Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 32 : HTS


__ADS_3

Pagi ini Putri tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya, Exsel terlihat sudah duduk di kursi meja makan tersebut, dengan mata yang sedari tadi tidak lepas memandangi Putri, yang sangat cekatan menyiapkan sarapan untuknya.


"Ayo di makan, Mas!" ucap Putri, sambil menyodorkan satu piring nasi goreng ke hadapan suaminya itu, lalu Putri menarik kursi meja makan yang berada di samping Exsel dan duduk di sana.


"Terima kasih, Sayang." Exsel tersenyum tulus, lalu mulai menyantap nasi goreng buatan istrinya itu. Seperti biasa, masakan sang istri memang yang terbaik menurut Exsel. Apa lagi nasi goreng tanpa kecap buatan Putri, itu memang makanan favorit Exsel.


Mereka menikmati sarapan pagi itu dengan nikmat, sambil mengobrol hangat. Tak lama kemudian, mereka terlihat sudah menghabiskan sarapan mereka masing-masing.


Exsel berpamitan untuk berangkat menuju kantornya.


"Sayang, aku berangkat dulu ya," pamit Exsel seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, Mas." Putri ikut beranjak.


Lalu mereka berjalan keluar rumah tersebut, Putri mengantarkan kepergian suaminya sampai depan teras rumah mereka.


Putri meraih tangan Exsel, mencium punggung tangan suaminya itu, sebelum Exsel berajak dari sana.


"Mas pergi dulu ya, Sayang. Baik-baik di rumah, kabari Mas kalau ada apa-apa," ucap Exsel, lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.


"Iya Mas. Hati-hati ya!" pesan Putri, langsung diangguki oleh Exsel. Exsel berjalan menuju mobilnya, Putri memandangi punggung suaminya itu, dengan senyuman yang lebar.


Putri melambaikan tangan saat mobil Exsel berlalu dari sana. Exsel tersenyum, lalu membalas lambaian tangan istrinya itu. Dan mobil Exsel pun mulai melaju menjauh meninggalkan rumah tersebut.


Putri kembali masuk ke dalam rumahnya, dengan senyuman yang masih belum redup menghiasi wajah cantiknya.


Membuat Bibi yang tengah membereskan meja makan, terlihat keheranan melihat tingkah majikannya itu.


"Bi..." sapa Putri, sambil menghampiri Asisten rumah tangganya itu.


Bibi tersenyum, membalas sapaan majikannya itu.


"Biar aku bantu," lanjut Putri. Sambil mengambil piring kotor lalu membawanya ke dapur.


Bibi hanya mengangguk, karna percuma melarang majikannya itu, seperti yang sudah-sudah. Walaupun sudah di larang, Putri tetap melakukannya. Setalah itu bibi mengikuti Putri menuju dapur membawa gelas kotor, bekas minum majikannya itu.


Putri terlihat sudah berkutat, mencuci piring-piring kotor yang ia bawa tadi.


"Biar, bibi saja Non." Bibi mencoba mengambil alih, namun dengan cepat Putri menolaknya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bi, cuman dikit ini!" ucap Putri sambil terus menerus kegiatannya itu.


Bibi pasrah, wanita parubaya itu menghelai napasnya, lalu membantu Putri mengelap piring yang sudah di cuci oleh wanita itu.


Sudut mata Bibi masih memperhatikan tingkah majikannya itu, semakin di buat heran. Karna Putri masih senyum-senyum sendiri. Ada apakah gerangan? Pikir Bibi.


"Non, kayanya lagi bahagia ya?" tanya Bibi, mulai membuka percakapan mereka kembali.


"Maksud Bibi?" Putri bertanya balik, karna tidak mengerti apa maksud pertanyaan wanita parubaya itu.


Putri melihat kearah Bibi, dengan wajah nampak kebingungan.


"Itu si Non, dari tadi senyum-senyum sendiri. Kalau lagi bahagia bagi-bagi Non,'' jelas Bibi, sambil terkekeh pelan.


"Oh itu. Iya, aku lagi bahagia Bi," Putri tersenyum kembali.


"Wah, bahagia karna apa ini? Bibi jadi kepo!" Bibi tertawa pelan.


"Ih, Bibi pengen tau aja ah!" Putri ikut tertawa.


"Kan, Bibi bilang, Bibi jadi kepo Non, tadi." Bibi nampak salah tingkah.


"Wah," Bibi tersenyum lebar, ia terkejut, sekaligus ikut serta bahagia. "Syukurlah Non, akhirnya. Tuan mau juga!" lanjut Bibi.


"Iya Bi. Semoga Mas Exsel bisa cepat sembuh, ya Bi," ucap Putri penuh harap.


"Amin..., pasti sembuh Non. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kalau kita mau berusaha, berdoa dan berikhtiar. Tuhan pasti memberikan jalannya."


"Iya Bi, semoga ada keajaiban."


"Kapan Tuan akan berobatnya Non? Si bibi ditinggal sendirian dong!"


"Masih belum di tentukan sih kapannya! Tapi secepatnya Bi. Ya mungkin nanti Bibi ditinggal sendiri, tapi gak lama kok Bi. Apa bibi mau ikut hmm?" Putri tersenyum menggoda wanita itu.


"Ya gak Non, kalau bibi ikut siapa yang jaga rumah. Terus, kalau nanti Tuan sembuh, pastikan kalian bakalan cepat-cepat anu. Ya, si bibi gak mau jadi pengganggu!''


"Hahaha..." Putri tertawa.


"Anu apa Bi?" lanjut Putri bertanya. Sebenarnya Putri tau apa maksud perkataan Bibi tadi, namun Putri sengaja berpura-pura tak mengerti apa maksud ucapan Bibi. Ah, rasanya Putri malu sendiri, membayangkan, kalau nanti Exsel sembuh dan mereka, ah...

__ADS_1


"Hus, kenapa otakku jadi omes begini!" gumam Putri.


(Omes: Otak Mesum) Wkwkwk...


"Ah, si Non, suka kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tau!''


Lalu, ditengah-tengah percakapan mereka itu, tiba-tiba terdengar gedoran pintu yang sangat keras. Membuat Putri dan bibi langsung menyudahi percakapan mereka.


Mereka terlihat terkejut dan sama-sama bingung.


"Siapa ya Bi?" tanya Putri.


"Tidak tau Non, biar Bibi liat," jawab Bibi. Seraya berjalan meninggalkan dapur, melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah tersebut.


Putri yang penasaran itu, ia mengikuti bibi.


"Siapa ya? Apa jangan-jangan itu si lintah darat Andika?" gumam Putri.


Bersambung...


Cie di gantung...


Mohon sabar, ini ujian.


Heheh, dalam damai guys.


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terima kasih.


Ada yang penasaran itu siapa? Tara....


Tunggu ngetik dulu bab selanjutnya.


Kalau gak dusta, malam ini aku crazy up.


Salam sayang dari Author remahan.


I love u...

__ADS_1


__ADS_2