Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 11 : HTS


__ADS_3

Putri terlihat membuka matanya perlahan. Ia samar-samar ruangan tersebut.


"Dimana aku...'' lirih Putri.


"Sayang, akhirnya kamu bangun juga," ucap Mamah Exsel. Wanita itu menampakan senyuman manisnya.


"Mah, aku dimana?"


"Kamu di Rumah sakit sayang," jawab Mamah Exsel.


Putri mengingat kembali kejadian tadi, tiba-tiba air mata lolos begitu saja dari sudut matanya.


"Mah, Mas Exsel Mah," ucap Putri.


"Aku ingin bertemu Mas Exsel Mah," lanjutnya. Putri mencoba melapaskan selang infus yang ada ditangannya.


"Put, jangan!" Mertuanya mengehentikan Putri.


"Tenangkan dirimu sayang. Exsel sudah menceritakan semuanya sama Mamah. Kamu tenang saja, nanti Mamah akan bantu bicara sama Exsel ya sayang," Mamah Exsel membawa Putri ke dalam pelukannya.


"Tapi Mah---" Tangis Putri pecah.


"Put, percaya sama Mamah. Mamah sangat menyayangi kamu Nak, sudah seperti anak Mamah sendiri, Mamah tidak akan membiarkan Exsel menceraikan kamu. Karna Mamah yakin Exsel juga sangat mencintai kamu sayang." Mamah Exsel menangkubkan tanganya di wajah Putri, lalu menghapus air mata menantunya itu. Wanita itu meyakinkan Putri.


"Mamah janjikan, Mah?" lirih Putri.


"Iya sayang," jawab Mamah Exsel, lalu mendaratkan kecupan di kening menantunya itu.


Putri merasa sedikit tenang.


"Untuk semantara waktu, biarkan dulu Exsel sendiri ya. Biar Mamah dan Papah yang akan menyelesaikan masalah ini" lanjut Mamah Exsel.


Putri mengangguk pasrah. Ia hanya bisa mengikuti ucapan mertuanya itu. Mungkin Exsel juga butuh waktu. Semoga saja kedua mertuanya bisa menyakinkan Exsel, dan menjelaskan semuanya pada Exsel. Bahwa Putri tidak seperti yang Exsel pikirkan.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu saja disini, Mamah akan ke kamar rawat Exsel dulu," ucapnya.

__ADS_1


"Iya Mah." Putri membaringkan kembali tubuhnya di brankar tersebut. Sang Mertua menyelimuti tubuh Putri, Putri mulai memejamkan matanya.


Setalah memastikan Putri sudah tenang dan beristirahat. Mamah Exsel keluar dari ruangan tersebut. Ia berjalan menuju kamar rawat Exsel.


"Exsel, Papah kemana?" tanya Mamah Exsel, saat ia masuk ke kamar rawat Exsel hanya melihat Exsel sendiri, padahal tadi suaminya ada di sini.


"Papah keluar Mah, katanya mau cari angin," sahut Exsel.


"Dasar Papah kamu, angin kok di cari!" ketus Mamah Exsel. Exsel tersenyum tipis mendengar celotehan Mamahnya itu.


"Putri sudah lebih tenang, sekarang dia sedang beristirahat," ucap Mamah Exsel. Ia tau kalau Exsel sebenarnya mengkhawatirkan kondisi Putri.


"Aku tidak tanya!" sahut Exsel acuh.


"Cih, pura-pura tidak perduli. Pergi beneran nanti nangeesss..." ledek Mamah Exsel.


Exsel nampak diam, tak menyahutnya. Memang ia sangat mengkhawatirkan istrinya itu. Tapi mulai saat ini Exsel harus bisa belajar tidak memperdulikannya lagi. Sebentar lagi ia akan mencerikan Putri, Exsel harus belajar melupakannya dari sekarang.


Jika bertanya, apakah Exsel benar-benar akan menceraikan Putri? Jawabnya, antara Iya atau Tidak.


Kenapa? Karna Exsel sangat mencintainya, hatinya tidak bisa menerima jika Putri meninggalkannya, namun kenyataannya? Exsel tak bisa membahagiakan istrinya itu, mungkin dengan Exsel melepaskan wanita itu, Putri akan menemukan kebahagiaannya. Walaupun bukan dengan dirinya. Exsel tidak mau egois, apa lagi kini Putri sudah mengetahui bahwa dirinya laki-laki Impoten. Sudah dipastikan Putri pasti tidak akan mau hidup dengannya lagi. Pikir Exsel.


Padahal sebaliknya, Putri sangat mencintainya. Putri tak ingin meninggalkan Exsel dalam kondisi suaminya itu seperti sekarang ini.


Sebenarnya hanya tentang waktu saja, pikiran mereka bertolak belaka. Keduanya salah sangka.


"Apa kamu yakin akan berpisah dengan Putri?" tanya Mamah Exsel. Wanita itu seolah tau apa yang kini tengah dipikirkan Exsel.


Exsel menoleh kearah Mamahnya, untuk sesaat Exsel terdiam.


"Iya," jawab Exsel kemudian.


"Yakin?" tanya Mamahnya lagi.


"Tidak!"

__ADS_1


"Lalu?"


"Mah, mengerti. Hargai keputusan aku," ucap Exsel.


"Bagiamana Mamah mengerti Exsel? Kamu bilang kamu akan menceraikan-nya, kamu bilang juga tidak yakin untuk menceraikan-nya?" pekik Mamah Exsel.


"Mah, aku mencintai Putri. Tapi untuk melanjutkan pernikahan ini, aku tidak bisa! Aku tidak membahagiakannya Mah. Perpisahan saat ini yang terbaik untuk aku dan Putri." Exsel mengalihkan pandangannya dari sang Mamah.


"Apa lagi sekarang Putri sudah mengetahui kondisi aku Mah. Aku hanya laki-laki yang tak berguna!" lanjut Exsel. Matanya memerah, menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya.


"Tidak Exsel. Justru Putri tidak mau meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini, dia sangat mencintai kamu Exsel. Jangan mengambil keputusan sepihak, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari!"


"Aku tidak mau dikasihani Mah."


"Exsel bukan itu maksudnya---"


"Sudahlah Mah, lebih baik Mamah keluar. Maaf Mah, Exsel butuh waktu sendiri," ucap Exsel.


"Baiklah Mamah akan keluar. Tapi Mamah harap kamu pikirkan lagi keputusan kamu itu, Mamah sayang sama kamu Exsel. Mamah tidak mau kalau kamu menyesal di kemudian hari. Ingat ikuti kata hatimu! Putri tidak seperti yang kamu pikirkan!" ucap Mamah Exsel. Lalu wanita itu melangkahkan kakinya keluar.


Setetes air mata terlihat keluar dari sudut mata Exsel.


Harus bagaimana Exsel sekarang? Apa benar Putri menerima kekurangannya itu? Apa suatu hari Exsel bisa sembuh? Bagaimana kalau tidak. Tidak mungkin Putri hidup selamanya dengan suami yang tidak bisa memberikan nafkah batin untuknya bukan? Cepat atau lambat pasti Putri pergi juga!


"Ya tuhan, harus bagaimana aku sekarang?" gumam Exsel.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2