Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 35 : HTS


__ADS_3

"Bos, pak Abas gak masuk kantor hari ini!" ucap Doni, lewat sambungan telepon.


"Sial, seperti dia sudah tau!" Exsel berdecak kesal.


"Tidak apa-apa, kita langsung ke tempat wanita itu saja!" lanjut Exsel, lalu mematikan sambungan telepon tersebut.


Exsel berajak dari kursi kebesarannya itu. Lalu berajak keluar.


Doni terlihat sudah menunggu Exsel di dalam mobil.


Exsel langsung memasuki mobil tersebut.


Dan mobil itu pun melaju meninggalkan gedung kantor Exsel.


"Bos, kita akan melakukan apa sama Bu Liany dan Pak Abas?" tanya Doni, sekilas melirik kearah Exsel, lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya.


Exsel tak menjawab, ia hanya melirik pada Doni, dengan tatapan sinis.


"Aku tidak mau masuk penjara ya Bos!"


"Kau pikir kita akan membunuh mereka hah? Aku masih waras!" pekik Exsel.


"Hehe, ya kali aja gitu!"


"Dasar bodoh!"


"Ya, ya, ya. Aku memang bodoh! Puas kau..." sahut Doni kesal.


Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah rumah, rumah mewah dengan desain modern. Ya, rumah itu adalah rumah Liany. Liany memang pengusaha sukses, karna memang wanita itu cerdas, tapi sayangnya wanita itu, tidak memanfaatkan otaknya yang cerdas itu, berpikir sebelum bertindak.


Apa yang ia inginkan, harus tercapai, sekali pun harus berbuat kotor dan licik. Menyebalkan bukan!


Seperti yang ia lakukan pada Exsel, tidak bisa memiliki laki-laki itu, maka ia ingin menghancurkannya. Tapi sayangnya, Exsel bukan laki-laki sembarangan. Tidak semua itu menjatuhkan seorang Exsel. Liany bermain-main dengan orang yang salah.


Exsel dan Doni turun dari mobil, seorang Security terlihat langsung menghampiri mereka.


"Maaf, cari siapa ya?'' tanya Security tersebut dengan sopan.


"Saya cari Ibu Liany, apa ada di rumah Pak?" jawab Doni.


"Maaf ada keperluan apa ya?"


"Sudah jangan banyak tanya! Ada apa tidak?" Kini Exsel yang menjawab. Dengan nada yang tidak bersahabat. Kesal, karna Security itu mengulurkan waktunya. Pikirnya.


Doni menyenggol sikut Exsel, memberi isyarat agar Bosnya itu sabar. Exsel langsung berdecak kesal.


"Maaf Pak, apa Ibu Liany ada?" tanya Doni kembali.


"Maaf Tuan, Ibu Liany tidak ada di rumah."

__ADS_1


"Emm, kemana ya Pak?"


"Saya kurang tau Tuan."


"Jangan berbohong Pak!" sahut Exsel. Ia tak percaya dengan ucapan Security tersebut. Tidak mungkin Liany tidak ada. Exsel jelas melihat mobil wanita itu ada, serta di sana ada mobil Pak Abas juga, Exsel mengenalinya.


"Saya tidak bohong! Lebih baik Tuan pergi dari sini!" usir Security tersebut.


Exsel melirik kearah Doni, memberikan isyarat. Doni mengangguk. Setalah itu Doni, mendekati Security tersebut, dan menangkap tubuh Security tersebut.


"Hey, apa yang kalian lakukan!" teriak Security tersebut, ia meronta, mencoba melapaskan tangan Doni yang melingkar di tubuhnya, membuatnya susah bergerak.


Dengan cepat Exsel mendorong gerbang rumah tersebut, untunglah gerbang itu tidak di kunci, setalah itu Exsel pun masuk ke dalam sana. Setalah melihat Exsel masuk, Doni melepaskan Security tersebut, lalu mendorong tubuh Security tersebut, membuat Security langsung terhuyung, jatuh.


"Aduh, sakit sekali eperibadeh..." teriak Security sambil mengelus sikutnya yang terbentur, meringis kesakitan.


Melihat Security itu terjatuh, Doni segera mengambil kesempatan, ia masuk menyusul Exsel, dan menutup gerbang tersebut serta menguncinya. Membuat Security itu tidak bisa masuk.


"Maaf ya Pak, makanya jangan suka bohong. Nanti digigit nyamuk ompong!" teriak Doni, sambil tertawa penuh kemenangan. Lalu ia masuk menyusul Exsel kembali dan tak lupa membawa kunci gerbang tersebut.


"Bukan nyamuk ompong, tapi kambing ompong Tuan," sahut Security itu. Lalu ia berdiri.


"Aduh, sakit sekali..." Ia berjalan menuju pintu gerbang, berniat ingin masuk dan mencegah Doni dan Exsel.


"Weh, Weh. Kenapa gak bisa di buka?" ucapnya.


"Aduh Gusti, gimana nasib aku nanti, pasti bakalan dipecat sama Nyonya ini," ucapnya sendu.


