Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 27 : HTS


__ADS_3

"Santai bro, santai..." ucap Andika, ia mencoba melepas tangan Exsel yang menarik kerah bajunya itu.


"Sialan, cepat katakan di mana istriku, kau mau macam-macam denganku hah?" Exsel melepaskan tanganya dari baju Andika, lalu ia mendorong laki-laki itu, sampai Andika terhuyung ke bawah lantai.


Andika kembali tersenyum sinis, lalu ia bangkit.


Exsel menatap laki-laki itu penuh amarah.


"Aku tidak tau istrimu dimana!"


"Apa kau bilang hah?" Exsel kembali menghantam Andika, namun Doni dengan cepat menahannya.


"Sudah jangan main kekerasan, jangan sampe elo berurusan dengan polisi," ucap Doni, mencoba mengingat Exsel, agar ia tak menghajar Andika, karna itu akan membuat masalah baru untuk mereka.


"Gue gak perduli, kalau pun gue di penjara! Awas jangan halangi gue, gue mau menghabisinya," pekik Exsel melepaskan tangannya dari genggaman Doni.


"Ayo cepat hajar aku," ucap Andika, sengaja memancing Exsel.


"Sialan kau..." Exsel mulai mengerakkan tangan.


"Cukup Exsel!" bentak Doni, lagi-lagi ia menahan Exsel yang akan menghajar Andika.


"Tahan emosi elo, kita ke sini buat mencari Putri bukan? Jangan kotori tangan elo," lanjut Doni.


Exsel terdiam, dengan mata yang masih menatap tajam kearah Andika, sambil mencoba mencerna ucapan Doni. Bener kata Doni, untuk apa dia menghajar Andika, tidak ada gunanya! Yang terpenting saat ini adalah Putri, ia harus secepatnya menemukan istrinya itu.


"Kenapa? Kenapa kau diam?" tanya Andika. Lalu ia tertawa.


"Hahaha..." Tawa Andika menggema, laki-laki itu tertawa dengan begitu kerasnya. Melihat Exsel yang menurutkan tangan, dan terdiam. Andika menganggap bahwa Exsel pecundang.


"Dasar pecundang! Kau takut masuk kantor polisi 'kan?"


"Diam kau, kau pikir aku takut padamu hah? Tidak aku tidak takut sama sekali! Benar kata Doni, melayani hanya membuang waktuku saja, dan mengotori tanganku saja!" sahut Exsel tak mau kalah, ia tersenyum sinis pada Andika.


"Cepat katakan di mana Putri?" tanya Exsel kembali.


"Aku sudah bilang, aku tidak tau wanita itu."


"Jangan berbohong! Kau mau aku laporkan ke polisi, karna sudah menculik istriku hah?"


"Hahaha..." Tawa Andika kembali menggema. Membuat Exsel dan Doni geram melihatnya, namun mereka sebisa mungkin menahan amarah mereka. Percuma melayani lintah darat seperti Andika.


"Silahkan, silahkan kalian laporkan aku ke polisi, aku tidak takut sama sekali," tegas Andika. Memang raut wajahnya nampak tidak ada rasa ketakutan sama sekali.

__ADS_1


"Dan satu lagi, aku tidak menculik istrimu Tuan Exsel yang terhormat. Aku membawa istri karna dia sudah menjadi milikku!" lanjutnya.


"Apa maksud mu?" tanya Exsel. Ia mengepalkan tangannya, bisa-bisa Andika bicara, bahwa Putri itu miliknya.


"Dengar ya! Ayahnya mempunya hutang padaku sebesar 10 miliyar. Dan dia tidak sama sekali membayarnya, karna keburu mati! Dan istrinya si Indri itu tidak bisa membayarnya! Dan untuk ganti maka dia menyerahkan istrinmu itu padaku!"


"Kau pikir istriku barang hah? Seenak saja kau menggantikan dia untuk melunasi hutang Ayahnya!" pekik Exsel.


"Dengar ya istriku, tidak tau apa-apa soal hutang itu! Jangan pernah libatkan istriku!"


"Lalu bagaimana dengan nasib uangku?" tanya Andika.


"Kau tagih saja sama Ibu Indri, kalau tidak kau nikahi saja dia, diakan janda," jawab Doni, tanpa dosa.


Exsel terlihat menahan tawanya. Entahlah, bisa-bisa Doni berbicara seperti itu di saat kondisi tengah genting seperti ini.


"Seleraku masih normal ya, mana mau aku menikah dengan wanita tua itu!"


"Tuan, maaf wanita itu berhasil kabur," tiba-tiba terdengar suara. Anak buah Andika terlihat menghampirinya mereka, dan memberi tahu bahwa Putri berhasil lolos.


