
“Mas, bangun sudah siang, kamu gak ngantor?” Putri mencoba membangunkan suaminya yang masih terlelap itu, waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, namun Exsel masih tertidur pulas.
Perlahan Exsel pun membuka matanya, lalu ia terus saat melihat istrinya itu, Putri terlihat sangat cantik pagi ini.
Putri membalas senyuman Exsel. “Bangun yuk, mandi dulu gih. Udah jam 7 tuh, aku udah siapin sarapan buat Mas, nanti keburu dingin loh makanannya, Mas harus ngantor jugakan?” pinta Putri.
“Emm ... ” Exsel menggeliat tubuhnya, entah kenapa tubuhnya kali ini merasa sangat ringan, bukankah seharusnya ia lelah, mengingat semalam ia menghabiskan malam panjang bersama istrinya.
Apa mungkin yang terpendam selama ini sudah tersalurkan, jadi rasanya ringan begini, huh apa yang Exsel pikirkan?
Tatapan Exsel tak lepas menatap istrinya. Membuat Putri jadi salah tingkah sendiri rasanya.
“Mas, jangan gitu ih. Aku malu,” rengek Putri ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Exsel semakin tersenyum lebar, ia menarik tangan putri, membuat Putri hilang keseimbangan dan terjatuh di atas tubuhnya.
“Eh-eh, Mas.” Putri terkejut. Salain terkejut karena ia jatuh ke atas tubuh suaminya, ia juga merasakan sesuatu yang kerasa membentur di bawah sana.
Putri berniat beranjak dari tubuh suaminya itu, akan tetapi Exsel malah memeluknya erat.
“Mas, lepas ih. Nanti Mas berat loh. Ayo bangun, Mas harus ngantor, udah siang ih,” pinta Putri, mencoba melepaskan pelukannya semuanya itu.
Namun bukannya menjawab, Exsel malah membungkam mulut itu dengan ciuman.
Membuat Putri langsung terkejut dan membulatkan matanya.
“Mas, ih!”
“Kenapa sayang hmm? Itu morning kiss untuk istriku yang bawel,” ucap Exsel suaranya terdengar sangat berat, menatap putri dengan mata yang sayu.
“Mas bikin aku deg-degan ih.” Putri membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, menyembunyikan wajahnya yang merah merona, ditambah detak jantungnya berdetak tak karuan.
Exsel tersenyum melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan menurutnya.
“Sayang,” panggil Exsel.
“Iya, Mas,” jawab Putri.
“Kerasa gak?" tanya Exsel.
Putri mengerutkan kening bingung. “Kerasa apa, Mas?”
“Tuh dibawah sana dia bangun gara-gara kamu tekan,” bisik Exsel.
“Apaan, orang tadi juga udah bangun kok, pas Mas tarik aku, tadi kerasa sama aku,” jawab Putri. Astaga! detik kemudian Putri membungkam mulutnya, aduh bisa-bisa dia keceplosan.
“Tanggung jawab,” pinta Exsel.
__ADS_1
“Tapi ini masih pagi, Mas. Nanti Mas terlambat ke kantor juga.”
“Justru pagi-pagi itu baik untuk kesehatan sayang, ya itung-itung olahraga, olahraga ranjang. Hari ini Mas gak ke kantor, Mas mau puas-puasin sama kamu, Mas gak jauh-jauh dari kamu, mau yah yang ... ”
Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Exsel mulai beraksi, ia tidak bisa menahan juniornya yang sejak tadi sudah menegang.
Kalau sudah begini Putri hanya bisa pasrah, tapi ia menikmatinya, kerena tidak bisa dipungkiri tubuhnya tidak bisa menolak sentuhan memabukkan dari sang suami.
Kurang lebih satu jam mereka melakukan aktifitas panasnya itu, Putri cukup kewalahan dengan suaminya yang sangat perkasa itu. Tapi Putri akui, Exsel bukanlah pria yang egois, itu selalu mengerti apa yang diinginkan Putri, membuat Putri selalu kalah, terlebih dahulu melakukan pelepasannya.
Napas duanya terdengar masih ngos-ngosan.
Keduanya merasa lemas, namun merasa sama-sama puas.
“Capek ya?" tanya Exsel sambil mengelus-elus kelapa Putri, memainkan anak rambut istrinya itu yang terlihat basah oleh keringat.
“Enggak kok, gak capek, Mas. Cuman lemas aja. Lagian aku kan cuman menikmati aja, Mas yang main, hehe ... ” jawab Putri sambil terkekeh pelan.
“Lain kali kamu yang main ya, kamu main di atas, Mas pengen ngerasain goyangan kamu,” canda Exsel.
“Ih Mas, apaan sih. Mesum mulu deh pikirannya.”