Sementara itu, Exsel dan Doni langsung masuk ke dalam rumah tersebut, tanpa permisi, membuka pintu dengan keras.


"Kita harus segara pergi dari sini!" Terdengar suara orang mengobrol dari sebuah ruangan. Namun percakapan mereka berhenti, seperti mereka terkejut saat mendengar bunyi pintu terbuka keras.


"Maaf, seperti kalian sudah telat!" ucap Exsel.


Kedua orang tersebut langsung menoleh kearah Exsel, keduanya langsung terdiam, menatap Exsel terkejut.


"Pa--pak Exsel..." ucap Pak Abas terbata-bata, lalu laki-laki itu langsung menundukan kepalanya.


Sementara Liany, sekita wanita itu merubah raut wajahnya, yang tadinya terkejut. Mencoba biasa-biasa saja. Mencoba menyembunyikan ketakutan.


"Eh, Pak Exsel dan Pak Doni? Ada apa ya ke sini?" tanya Liany, wanita itu menampakan senyuman kikuknya.


"Sial kenapa mereka bisa masuk ke sini? Di mana Security itu!" lanjut Liany berucap dalam hati.


Exsel langsung tersenyum sinis, saat mendengar pertanyaan wanita itu. Perlahan Exsel berjalan mendekati Liany, mengelilinginya. Dengan mata menatap Liany dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Liany, Liany. Kamu masih bertanya apa maksud kedatangan saya kemari?'' ucap Exsel. Ia berdiri tepat di hadapan Liany, membuat wanita itu semakin gugup ketakutan, namun sebisa mungkin masih menyembunyikan rasa itu.


Liany tersenyum pada Exsel. Tanganya terangkat, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Exsel.

__ADS_1


"Apa kau rindu padaku?'' bisik Liany. Tidak tau malunya wanita itu bertingkat seperti itu. Doni yang menyaksikan hal tersebut nampak jijik. Begitu juga dengan Exsel, sementara Pak Abas. Ia tak masih menundukan kepalanya, tak berani sama sekali membuka suaranya. Dia sadar kini dia sedang berhadapan dengan siapa.


Exsel semakin menatap sinis wanita itu, lalu menghempaskan tangan Liany dengan kasar.


"Jangan menyentuhku!" pekik Exsel, kini tatapan berbuah menjadi tatapan penuh amarah.


"Ayolah, Tuan Exsel. Jangan marah seperti itu. Apa kau tidak mau mencobanya denganku, siapa tau senjatamu itu hidup!" ucap Liany, merayu Exsel. Namun diakhiri dengan senyuman yang menyingrai sinis.


Dan ucapan wanita itu, kembali menyinggung Exsel.


"Lebih baik tidak hidup. Dari pada aku harus melakukan dengan wanita rendahan sepertimu!" Exsel menunjuk wajah Liany.


"Hahaha..." Tawa Liany menggema.


"Dasar laki-laki munafik! Malang sekali nasib mu Tuan Exsel." Lyani tersenyum sinis kembali.


"Kau memang mapan, dan juga tampan. Tapi sayangnya kau bukan laki-laki sempurna. Pria impoten!" lanjut Liany.


Exsel mengepal kedua tanganya, rahangnya mengeras. Jika saja Liany bukan wanita, Exsel pasti sedari tadi sudah menghajarnya! Mulut sampah wanita itu harus diberi pelajaran!


Namun sayang, Exsel masih punya nurani. Tidak mungkin ia menghajar seorang wanita! Itu memalukan.


Semarah apapun, Exsel tidak diajarkan untuk kasar pada seorang wanita.


"Sudah puas mulut sampahmu itu berbicara?" tanya Exsel. Ia mencoba menetralkan emosi jiwa yang sedari tadi meronta-ronta. Tidak ada gunanya berbicara terus dengan wanita licik itu. Membuang-buang waktu saja! Pikirnya.


Liany terdiam, wanita itu seperti kehabisan kata-kata.


"Silahkan nikmati detik-detik terakhir mu, berbicara dengan mulut kotormu itu Liany. Karna setalah itu, aku tidak menjamin, kamu bisa berbicar lagi!" lanjut Exsel. Tersenyum menyingrai.


Lalu Exsel beralih menatap Pak Abas.


"Dan kamu Pak Abas, mulai saat ini saya pecat kamu secara tidak hormat, dan tidak akan mendapatkan kompensasi apapun dari kantor saya!" tegas Exsel.


"Ayo Doni, kita tinggal dua orang yang menjijikkan ini," lanjut Exsel mengajak Doni. Doni mengangguk. Lalu mereka pun berlalu dari sana.


"Bagiamana ini Bu, bagaimana nasib saya?" tanya Pak Abas pada Liany.


"Apa kau bisa diam," bentak Liany.


"Sebenarnya apa yang akan dia lakukan padaku?" gumam Liany. Wanita itu terlihat frustasi. Perkataan Exsel tadi, sungguh membuatnya tak tenang.


"Sial, apa rencana mereka!" pekik Liany.


Bersambung...


Jangan lupa, like, komen dan Votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2