
Exsel masih setia, berdiam diri di dalam kamar.
Semantara kedua orang tuanya kini tengah berbincang hangat di ruang tengah bersama sang menantu. Mereka sengaja mengajak Putri mengobrol, agar menantunya itu tidak terlalu banyak pikiran.
Mereka tau Putri tertekan, jadi untuk beberapa hari kedepan mereka akan menginap di rumah anak dan menantunya itu.
"Oh iya Put, gimana kabar Ibu kamu? Sudah lama sekali rasanya Mamah tidak bertemu dengan Ibu Indri!" ucap Mamah Mawar.
"Putri juga gak tau Mah. Belakangan ini Ibu susah sekali di hubungi," ucap Putri dengan lirih.
Ya memang belakangan ini, Ibu Indri, Ibu tirinya Putri susah sekali di hubungi, dan sudah 2 bulan lebih, wanita itu tidak mengunjungi Putri. Biasanya 1 bulan sekali Ibu tirinya itu akan datang mengunjunginya. Namun bukan menengok Putri, tapi meminta uang pada Putri. Ibu tirinya akan datang jika dia membutuhkan Putri, tepatnya uang Putri.
"Bagaimana kalau besok kita mengunjungi mereka?"
"Boleh Mah," sahut Putri.
***
Malam harinya.
Usai melakukan makan makan malam, Putri langsung ke kamarnya, di sana nampak sang suami, Exsel sudah berbaring di atas kasur dengan mata yang sudah terpejam.
"Apa Mas Exsel sudah tidur?" gumam Putri.
Putri pun berajak naik ke atas kasur, ia membaringkan tubuh di samping Exsel dengan hati-hati, Putri menghadap kearah Exsel yang membelakanginya.
Menatap nanar punggung suaminya itu, ingin rasanya Putri memeluk Exsel. Dia sangat merindukan suami itu.
Namun Putri tak berani, karna kondisi yang tidak memungkinkan. Tapi Putri berpikir kembali, hanya memeluk saja, tidak apa-apa mungkin, lagian Exsel sudah tidur, ia tidak akan tau kalau dirinya memeluk Exsel. Pikir Putri.
Perlahan, walaupun ragu akhirnya Putri melingkarkan tangannya di pinggang suaminya itu.
"Aku rindu kamu Mas, marahnya jangan lama-lama ya! Aku mencintaimu, aku tidak mau berpisah denganmu," ucap Putri pelan, lalu ia mulai memejamkan matanya, beberapa menit kemudian Putri tertidur.
Exsel membuka matanya saat mendengar dengkuran halus dari bibir istrinya itu. Sebenarnya Exsel belum tertidur, ia hanya pura-pura tidur. Exsel mendengar semua ucapan Putri barusan.
Tak sadar Exsel tersenyum, ia bahagia mendengar Putri berucap seperti tadi. Exsel mengelus tangan Putri yang melingkar di pinggangnya itu.
"Aku juga mencintaimu Put, sangat! Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku sempat meragukan kamu," ucap Exsel. Lalu ia membalikan posisi tidurnya menghadap Putri.
Exsel membalas pelukan Putri, lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.
"Selamat tidur sayang," ucapnya seraya ikut memejamkan mata, tak lama Exsel pun menyusul Putri, masuk ke dunia mimpi mereka masing-masing.
***
Pagi harinya.
Sinar mentari menerobos masuk melalui cela jendela. Membuat Putri terbangun, perlahan ia membuka matanya. Putri terkejut saat melihat wajah Exsel tepat di depan wajahnya. Suaminya itu sepertinya masih tertidur.
__ADS_1
Putri menatap lekat wajah suaminya itu, lalu Putri tersenyum. Ah suaminya itu sangat tampan jika sedang tidur begini. Tapi tunggu, Putri merasakan sesuatu yang melingkar di pinggang. Loh, bukannya ini tangan Exsel. Apa semalam Exsel membalas pelukan Putri? Apa itu tandanya suaminya itu sudah tidak marah lagi. Ah, jika itu benar, senangnya Putri.
Tangan Putri mengelus pipi Exsel dengan lembut, "Mas, kamu sangat tampan kalau sedang tidur begini," ucapnya pelan sambil terkekeh.
Setalah puas menatap wajah suaminya itu, perlahan Putri menggeserkan tangan Exsel dari pinggangnya. Setalah itu Putri menurunkan kaki, untuk bangun.
