghisell besok." ucap Bara dengan nada hati-hati, dia sebenarnya tidak tega melihat anak sulungnya itu tapi hidup itu tak selalu manis, tak selalu berjalan sesuai rencana dan keinginan. Harus bisa menerima kenyataan walaupun menyakitkan.


Rafael hanya diam, pandangannya lurus memandangi air mancur di kolam ikan hias disana. Saat itu mereka sedang berbicara berdua di teras paviliun itu. Dia menghela nafas sebentar, "Aku tidak akan ikut."


Bara menganggukan kepala, dia mengerti dengan perasaan Rafeal,dia belum bisa memberikan saran kepada Rafael karena yang dibutuhkan Rafael saat ini bukan saran tapi waktu untuk menyembuhkan luka.


"Mama bilang tante Jesika menitipkan anaknya sama kamu, buat jadi asisten kamu ya."


"Hmm iya tapi dia tidak datang tadi, mungkin belum siap. Luna masih kekanak-kanakan, Rafael belum yakin sanggup menanganinya atau tidak." Rafael merasa kehadiran Luna malah akan menambah beban pikirannya.


"Ya itu kan dulu, sekarang dia sudah dewasa."


Terdengar langkah seseorang, Bara tau itu langkah kaki Haikal, dia menoleh ke Haikal yang sedang ada di belakangnya.


Bara rasa ini saatnya membiarkan kedua anaknya berbicara dari hati ke hati, dia memilih pergi dari paviliun itu membiarkan Haikal dan Rafael berbicara berdua.


Sudah satu jam Haikal dan Rafael berada di tempat yang sama tapi tak ada yang mau mengelurkan kata sedikitpun, padahal jarak mereka hanya terpaut satu meter saja. Rasanya begitu sangat canggung.


Akhirnya Haikal memberanikan diri untuk berbicara, "Kak..."


Tapi Rafael malah memotong pembicaraanya, "Aku akan bersikap biasa saja, aku tidak ingin orang tua kita sedih melihat kerenggangan kita. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku akan menunggu kamu untuk mengembalikan dia padaku."


Haikal menghela nafas dengan berat, "Untuk masalah itu aku tidak bisa, aku..."


"Kita bersaing secara sehat, aku tidak merebut Ghisell darimu, tapi ingin mengambil kembali milikku. Bagiku menunggu dia sembilan bulan itu sangat mudah, bahkan aku pernah menunggunya lebih lama dari itu saat dia kuliah di Singapura."


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...

__ADS_1


__ADS_2