
Malamnya....
Setelah selesai makan bersama di rumah Rafael, Haikal mengajak Ghisell untuk berkencan. Selama ini mereka belum pernah berkencan.
"Aku senang melihat kamu dan kak Rafael akur lagi." Ghisell merasa sangat lega melihat Haikal dan Rafael bisa dekat kembali walaupun masih terlihat sedikit canggung.
Haikal yang sedang menyetir mobil, dia hanya tersenyum.
"Jujur saja selama ini aku sangat merasa bersalah karena sudah membuat hubungan kalian renggang, tap hari ini akhirnya aku sangat lega."
"Kamu gak salah apa-apa kok sayang, itu semua terjadi bukan karena kemauan kita. Yang penting sekarang Kak Rafael sudah move on dari kamu, aku sudah merasa lega."
Ghisell tersenyum manis memandangi suaminya, akhir-akhir ini dia selalu bersikap manja pada Haikal. Rasanya ingin terus berada di dekat Haikal.
Haikal membawa Ghisell ke bioskop, mereka ingin menonton film romantis.
Setelah sampai di bioskop, mereka begitu menikmati film romantis yang diputar malam ini tentang perjuangan cinta yang ditentang oleh restu orang tua, mereka yang ada yang disana sangat meresapi akan cerita film tersebut.
Namun pandangan Haikal tidak fokus menonton film, dia lebih fokus memperhatikan istrinya yang sedang menonton film dengan sangat serius.
Cup!
Tiba-tiba Haikal mencium pipi Ghisell.
"Haikal, bagaimana kalau orang lihat!" wajah Ghisell merah merona.
"Nggak ko, tenang aja. Kamu serius amat nontonnya."
"Ya nonton film harus diresapi, sama seperti membaca novel harus benar-benar fokus biar enak bacanya."
Haikal dan Ghisell benar-benar sedang menikmati masa bahagianya sebagai pasangan suami istri akhir-akhir ini, walaupun terkadang ada hal kecil yang membuat mereka salah paham tapi akhirnya baikan lagi.
__ADS_1
Setelah film selesai, Haikal menggenggam tangan Ghisell membawanya pergi meninggalkan bioskop tersebut. Tiba-tiba mereka hampir bertubrukan dengan seorang wanita cantik, karena wanita itu berjalannya tidak fokus, terus saja memainkan ponselnya.
"Haikal!" Wanita itu tersenyum begitu melihat siapa yang ada dihadapannya.
****************
Tujuan utama Rafael ingin pindah rumah adalah agar dia dan Luna tidak satu kamar lagi, karena selama satu minggu berada dalam satu kamar bersama Luna rasanya dia sangat tersiksa sekali setiap melihat Luna yang tengah tidur, Luna seperti sedang menggoda dirinya.
Rafael tidak ingin jatuh cinta pada wanita yang sama sekali bukan tipenya.
Namun malam ini mereka malah kedatangan mama dan papanya Luna, mereka ingin melihat rumah yang ditempati puterinya. Bahkan berniat menginap disana malam ini.
"Ini sudah malam, lebih baik kita nginep disini aja ya pa." pinta Jesika pada Jo.
"Oh iya udah, kebetulan disini pasti banyak kamar." Jo mengikuti keinginan istrinya.
Rafael akhirnya terpaksa tidur di kamar yang sama lagi dengan Luna, karena tubuhnya udah pegel selama satu minggu tidur di sofa, Rafael memilih tidur di kasur saja.
"Badan aku pegal, aku gak terbiasa tidur di sofa." jawab Rafael dengan nada dingin, sambil membelakangi Luna.
Luna yang sudah di landa ngantuk, masa bodo aja, dia lebih memilih cepat tidur dari pada harus banyak berdebat dengan Rafael.
"Luna, cepat pijitin punggung aku. Aku pegal begini juga gara-gara kamu."
Namun tidak ada jawaban dari Luna.
Rafael segera membalikkan badan, dia melihat Luna sudah tertidur. Entah kenapa Luna tampak mempesona ketika sedang tidur, mata Rafael jadi fokus ke kancing piyama Luna yang terbuka sampai memperlihatkan belahan dadanya.
Aishhh... kenapa dia selalu menggodaku. gerutu hati Rafael.
Paginya...
__ADS_1
Rafael sudah berpakaian rapi , dia disibukkan dengan memilih jam tangan mana yang akan dia pakai, tiba-tiba dia dikagetkan dengan jeritan Luna di kamar mandi.
"Aaaaaa..."
Ceklek!
Luna keluar dengan memakai bathrobe, dia kelihatan shock sekali.
"Ka-kamu kenapa?" tanya Rafael dengan perasaan tidak enak.
"Apa di kamar ini ada nyamuk atau semut?"
Rafael mengerutkan dahinya "Memangnya kenapa?"
"Di dadaku ada bercak merah, tapi besar hampir mirip dengan besarnya dengan tanda merah di badan kakak waktu itu, malah agak lebih besar." Luna mengatakannya dengan polos, dia tidak mencurigai Rafael sama sekali karena dia tau Rafael tidak tertarik padanya. Bahkan selalu bersikap dingin padanya.
"Hewan apa ini? Sangat mengerikan sekali. Aku harus bertanya sama mama." gerutu Luna, dia sangat takut hewan itu akan datang lagi mengigit tubuhnya.
Rafael kaget mendengarnya, "Eh Luna tunggu..."
Namun Luna malah keburu keluar dari kamar.
Seketika Rafael merasa dunianya runtuh, ingin sekali dia melarikan diri ke bikini bottom saja. Padahal tanda merah itu adalah bekas cu-pangnya.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...