
Usai menyantap makan malam, Putri dan Exsel kembali ke kamar. Mereka kini sudah berada di atas kasur, Exsel bersandar di kepala ranjang, dengan Putri yang bersandar di dada bidang milik suaminya itu.
Suasana hening menyelimuti keduanya, baik Exsel mau pun Putri mereka tidak membuka suara. Namun terlihat dari gelagat keduanya, mereka sama-sama gugup.
Bahkan Putri dapat mendengar irama jantung Exsel yang berdetak sangat kencang.
Keduanya larut dalam pemikirannya masing-masing. Exsel yang memikirkan bagaimana ia akan memulai pembicaraannya, seperti yang sudah direncanakan Exsel, saat ini ia akan mengatakan kebenaran tentang kondisinya pada sang istri.
"Mas...''
"Put..." ucap mereka bersamaan, saling memanggil.
"Iya," sahut mereka juga secara bersamaan. Lalu keduanya terkekeh.
"Mas dulu saja, mau bicara apa?" ucap Putri.
"Kami dulu saja," titah Exsel.
Putri mengangguk, lalu ia berajak dari sandaran dada bidang Exsel, Putri menatap Exsel dengan lekat. Exsel membalas tatapan istrinya itu, untuk beberapa detik mereka saling memandang.
"Mas kamu bilang kamu mencintaiku, tapi kenapa kamu tidak pernah memberikan nafkah batin padaku? Aku ini istri sah--mu mas?" ucap Putri dengan lirih pada sang suami.
Deg...
Seperti anak panah yang mengenai sasarannya, Exsel terdiam sejenak.
"Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak bisa melakukan itu padamu!" jawab Exsel, ia memalingkan pandangannya, menghindari tatapan mata istrinya itu.
"Kenapa mas?" tanya Putri. Putri merasakan matanya sudah mulai memanas, beberapa detik kemudian matanya itu terlihat berkaca-kaca. Kecewa, rasanya Putri kecewa dengan jawaban yang Exsel berikan.
__ADS_1
Exsel kembali terdiam, ingin rasanya ia mengatakan yang sebenarnya pada Putri, bahkan memang hal itu sudah di direncanakannya, namun entah mengapa tiba-tiba saja, lidahnya merasa kelu, susah sekali rasanya Exsel ingin berkata-kata.
Exsel merasa saat ini ia adalah seorang manusia pengecut, lemah.
Putri yang mendapati suaminya hanya terdiam, rasanya saat ini kesabarannya benar-benar sudah hilang. Jujur saja Putri lelah.
Cinta? Exsel bilang dia mencintainya, tapi kenapa dia tidak mau menyentuhnya Putri sama sekali. Apa itu yang dinamakan cinta?
Apa salah Putri bertanya seperti itu pada Exsel? Putri itu istri sahnya, apa salah Putri ingin mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Kewajiban suami bukan hanya, memberinya nafkah lahir saja bukan? Batin pun perlu, dan selama ini, Putri tidak pernah mendapatkan nafkah batin sama sekali dari sang suami.
"Lebih baik kita berpisah saja mas!" ucap Putri diiringi dengan air mata yang lolos dari pelupuk mata indahnya.
Deg...
Exsel langsung kembali menatap kearah Putri. Apa Exsel tidak salah dengar barusan? Exsel menatap lekat wajah istrinya itu, ia mencoba mencari cela kebohongan dari sana, tapi tidak. Wajah Putri terlihat serius, wanita itu bersungguh-sungguh mengatakan ingin berpisah dengannya.
"Aku rasa ini yang terbaik untuk kita mas," lanjut Putri, ia menundukan kepalanya, sengaja menghindari tatapan mata Exsel yang menatapnya. Hancur, jangan ditanya, Putri mengatakan kalimat tersebut dengan hati yang benar-benar sakit, hancur berkeping-keping. Ia sangat mencintai Exsel, keputusannya saat ini memang sangat bertentangan dengan hatinya. Tapi di sisi lain Putri juga merasa lelah, sungguh ia lelah, 2 tahun bukan waktu yang singkat, selama 2 tahun memalui bahtera rumah tangga dengan Exsel, memang selama 2 tahun itu, sikap Exsel sangat baik, Putri merasa di cintai, tapi hanya satu masalahnya, Exsel tidak pernah mau memberi nafkah batin untuknya. Apa Putri salah mengambil keputusan ini? Rumah tangga itu bukan hanya soal materi, tapi juga kehangatan dalam hubungan ranjang juga di perlukan bukan?
Putri adalah hidup Exsel.
