Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 15 : HTS


__ADS_3

"Iya, kami beri waktu kalian satu Minggu untuk melunasi semuanya! Kalau tidak, kami akan sita rumah kalian!" ucap salah satu laki-laki tersebut.


Lalu mereka pergi begitu saja dari hadapan Ibu Indri dan Siska.


"Bu, bagaimana ini? Bagiamana kita mencari uang sebanyak itu? 10 M Bu, 10 M.." pekik Siska.


"Gak tau Siska! Ibu juga bingung," lirihnya.


"Atau kita minta bantuan Putri aja Bu! Gimana?"


"Kamu ini, memangnya si Putri akan memberikan uang sebanyak itu hah?"


"Ya, gak tau Bu. Terus kita minta bantuan lagi sama siapa Bu? Cuman Putri satu-satunya yang bisa kita mintain tolong!"


"Sudahlah, kita pikirkan saja nanti jalan keluarnya. Ibu pusing, lagian kenapa Ayah kamu itu mati ninggalin utang sih!"


"Itu bukan Ayah aku Bu. Tapi ayahnya si Putri, jadi biarkan saja si Putri yang bayar utang-utang Ayahnya itu!"


Ibu Indri dan Siska pun masuk ke dalam rumahnya.


Sungguh ia tak menyangka jika mending Ayahnya Putri meninggalkan banyak hutang. Membebani mereka saja! Pikirnya.


***


"Sayang, sudah jangan bersedih seperti ini," ucap Exsel pada Putri. Kini mereka berbaring di atas kasur.


"Maafkan Mas, bukannya Mas tidak mengizinkan kamu untuk menginap di rumah Ibu, Mas khawatir, kalau kamu nginap di sana mereka..." Exsel menjeda ucapnya.


"Sudahlah Mas, jangan di bahas!" pungkas Putri. Lalu ia mulai memejamkan matanya.


"Sayang, kamu marah?" Exsel memeluk Putri.


Putri kembali membuka mata, " tidak Mas."


"Maafin Mas, ya," Exsel mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.


"Iya Mas, udah ah. Kamu minta maaf mulu, emang ini lebaran apa," goda Putri. Sambil tersenyum.


Jujur saja walaupun hatinya kesal pada Exsel, tapi Putri tidak bisa marah dengan suaminya itu. Entah mengapa?


"Ya sudah ayo kita tidur!" ajak Exsel diangguki oleh Putri. Mereka pun mulai memejamkan matanya dan tertidur.


***


Keesokan harinya.


Setelah sarapan, Exsel berpamitan pada Putri untuk berangkat ke kantor. Setalah kepergian suaminya itu.


Kedua mertuanya pun ikut berpamitan untuk pulang, karna Papah mertuanya harus kembali menjalankan aktifitas kembali.


"Mamah dan Papah yakin mau pulang sekarang?" tanya Putri. Terlihat raut wajah ketidak relaan Putri saat kedua mertuanya itu akan pulang.


"Iya sayang. Maaf ya Mamah dan Papah gak bisa menemani kamu saat kondisi kamu seperti ini," ucap Mamah Mawar. Sambil mengelus bahu menantunya itu.

__ADS_1


"Iya Put, maaf ya. Papah harus membawa Mamah mu pulang. Habis kalau Papah pulang sendiri hampa Put," timpal Papah mertuanya, narsis. Langsung mendapat cubitan kecil di perutnya dari sang istri.


Putri terkekeh, "iya Pah. Gak apa-apa. Hati-hati ya."


"Iya sayang. Kalau begitu kami pamit ya."


Putri mengangguk, lalu ia menyalami kedua mertuanya itu. Putri mengantarkan ke pergi kedua mertuanya itu sampai teras rumahnya.


"Byee... Sayang," teriak Mamah mawar yang sudah berada di dalam mobil. Wanita itu melambaikan tangannya pada Putri.


"Bye Mah.." balas Putri. Membalas lambaian tangan Mamah mertuanya itu. Mobil mertuanya itu pun mulai melaju meninggalkan halaman rumahnya.


Putri menghelai napasnya, sepi, hening. Saat ia masuk ke dalam rumah.


***


Di kantor.


Exsel kini tengah duduk di kursi kebesaran-nya. Dengan mata yang fokus melihat layar monitor leptopnya.


Beberapa hari tidak masuk kantor, Exsel sudah di sediakan banyak pekerjaan. Sudah di pastikan hari ini otak dan tenaganya akan di kuras habis, ah benar-benar akan menjadi hari yang paling melelahkan, pikirnya.