"Apa?" tanya Andika kaget. Sambil melihat anak buahnya itu dengan tajam.


Sedangkan Exsel dan Doni, mereka tersenyum dan merasa lega. Mereka yakin, bahwa wanita yang di maksud oleh anak buahnya Andika itu adalah Putri.


"Baguslah, istriku memang pandai bukan? Kau pikir kau bisa semudah itu mendapat dia. Tidak Tuan Andika!" ucap Exsel, tersenyum penuh kemenangan.


"Dan satu lagi! Aku ingat lagi, kalau sampai kau mengganggu istriku lagi. Aku pastikan akan menghancurkan mu. Dengar, aku tidak main-main dengan ucapanku! Kau tau bukan siapa aku? Menghancurkan seorang Andika, hanya butuh satu menit saja bagiku!" lanjut Exsel dengan angkuh, mengancam Andika.


Andika langsung menciut, raut wajah ketakutan terlihat di sana. Tentu saja Andika tau siapa Exsel, dan ancaman itu sangat-sangat menakutkan bagi Andika.


Tapi, sekarang, bagaimana nasib uang 10 miliarnya?


"Ayo Doni, kita pergi!'' Exsel mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Doni mengangguk, lalu mengikuti langkah Bos sekaligus sahabatnya itu.


"Hey, bagaimana nasib uangku..." teriak Andika.


"10 miliyar, bukan sedikit itu. Apa kau tidak kasihan padaku?" teriaknya lagi.


"Kau kawin saja sama Ibu Indri sana!" sahut Doni sambil tertawa. Sementara Exsel ia hanya menggelengkan kepalanya. Mereka terus berjalan meninggalkan rumah tersebut dan memasuki mobil mereka, setelah itu melajukan mobilnya.


"Uangku...." teriak Andika, terlihat frustasi.


"Tau gini gue gak ambil tawaran wanita tua itu, bisa-bisa gue bodoh! Gak mikir dulu, wanita itu bininya si Exsel, pengusaha terkaya di kota ini. Ah bodoh-bodoh..." Andika memaki dirinya sendiri.

__ADS_1


"Besok gue harus minta tanggung jawab lagi sama si wanita tua itu. Atau enggak aku ambil saja itu si Siksa, dia cantik juga!" ucapnya, lalu dengan kesal Andika berjalan menuju kamarnya, sambil meratapi nasib buruk yang menimpanya itu. Ya, Andika menganggap itu nasib buruk baginya, berurusan dengan Exsel adalah mimpi buruk baginya.


Uang 10 miliyar tidak terganti, Putri pergi.


Rugi oh sungguh rugi....


***


Sementara Exsel dan Doni, mereka langsung melajukan mobilnya menuju rumah Exsel.


Mereka yakin Putri pasti sudah pulang, karna sedari tadi keduanya mengamati jalanan, melihat-lihat, ada tidak Putri di sana. Tapi mereka sama sekali tidak melihatnya.


"Mungkin Putri udah pulang Bos!" ucap Doni, melihat wajah cemas Bosnya itu.


"Mungkin iya Don, semoga dia baik-baik saja!" sahut Exsel penuh harap.


"Pasti Bos, Putri itu wanita kuat! Buktinya dia bisa lolos dari si Andika itu."


Exsel hanya mengangguk menanggapi ucapan Doni.


"Oh iya Bos, lalu gimana masalah hutang Ayahnya Putri? Apa Bos tidak ada niatan untuk melunasinya? Terus gimana kalau si Andika itu mengganggu Putri lagi?" cerca Doni.


"Biarkan saja, itu bukan urusan kita! Biar Ibu dan Adik tirinya itu merasa akibatnya! Dan soal Andika, aku rasa ancamanku sudah cukup baginya, aku yakin dia tidak akan berani macam-macam lagi!" jawab Exsel.


"Iya sih, tapi kasian juga Bu Indri sama Siska Bos. Ya, walaupun bagaimana pun mereka tetap keluarganya Putri bukan?"


Exsel terdiam, ada benarnya juga apa yang di katakan Doni. Tapi rasanya dia sangat kesal dengan Ibu dan Adik tiri istrinya itu. Mungkin saat ini, biarkan saja dulu. Biarkan mereka merasakan akibatnya dulu.


"Nanti aku pikirkan lagi," ucap Exsel.


Doni hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Bersambung...


Jangan lupa, like, komen dan Votenya ya.


Maaf belum bisa up banyak.


Terima kasih sudah setia menunggu kelanjutan cerita Putri dan Exsel.


Salam sayang


Naffia Inthan :)

__ADS_1


__ADS_2