"Sayang, kamu bercanda, 'kan?" tanya Exsel, ia meraih tangan Putri. Namun dengan cepat Putri menepisnya, membuat Exsel sangat terkejut. Apa Putri bersungguh-sungguh ingin berpisah dengannya?
"Apa kamu lihat aku bercanda mas? Aku lelah mas! 2 tahun mas, 2 tahun aku bersabar, tapi apa? Apa yang aku dapatkan? Aku capek mas, aku lelah, aku hanya manusia biasa mas!" jawab Putri, berbicara dengan nada tinggi, sambil terisak tangis, dadanya benar-benar terasa sangat sesak. Tidak ada lagi pilihan lain, selama ini Putri selalu memberi waktu pada Exsel, bersabar menanti alasan apa yang membuat suaminya itu tidak mau menyentuhnya. Tapi sampai detik ini, tidak ada penjelasan sama sekali yang suaminya itu berikan pada Putri.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kamu Put? Kenapa kamu tiba-tiba meminta kita berpisah?" Exsel kembali meraih tangan Putri, namun lagi-lagi Putri menepisnya, Putri menggeser posisinya menjauh dari hadapannya suaminya itu.
"Kamu masih tanya aku kenapa mas?" Putri mengeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar keterlaluan pikirnya, Exsel masih bertanya dirinya kenapa? Exsel tidak mengerti apa maksud Putri atau hanya pura-pura tidak mengerti?
"Sayang, kita bicarakan ini baik-baik ya! Kamu jangan seperti ini, jangan mengambil keputusan sepihak begini, aku sangat mencintai kamu Put, aku tidak mau berpisah dengan kamu," ucap Exsel, ia mencoba membujuk Putri. Namun sepertinya tidak akan berhasil, Putri seperti sudah bulat dengan keputusannya itu.
__ADS_1
"Tidak mas, sudah cukup! Aku lelah. Bahkan sampai saat ini kamu tidak pernah memberikan alasan yang pasti kenapa kamu tidak mau menyentuh aku? Aku ini istrimu mas, bukan patung, aku manusia bernyawa, punya hati, punya batas kesabaran. Dan saat ini kesabaranku sudah melewati batas, selama ini aku sudah memberikan kamu waktu yang cukup lama untuk menjelaskan alasannya, tapi apa? Aku tidak pernah mendapatkannya mas!" pekik Putri. Ia meluapkan semua isi hatinya, yang selama ini ia pendam. Salahkan jika Putri egois?
"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya sama kamu sekarang!" ucap Exsel dengan lirih. Mungkin ini sudah waktunya, ini waktu yang tepat untuk memberitahu Putri tentang kondisinya.
"Jelaskan mas, apa, kenapa hah?" bentak Putri. Bahkan kini Putri sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Aku...." Exsel menjeda ucapnya, entahlah, lagi-lagi rasanya ia susah sekali untuk berbicara, lidahnya tiba-tiba kelu. Dalam hati Exsel menggerutuki dirinya sendiri.
"Ayolah Exsel, cepat jelaskan pada istrimu, apa yang sebenarnya terjadi padamu, sebelum semuanya terlambat," batin Exsel.
"Aku ti--dak bi--sa, menyen--tuh ka--mu, kar-karna a---aku..." lagi-lagi Exsel menjeda, menggantungkan ucapnya, sial. Rasanya Exsel benar-benar susah untuk mengucapkan semuanya. Berbicara terbata-bata saja rasanya sangat berat lidahnya bergerak.
"Apa mas? Bicara yang benar! Kamu tidak bisa menyentuh aku karna kamu memang tidak pernah ada niat untuk itu, 'kan?" timpal Putri. Putri terus menekan Exsel, membuat Exsel benar-benar terasa terpojokkan.
Ingin rasanya Exsel membantah semua ucapan istrinya barusan, namun lidahnya benar-benar terasa berat untuk berucap.
"Sudahlah mas, sebaiknya kita berpisah saja. Karna itu jalan yang terbaik untuk kita berdua," lanjut Putri dengan berat hati.
"Aku hanya istri status kamu, bukan istri sesungguhnya untuk kamu Mas, aku hanya bisa memiliki cintamu, tapi tidak ragamu, aku hanya istri bayangan kamu saja! Sebaiknya kita berpisah saja!" ucap Putri lagi, sebisa mungkin ia menahan rasa sesak yang semakin menggema di hatinya.
Bersambung....
Like dulu.
Komen dulu.
Vote kalau ada.
Hehe
__ADS_1
Terima kasih.