"Hallo, Bos..." sapa Doni, laki-laki masuk begitu saja ke dalam ruangan Exsel tanpa permisi. Exsel terkejut, lalu ia mengalihkan pandangannya pada Doni.


"Bisa gak, kalau masuk itu permisi dulu!"


"Hehe, sorry Bos," sahut Doni tanpa dosa. Membuat Exsel berdecak kesal.


"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin memastikan kalau Bos baik-baik saja!"


"Oh iya, sorry kemarin gak sempet nengok Bos di RS," lanjutnya.


"Kalau tidak ada apa-apa, lebih baik kamu keluar dari sini! Kerjakan tugas kamu sana, ingat jangan makan gajih buta!" ucap Exsel penuh penekanan.


"Hahaha," Doni malah tertawa mendengar ucapan Bosnya itu.


"Oh iya, gimana apa Putri sudah tau kondisi Bos? Denger dari Tante, katanya dia sudah tau ya?" tanya Doni.


"Bisa gak, gak usah nanya soal privasi gue!" pekik Exsel.


"Ck, bukannya elo Bos, yang suka bocorin privasi elo sendiri sama gue!"


"Udah Putri udah tau! Elo mau apa hah?"


"Terus?" tanya Doni.


"Terus apa maksud elo?"


"Ya, gimana reaksinya? Apa Putri minta cerai sama elo Bos?" tanya Doni.


Bruug...


Exsel melemparkan, buku yang ada di atas mejanya kearah Doni, dan sialnya Buku itu tepat mengenai kepala Doni.

__ADS_1


"Sialan elo Bos, gak ada akhlak!" ucap Doni, sambil mengelus kepala yang terkena lemparan Buku tersebut.


"Elo yang gak ada akhlak, ngomong sembarangan elo!" pekik Exsel. Lalu Exsel tersenyum penuh kemenangan.


"Gue cuman nanya aja Bos, emang gak boleh?"


"Gak!"


"Tapi gue penasaran.''


"Bodo!"


"Gak asik!"


"Terserah!"


"Huh, awas aja kalau nanti elo curhat kagak akan gue dengerin lagi!" ancam Doni.


"Bodo amat!"


"Ayolah Bos, gue kepo ini," bujuk Doni.


Exsel membuang napas beratnya, kalau belum di beri tahu, pasti Doni terus kepo. Sampe lebaran monyet pun itu orang pasti terus menanyakan. Astaga, dosa apa sampai Exsel punya sahabat seperti si Doni ini.


"Gak, Putri gak minta cerai, setalah dia tau sebenarnya tentang kondisi gue. Gue beruntung punya dia Don, dia merima gue apa adanya," jelas Exsel. Senyuman terambang dari bibirnya, membayangkan sosok sang istri yang amat dia cintai itu.


"Syukurlah, gue kan udah bilang dari dulu. Putri pasti akan menerima elo apa adannya. Elo aja yang selalu berprasangka buruk! Libatkan buktinya, istri elo itu nerima kondisi junior elo itu," ucap Doni.


"Tapi elo, gak ada niatan coba berobat lagi Bos? Siapa tau keajaiban datang sekarang!" lanjut Doni bertanya.


"Untuk sekarang gue belum kepikiran Don," sahut Doni.


"Gue saranin elo coba aja Bos. Siapa tau dengan elo berobat di dampingi istri elo, penyakit Impoten elo itu bisa sembuh! Dukungan dari orang terkasih itu biasanya manjur Bos!"


Exsel terlihat memikirkan ucapan sahabat sekaligus Asisten pribadinya itu.


"Nanti gue, bicarakan lagi sama istri gue Don!" ucap Exsel. Mendapatkan acungan jempol dari Doni.


Sementara sedari tadi sepasang mata dan sepasang telinga melihat dan mendengarkan obrolan Exsel dan Doni, dengan tanganya yang menggenggam sebuah ponsel canggih. Sepertinya ia berhasil merekam pembicaraan Exsel dan Doni. Setalah melihat Doni yang berajak dari sofa, orang tersebut segara, berajak dari depan pintu ruangan Exsel, memang tadi Doni tidak menutup rapat pintu ruangan Exsel.


"Hahaha, ini akan menjadi berita yang sangat menguntungkan bagiku," batin laki-laki itu, seraya berjalan menjauh dari ruangan Exsel.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Jangan lupa ya!


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2