“Mesum sama istri sendiri gak apa-apa dong, Yang. Ya sudah ayo kita mandi. Udah mandi kita serapan, terus hari ini kita jalan-jalan keluar gimana?”
“Boleh Mas.”
Satu jam kemudian mereka selesai dengan ritual mandinya itu. Udah jangan tanya kenapa mandinya lama, kalau dijelasin, panjang ini ceritanya. Hahaha.
Mereka langsung berganti pakaian, Exsel yang sudah selesai lebih dulu, ia bersandar di ranjang sambil menaikan posisi.
“Ayang,” panggil Exsel.
“Iya, Mas, kenapa?” Putri menatap suaminya itu lewat pantulan cermin meja riasnya.
“Nanti malam ada undangan pesta dari mantan pacar kamu, dia ngundang kita,” jawab Exsel. Wajahnya nampak tidak bersahabat.
“Mantan pacar, siapa Mas?”
“Ya siapa lagi, jangan pura-pura gak tahu deh!” ketus Exsel.
“Anton?”
“Iya, masih ingat ternyata. Eh mana bisa ya lupa sama mantan pacar terindah," sewot nya. Katakan saja saat ini Exsel cemburu.
Putri tersenyum melihat tingkah suaminya itu, Putri tahu jika Exsel saat ini cemburu, Putri suka, berarti tanda Exsel benar-benar mencintainya.
“Terus gimana, mau datang?”
__ADS_1
“Terserah, kamu mau enggak. Kalau gak mau gak apa-apa, biar nanti Mas suruh asisten Mas yang mewakili kita,” jawab Exsel. Tentu saja ia malas datang kesana.
“Kok begitu? Aku sih mau-mau aja, tapi kalau Mas gak mau, ya gak masalah juga.”
“Ya sudah kita datang sana. Tapi ingat, dia masa lalu kamu, jangan main-main, kamu itu cuman milik aku, ingat itu!”
“Emm, jadi Mas cemburu? Ya ampun Mas, aku itu memang milik kamu, selamanya akan menjadi milik kamu. Gak ada yang lain selain kamu, dia masa lalu aku dan kamu masa depan aku!” paparnya.
“Gombal!” ucap Exsel, namun tak bisa dipungkiri hatinya merasa lega dan berbunga-bunga mendengar ucapan istrinya.
“Gak apa-apa gombal sama suami sendiri. Lagian itu bukan gombal kok, itu memang kenyataannya,” sahut Putri.
“Udah selesai, yuk kita berangkat," lanjutnya. Putri beranjak dari depan meja rias, usai memoles wajahnya dengan make-up tipis.
“Kamu cantik sekali sayang, tapi ganti bajunya, kau gak suka, bahu kamu keliatan gitu,” protesnya.
“Lah ini model bajunya emang begini, Mas.”
“Iya Mas tahu, tapi Mas gak suka. Cepat ganti, kalau enggak, pake blazer saja luarnya, biar tertutup.”
Putri menghelai napas beratnya. ‘Kenapa dia sekarang jadi seribet ini sih, huh!’ gerutunya dalam hati.
Putri pun menuruti permintaan suaminya itu.
Ia memakai blazer.
“Nah gitukan enak dilihatnya," puji Exsel sambil tersenyum lebar. Bukan tanpa alasan Exsel meminta Putri menutup bahunya, jelas ia tidak mau ada pria lain yang melihat bahu mulus dan indah milik istrinya itu. Hanya Exsel yang boleh, titik!
...****************...
“Gimana Anton, apa kamu sudah memberikan undangan pada mereka? Kita harus berhasil memisahkan mereka, saya tidak mau Putri terus disiksa sama Exsel!” tanya seorang wanita parubaya pada Anton, wanita itu tak lain adalah Ibu tirinya Putri.
“Sudah Bu, tenang saja. Kita pasti akan berhasil, bukan hanya itu saya juga akan memberikan pelajaran pada Exsel, saya akan mempermalukan dia,” jawab Anton diiringi dengan senyuman sinisnya.
“Bagus, kita harus berhasil. Saya percaya sama kamu. Jika semua ini berhasil, saya akan langsung menikah kamu dengan Putri, saya janji,” ujar Bu Indri.
Antoni hanya tersenyum tipis, boleh juga.
Ia memang masih mengharapkan Putri, menikahi Putri adalah impiannya.
“Baiklah, saya pegang janji Ibu!” ucap Antoni.
‘Ini pembalasan untuk mau Putri, anak tidak tahu diri! rasanya aku sudah tidak sabar melihat semuanya, pasti sangat seru nanti malam,’ batin Bu Indri.
Bersambung ...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA YA, TERIMA KASIH.
__ADS_1