
Siska terus menggedor-gedor pintu sebuah ruangan.
Tepatnya di kediaman Andika, wanita itu terlihat sangat kesal, raut wajah kemarahan juga terlihat di sana.
"Hey, buka pintunya..." teriak Siska, tanganya sedari tadi tidak berhenti menggedor pintu ruangan tersebut.
Namun sayangnya, sedari tadi tidak ada yang menyahutnya, tidak ada pula yang membukakan pintu tersebut.
"Ini semua gara-gara kamu Putri! Sialan, lihat saja jika aku sudah keluar dari sini! Aku akan buat perhitungan sama kamu!'' Siska mengepalkan kedua tangannya geram.
Di saat seperti itu, ia masih saja menyalahkan orang lain. Bukannya introspeksi diri.
Kemudian Siska mencari cela, ia mencari jalan keluar lain, bagaimana pun caranya, ia harus bisa kabur dari sana. Tak sudi rasanya dia menikah dengan sang Lintah darat, si Andika itu.
Membayangkannya saja, sudah cukup membuat Siska menggeridikkan bahunya. Menikah dengan Andika?
Ya, dari segi fisik sih, masih okelah. Walaupun usianya sekitar kepala empat, tapi masih terlihat segar bugar dan berkarisma.
Tapi, mengingat lagi. Bahwa si Andika itu sudah mempunyai istri empat, lah masa iya, Siska jadi istri ke Lima! Apa kata dunia!
Huhu, ingin rasanya Siska menangis memikirkan nasibnya itu. Mana, istri-istri Andika itu, sangat seram kelihatannya. Tadi saja, pas Andika membawa Siska ke rumah utamanya itu. Siska sudah di sediakan tatapan-tatapan yang sulit diartikan oleh empat istri laki-laki itu, tatapannya seperti ingin menerkam.
"Tidak, tidak, tidak...." teriak Siska, ia mengacak rambutnya kasar. Ah, sungguh membuatnya frustasi memikirkan hal tersebut.
Kemudian raut wajah Siska berubah sendu, seperti kehilangan semangatnya.
"Ibu, tolong aku..." lirihnya.
Brakk...
Tiba-tiba pintu terbuka sangat keras. Siska langsung melihat kearah pintu tersebut. Nampak seorang laki-laki memasuki ruangan itu, laki-laki itu tersenyum smirk, sambil berjalan mendekati Siska. Ya, dia adalah Andika.
__ADS_1
"Hay, calon istri ke Lima!" sapa Andika, yang kini sudah berada tepat didepan Siska. Andika mencengkram dagu Siska membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Lepaskan aku!" teriak Siska, namun terdengar suaranya tidak jelas, karna dagunya masih di cengkraman oleh laki-laki itu.
"Hahaha..." Tawa Andika menggema, lalu ia melepaskan cengkraman tangannya itu, dari dagu Siska dengan kasar. Membuat Siska kehilangan keseimbangan, hampir saja terhuyung.
"Baiklah, aku akan melepaskan mu!" lanjut Andika.
Seketika wajah Siska langsung sumringah, dengan mata yang berbinar menatap Andika, tak percaya. Semudah itukah?
"Tapi..." Andika berkata kembali, menjeda ucapannya sejenak.
"Keluar dari ruangan ini! Silahkan kau menikmati kemewahan rumah calon suamimu ini Sayang!" Andika mengedipkan matanya sebelah pada Siska.
Ouwww... Rasanya Siska ingin muntah.
"Ingat, jangan berpikir kau bisa kabur dari sini! Dan jangan membuat ulah, karna keempat istriku akan mengewasimu!" lanjut Andika. Lalu ia menepuk tangan beberapa kali, seperti sedang memberi kode.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian, ke empat istrinya muncul di belakang laki-laki itu.
"Dasar! Laki-laki uwedah!" gerutu Siska dalam hatinya.
Andika membalikan tubuhnya, ia menatap keempat istrinya itu.
"Oke, aku ada urusan! Kalian jaga wanita itu!" ucap Andika, kepada istri-istrinya itu. Wanita-wanita itu mengangguk patuh.
Setalah itu, Andika berlalu dari sana.
Siska menundukan kepalanya. Ia tak berani mengangkat kepalanya, apa lagi kini ke empat istri Andika itu tengah menatapnya.
Dari sudut matanya, Siska dapat melihat, salah satu istri Andika terlihat memberi sebuah isyarat. Dan yang lain terlihat menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Lalu mereka berjalan mendekati Siska, tiba-tiba lutut Siska terasa lemas, semua badannya gemetaran.
"Apa yang akan mereka lakukan padaku!" batin Siska.
***
Sementara itu, seorang wanita parubaya, dengan penampilan sosialita, padahal aslinya saat ini ia sedang menderita.
Ya, Bu Indri. Wanita itu terlihat memasuki sebuah gedung kantor cukup besar, dengan gayanya yang anggkuh. Wanita itu berjalan menuju repsesionis.
"Selamat siang Ibu, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang wanita cantik dengan ramah pada Ibu Indri.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini!" jawabnya Angkuh.
"Maaf dengan Ibu siapa?"
"Indri."
"Baik Bu, Ibu sudah di tunggu di ruangan beliau. Ada di lantai 11."
"Baik. Terima kasih!"
Ibu Indri berajak dari sana, ia berjalan menuju lift.
"Semoga semuanya berjalan lancar! Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kalian berdua bahagia di atas penderitaan aku dah anakku!" gumam.
Bersambung...
Jangan lupa, like, komen dan Votenya.
Terima kasih.
__ADS_1
Lanjut up, nanti malam ya.
Masih ada kerjaan, heheh