
Malam ini entah mengapa Rafael merasa tidak suka jika Luna menemui pria lain, walaupun dia mengenal baik pria itu.
Rafael tidak mengerti mengapa dirinya merasa tidak tenang. Bahkan Rafael terus berjalan mondar mandir seperti orang kebingungan.
Rafae segera meraih kunci mobil, dia pergi untuk mencari cafe terdekat disekitar sana, dia mencari keberadaan Luna dan Vano ,ternyata tidak ada.
Rafael mencari lagi ke Cafe yang lain, ternyata Rafael tidak bisa menemukan keberadaan Luna dengan cepat, dia harus ke mampir beberapa Cafe dulu sampai akhirnya dia menemukan keberadaan Luna dan Vano.
Rafael memperhatikan mereka yang tengah asik mengobrol, dan melihat Vano yang sedang membaca cerita karangan Luna, namun sayangnya karena jarak mereka terlalu jauh, Rafael tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
Rafael memutuskan untuk pindah ke kursi yang jaraknya agak berdekatan dengan mereka , dia berjalan sambil sedikit menundukan kepala karena takut mereka akan mengenali wajahnya, dia lupa tidak memakai masker, hanya memakai topi hitam saja
Namun...
Bruuukk....
Prengg....
Tanpa sengaja Rafael bertubrukan dengan seorang waitress disana, sampai piring dan gelas yang dibawa waitress itu berjatuhan ke lantai dan pecah.
Sontak suara itu menarik perhatian orang-orang yang ada disana, termasuk Luna, Luna reflek menoleh ke arah sumber suara, dia terbelalak saat melihat Rafael yang memakai topi hitam.
"Kak Rafael?"
Vano yang tengah sibuk membaca, dia ikut menoleh juga begitu mendengar Luna menyebut nama Rafael.
Aishhh... Rafael mengerutkan dahinya.
Rafael berpura-pura baru melihat mereka, padahal dari tadi dia sedang mengawasi mereka. Bagi dia bagaimanapun Luna masih berstatus istrinya jadi dia harus memastikan kalau Luna tidak macam-macam dengan pria lian.
__ADS_1
Rafael melambaikan tangan pada Luna dan Vano, "Ha-hai..." sapanya dengan kikuk.
Saking fokusnya membaca cerita karangan Luna sampai Vano bermonolog di dalam hatinya bahwa dia tadi sepertinya mendengar Luna memanggil Rafael dengan sebutan kak, ah tapi mungkin dia pasti salah dengar, seorang asisten pasti memanggilnya Pak.
Tidak ada pilihan lain, setelah membantu membereskan pecahan kaca tersebut, Rafael terpaksa ikut bergabung dengan Luna dan Vano.
"Wah, gak nyangka ya kita bisa bertemu lagi disini." kata Rafael sekedar basa basi kepada mereka.
Rafael melihat Luna yang menatap tajam padanya seakan ingin mengintrogasinya mengapa Rafael berada disana, bukannya tadi Rafael sedang menonton sepak bola karena klub kesayangannya yang main.
"Nah iya benar," Vano sudah selesai membaca cerita karangan Luna itu lalu mengembalikan beberapa lembar kertas itu pada Luna, "Ceritanya cukup menarik, apalagi tokoh si ku..."
Luna segera memotong pembicaraan Vano begitu Vano akan menyebut nama kuyang, "Mas Vano, mau pesan apa?" Luna ingin mengalihkan pembicaraan mereka, dia malah memberikan daftar menu di Cafe tersebut kepada Vano.
Katanya hanya sekedar membahas novel saja, lah kok malah mau makan bareng.
"Kalau kamu mau apa?" Vano malah balik nanya pada Luna.
"Aku juga mau itu. Kamu mau apa Raf?" Vano bertanya pada Rafael.
"Samain aja." jawab Rafael.
Setelah memesan steak sapi bersama minumannya kepada waitress, beberapa menit kemudian pesanan sudah tersaji di atas meja.
Mereka bertiga langsung menikmati steak sapi di Cafe tersebut.
"Bagaimana rencana pernikahan kamu dengan pacar kamu itu? Kalian pasangan serasi lho, membuat orang ngiri melihatnya." Vano tidak tau Rafael dan Ghisell sudah tidak berhubungan lagi karena Rafael orangnya agar tertutup masalah hati, dia jarang curhat pada orang lain.
Luna memandangi Rafael, ingin tahu jawaban apa yang dilontarkan Rafael pada Vano.
__ADS_1
"Lebih baik kita gak usah membahas itu." Rafael tidak ingin menjawab pertanyaan Vano.
Vano menganggukan kepala, dia lebih baik membahas soal kerjasama perusahaan saja. "Dua hari lagi pesta akan diadakan, aku harap K Grup mempersiapkannya dengan baik."
"Tentu saja, aku jamin kamu tidak akan pernah menyesal telah bekerjasama dengan K Grup." Rafael meyakinkan Vano.
Vano tersenyum saat memperhatikan Luna dia melihat ada sedikit noda kecoklatan menempel pd sudut kanan bibir Luna, refleks dia mengambil tisu dan membersihkan noda itu di sudut bibir Luna.
Luna tak bisa menolak karena Vano melakukannya secara tiba-tiba, sementara Rafael yang melihatnya juga dia kalah cepat padahal dia sudah memegang tisu. Rafael terpaksa memakai tisu itu untuk dirinya sendiri walaupun hatinya sangat kesal karena tangan Vano menyentuh bibir Luna.
"Makasih Mas, padahal aku bisa sendiri."
"Oh gak apa-apa kok, besok ada acara gak?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku ingin kita jalan bareng aja, aku ingin mengenal kamu lebih baik."
Lagi-lagi Rafael merasa menjadi nyamuk diantara mereka, namun kali ini dia tidak suka karena Vano ingin ngajak Luna jalan bareng, dia aja yang suaminya tidak pernah mengajak Luna jalan bareng.
"Boleh kan Raf, aku ngajak asisten kamu untuk jalan bareng sama aku besok?" Karena tidak ada jawaban dari Luna, Vano malah bertanya kepada Rafael.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya....