
Exsel baru saja menyelesaikan pekerjaan. Waktu sudah menunjukan jam 9 malam. Entah mengapa sedari tadi Exsel merasakan hatinya tak karuan.
Ia teringat terus pada istrinya.
Setalah membereskan meja kerjanya, Exsel pun berajak dari ruangannya, lalu meninggalkan kantornya itu untuk segara pulang ke Rumah.
Exsel mengecek ponselnya sebelum ia melajukan mobilnya.
"Kenapa Putri tidak ada kabar ya hari ini?'' gumam Exsel. Setalah mengecek ponselnya. Memang tidak ada pesan atau pun panggilan masuk dari istrinya itu.
Tidak seperti biasanya, biasanya Putri selalu memberi kabar padanya. Tak mau berpikir yang tidak-tidak, akhirnya Exsel pun mulai melajukan mobilnya.
Sekitar menempuh berjalan kurang lebih setengah jam. Akhirnya Exsel sampai.
Asisten rumah tangga terlihat menyambut Exsel.
Membukakan pintu untuk majikannya itu.
"Bi, Putri kemana?" tanya Exsel.
"Non Putri belum pulang Tuan. Tadi siang dia pergi, tapi bibi gak tau Non pergi kemana," jawab Bibi.
"Dari siang Bi?" Exsel nampak terkejut. Pergi dari siang, tapi sampai malam begini, istrinya itu belum pulang juga, kemana sebenarnya Putri?
"Apa tadi Putri gak bilang mau kemana Bi? Atau menitip pesan gitu?" tanya Exsel lagi.
"Tidak Tuan, tapi saya sempat liat Non menerima telepon, tapi gak tau dari siapa. Setalah itu Non langsung pergi Tuan," jelas bibi.
"Oh gitu ya Bi, oke makasih ya Bi."
"Sama-sama Tuan, kalau begitu bibi kebelakang lagi."
Exsel menganggukkan, lalu Asisten rumah tangganya itu pun berlalu dari hadapannya.
Exsel mencoba menghubungi Putri, mengirim pesan dan menelponnya. Namun ponsel Putri seperti tidak aktif. Karna beberapa kali Exsel mencoba menghubunginya, nomer ponsel istrinya itu sedang di luar jangkauan.
"Put, sebenarnya kamu kemana? Kanapa belum pulang juga? Dan kenapa kamu tidak memberi tahu aku, kamu mau pergi kemana. Biasanya juga selalu mengabari aku," batin Exsel.
"Apa Putri ke Rumah Ibu?" gumam Exsel. Lalu Exsel mencoba menelpon ke nomer ponsel Ibu Indri. Panggil terhubung, namun tidak ada sahutan dari sebrang sana, telpon Exsel tidak diangkat oleh Ibu Indri. Exsel mencoba lagi, namun jadinya tetap sama, tidak ada jawaban dari sebrang sana.
__ADS_1
"Kenapa Ibu tidak mengangkatnya!"
Lalu Exsel mencoba menghubungi nomer ponsel Siska. Lagi-lagi hasilnya adik tiri Putri itu tidak mengangkatnya.
"Sialan!" pekik Exsel.
"Sebaiknya aku ke Rumah mereka saja!"
Exsel kembali melangkah kakinya, keluar dari rumahnya itu. Dengan langkah yang cepat Exsel menuju mobilnya, lalu masuk, dan melaju mobil tersebut menuju Rumah ibu tiri Putri.
***
Sementara itu, di Rumah Ibu tiri Putri.
"Bu, Exsel menelpon aku," ucap Siksa pada Ibunya, wajah wanita itu terlihat sangat panik.
"Apa? Jadi dia juga menelpon mu?"
"Iya Bu, apa Ibu juga sama?"
"Iya, Sis. Bagiamana ini?" Wajah keduanya terlihat begitu panik.
"Tapi, kalau nanti dia ke sini gimana Sis?"
"Biarin aja Bu, bilang aja kita gak tau. Kita harus pura-pura tidak tau, terus panik nantinya."
"Apa nanti Exsel bakalan percaya?"
"Ya, gak tau juga sih Bu. Tapi ya kita coba aja. Lagian menurut aku, dia gak akan peduli sama si Putri, gak bakal ke sini dia. Sekarangkan dia lagi sibuk ngurusin masalahnya sendiri."
"Masalah? Maksud kamu?" tanya Ibu Indri.
"Ibu ketinggian informasi ya! Bu, kemarin itu Exsel sempet viral. Ternyata suami si Putri yang tampan dan mapan itu, Pria impoten. Pria cacat. Kalau aku jadi si Putri sih ogah, masih bertahan sama dia."
"Jadi semua orang sudah tau kalau Exsel emang pria impoten? Putri juga sudah tau?" tanya Ibu Indri lagi.
"Iya Bu, tapi tunggu! Kok Ibu keliatan biasanya aja sih. Emang Ibu gak kaget apa?"
"Ibu udah tau lebih dulu kali. Makanya waktu itu Ibu jodohin si Putri sama Exsel, bukan sama kamu!"
__ADS_1
"Jadi selama ini Ibu sudah tau? Kenapa Ibu tidak memberi tau aku sih Bu?"
"Emang penting hah? Sudahlah, jangan pikirkan hal yang gak penting! Yang harus kita pikirkan sekarang, gimana caranya biar si Exsel itu percaya sama kita.
Ibu yakin, dia pasti ke sini Siska!"
"Kalau si Exsel gak percaya. Ya sudah, kita cerita saja yang sebenarnya Bu. Lagian biarin aja si Putri nikah sama Pak Andika. Biarkan dia cerai dari si Exsel itu!"
"Kanapa kamu bicara seperti Siska?"
"Ck, Ibu dengar ya. Kalau si Putri nikah sama Pak Andika, kita bisa kaya raya Bu. Terus kalau di sampai cerai sama Si Exsel kita suruh si Putri buat minta harta gono-gini sama dia. Mantapkan Bu," jelas Siska.
Ibu Indri terlihat memakirkan ucapan anaknya itu.
Lalu beberapa detik kemudian, wanita parubaya itu tersenyum lebar.
"Benar kamu Sis. Ah, kamu memang sangat pintar." Ibu Indri memuji anak tersayang itu.
"Iya dong, Siska gitu loh," sahut Siska anggkuh.
"Apa gini aja Bu," ucap Siska.
"Apa?" tanya Bu Indri penasaran.
Lalu Siska mendekatkan bibirnya ke telinga sang Ibu, membisikan sesuatu.
"Gimana Bu?"
"Itu ide yang sangat bagus Siksa."
Bersambung....
Like
Komen
Vote
Jangan lupa ya.
__ADS_1
Terima Kasih.