Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Tiga Puluh Sembilan


__ADS_3

Ghisell menjinjitkan kakinya untuk meraih kotak P3K di atas sana. Tapi sayangnya dia kurang tinggi untuk meraih itu. Dia dikejutkan saat ada seseorang berada di belakangnya membawa kotak P3K itu dengan begitu mudah, siapa lagi kalau bukan Haikal. Punggung Ghisell tidak sengaja bersentuhan dengan badan Haikal yang sedang berdiri di belakangnya. Membuat Ghisell segera membalikan badan dan bergeser ke arah kanan untuk menghindarkan jaraknya dengan Haikal.


Haikal juga malah bergesar ke arah yang sama untuk sedikit menjaga jarak dari Ghisell tapi malah mereka saling berhadapan dengan jaraknya yang begitu sangat dekat, sampai tidak sengaja kedua pasang bola mata mereka saling bertemu.


Ghisell mencoba mundur tapi Haikal malah menahan pinggangnya, membuat Ghisell sangat begitu gugup karena jarak badan mereka dekat sekali.


"Apa kamu yakin tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku setelah apa yang kita lalui bersama? Walaupun terkesan singkat, bukan kah kamu terlihat begitu nyaman saat bersamaku?" tanya Haikal dengan tatapan matanya yang begitu dalam.


"Ti-tidak." Ghisell berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Waktu itu setelah kita jalan bersama di festival, aku melihat kamu tersenyum, aku melihat kamu bisa bersikap manja, apa kamu yakin tidak sedikitpun hatimu bergetar karenaku?"


"Aku hanya terbawa suasana, saat itu aku sedang sedih dan kesal. Aku hanya mencintai kakakmu"


Entah mengapa perkataan itu membuat hati Haikal terluka.


Ghisell melepaskan tangan Haikal. "Cepat duduk aku obati luka kamu."


Mereka pun duduk di sofa, Ghisell mengobati luka di wajah Haikal dengan pelan.


"Shhh..." Haikal sedikit meringis.


"Apa Kak Rafeal yang memukulmu?" tanya Ghisell, dia masih fokus mengobati luka di wajah Haikal.


Haikal sangat grogi karena wajah mereka begitu sangat dekat, bahkan wangi nafas Ghisell begitu tercium dengan kuat, menembus sanubarinya, hasratnya ingin sekali menyentuh bibir itu.


"Aku pantas mendapatkannya tapi kali ini aku harus egois akan memperjuangkan kamu." lirih Haikal.


Ghisell berhenti sejenak, dia menatap Haikal, "Aku tidak punya pilihan lain selain menikah dengan kamu. Kamu tau kan kita menikah karena keadaan? Karena itu aku ingin mengajukan beberapa syarat padamu kalau kamu ingin aku melanjutkan pernikahan ini."


Haikal menghela nafas, "Aku tidak menerima persyaratan apapun."

__ADS_1


"Ya sudah, aku akan menolak pernikahan kita. Kamu tau kan pernikahan ini sama sekali bukan impian aku?"


"Lalu apa syaratnya?"


"Aku ingin kita tidur terpisah dan Aku ingin kita bercerai setelah bayi ini lahir. Kita bisa mengasuhnya secara bergiliran." Ghisell mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


Haikal membulatkan mata, apa tidak bisa Ghisell mencoba membuka hati untuknya? "Bagiku pernikahan ini bukan main-main."


"Bagiku juga sama, tapi bukan dengan kamu."


"Apa kamu mengharapakan bisa kembali lagi pada Kak Rafael?"


Mata Ghisell berkaca-kaca, "Tidak, kak Rafael pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku. Jujur saja setiap kali aku melihat kamu kadang aku merasa sangat kesal, aku gak bisa menjalani semua ini karena keterpaksaan."


Rahang Haikal begitu mengeras, dia menghembuskan nafas beberapa kali "Bagaimana kalau sebelum 9 bulan nanti kamu mencintai aku?"


Ghisell tersenyum sinis "Aku tidak gampang jatuh cinta. Kak Rafael adalah cinta pertama aku, dan aku belum pernah tergoda laki-laki lain."


Ghisell tertawa kecil, "Itu semua tidak gampang."


Tanpa di duga, Haikal memegang wajah Ghisell dan mengecup bibirnya, membuat Ghisell membulatkan mata.


"Apa hatimu tidak bergetar?" Tanya Haikal sambil tersenyum menggoda.


Ghisell jadi gugup di tatap seperti itu "A-aku lupa , bukan dua syarat, tapi tiga syarat, syarat ketiga kamu tidak boleh menyentuhku."


"Tidak bisa, bahkan dua syarat yang tadipun aku belum menyetujuinya. Kamu terlalu banyak menonton film." Haikal mengatakannya sambil mengacak rambut Ghisell sambil tersenyum geli.


"Ish Haikal." Ghisell menepis tangan Haikal.


"Oh ya ampun so sweet sekali"

__ADS_1


Kata itu mengagetkan mereka. Rupanya mereka lupa akan kehadiran Omah Rosa yang sedang menunggu di luar.


"Oh maaf Omah, tadi aku mengobati Haikal dulu." Ghisell memapah Omah Rosa untuk duduk bergabung di sofa bersama mereka.


"Oh ya gak apa-apa, ini salad buahnya belum kamu makan lho, makan berdua aja sama Haikal." Omah Rosa membuka tutup cup salad itu sambil terkekeh tidak tau sang cucu menatapnya dengan kesal.


"Ya udah Ghisell ambil sendoknya dulu."


"Ini di dalam cup ada sendok, cuma ada satu. Suapin juga gak apa-apa, jangan canggung-canggung." Omah Rosa memberikan sendok itu pada Ghisell.


Ghisell hanya tersenyum terpaksa, dia terpaksa menyuapi Haikal dengan sedikit kasar.


"A-a-a..." Ghisell menyuruh Haikal membuka mulutnya sambil melototinya persis ibu tiri yang terpaksa menyuapi anak sambungnya.


Haikal terpaksa membuka mulut, Ghisell menyuapinya dengan kasar sampai sendok itu berbenturan dengan giginya, membuatnya ngilu.


"Aish..." Haikal mendeliki Ghisell dengan tatapan kesal sementara mulutnya penuh dengan salad buah karena Ghisell menyuapinya dengan satu sendok penuh.


Ghisell tertawa geli melihat Haikal seperti itu.


Baguslah, aku akan buat kamu menyerah dan tidak tahan hidup denganku nanti. Aku tidak bisa hidup dengan orang sudah menghancurkan hidup dan angan-anganku. kata hati Ghisell.


Rupanya dia mengerjaiku, dia sangat menggemaskan. Kalau sudah menikah pasti sudah ku hukum dia. kata hati Haikal. Ah kalau bicara soal hukum Haikal jadi teringat kembali pada malam panas bersama Ghisell. Dia pria normal pasti ada saatnya dia mengingat moment itu.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....

__ADS_1


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...


__ADS_2