"Mau kemana?" tanya Exsel sambil meraih tangan Putri, lalu menariknya, membuat Putri langsung terjatuh ke pelukannya.
"Katanya semalam bilang rindu," lanjut Exsel berbisik.
Wajah Putri langsung merah merona. Jadi semalam Exsel mendengar semua ucapannya. Apa Exsel sudah tidak marah lagi sekarang? Lihatlah sikapnya kembali manis seperti ini.
"Mas udah gak marah?" Akhirnya Putri membuka suaranya. Bertanya pada Exsel.
"Maafkan aku Put, aku egois. Aku sangat mencintai kamu," ucap Exsel seraya mengelus kepala Putri.
"Mas tidak perlu minta maaf, sebelum Mas minta maaf, aku sudah memaafkan Mas kok," ucap Putri tulus.
"Justru aku yang harusnya minta maaf," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah yang lalu biarlah berlalu. Sekarang Mas mau tanya sama kamu? Apa kamu yakin masih mau hidup dengan Mas, yang tidak sempurna ini?" tanya Exsel.
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini Mas. Aku sangat mencintai Mas, apa pun kondisi Mas aku sudah menerimanya," jawab Putri.
"Tapi penyakit Mas ini, bukan penyakit biasa Put!"
"Bagaimana kalau Mas tidak sembuh? Apa kamu masih mau bersama Mas?"
"Kita belum mencobanya Mas, tidak ada penyakit yang tidak bisa di sembuhkan bukan?"
Exsel menganggukkan, lalu ia mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya itu.
"Semoga ada keajaiban ya sayang, agar Mas bisa membahagiakan kamu," ucap Exsel, lalu mendaratkan kecupan penuh kasih sayang di kening istrinya itu.
"Amin, semoga Mas!"
"Ya sudah sana mandi, tubuh kamu bau acem," bisik Exsel.
"Mas, ih nyebelin..." teriak Putri dengan manja.
Exsel tertawa, membuat Putri langsung menekuk wajahnya.
"Bencanda sayang," goda Exsel, sambil mencolek dagu istrinya itu.
"Ya udah, aku mandi dulu."
"Ya udah sana," titah Exsel.
"Lepasin dulu tangan Mas-nya!"
__ADS_1
"Eh iya lupa." Exsel melepaskan pelukannya. Putri pun berajak dari sana, ia berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Exsel menunggu Putri selesai, untuk bergantian mandi.
Sambil menunggu Putri, Exsel terlihat menaikan ponselnya. Ia menghubungi Doni, untuk menanyakan kondisi perusahaannya.
Setalah 20 menit kemudian, Putri terlihat sudah selesai membersihkan tubuhnya. Keluar dengan menggunakan handuk kimono dan handuk kecil yang melilit di atas kepalanya.
Leher janjang dan kaki mulus Putri, membuat Exsel langsung menelan silivanya.
"Ya tuhan, godaan apa lagi ini?" gumam Exsel. Hasrat terpendam Exsel tiba-tiba membara.
"Mas, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Putri. Ia keheranan melihat suaminya yang memperhatikannya dengan tatapan aneh, menurut Putri.
"Emm, enggak kok sayang! Eh, iya Mas mandi dulu ya," ucap Exsel dengan gugup lalu ia segera bergegas ke kamar mandi.
Putri mengerutkan kedua alisnya, aneh. Pikirnya.
"Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" gumam Putri sambil memperhatikan tubuhnya di hadapan cermin.
Setalah itu Putri pun segera berganti pakaian, lalu menyiapkan baju ganti untuk semuanya. Setelah semua selesai. Putri pun berajak untuk menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi sayang," sapa Mamah Mawar, mertuanya itu terlihat tengah menata sarapan di atas meja makan.
Ah rasanya Putri malu, bukannya ia membuat sarapan untuk mertuanya, ini malah sebaliknya.
"Pagi Mah," balas Putri.
"Exsel mana sayang? Belum bangun?"
"Udah kok Mah, Mas Exsel lagi mandi," jawab Putri sambil tersenyum.
"Tunggu! Apa kalian sudah baik-baik saja?"
Putri mengangguk, lalu tersenyum kembali.
"Ah syukurlah!" seru Mamah Mawar, ikut serta bahagia.
Bersambung...
Like
Komen
Vote
Tinggal jejak kalian.
Terima kasih.
__ADS_1