
Semantara itu, seorang laki-laki terlihat tengah duduk di salah satu Resto. Dengan senyuman yang sulit diartikan. Tak lama kemudian, terlihat seorang wanita menghampirinya dengan.
Laki-laki bernama Abas itu mengulurkan tangannya pada Lyani, yang baru saja datang tersebut. Setalah berjabat tangan Lyani menarik kursi, dan mereka duduk berhadapan.
"Oke, Pak Abas. Kita bicara pada intinya saja! Mau apa Bapak ingin bertemu saya?" tanya Lyani.
"Tentu saja Bu Lyani, saya mempunyai kabar gembira untuk anda!" jawab Abas, dengan senyuman devilnya.
"Waw, menarik. Cepat katakan!"
"Tidak semudah itu Bu Lyani. Tentu saja anda mengertikan apa maksud saya?"
"Oke, berapa? Mana nomer rekening anda?"
"Saya tidak minta banyak! Saya rasa Bu Lyani orang yang royal bukan, tanpa saya meminta nominalnya, saya yakin Ibu Lyani yang cantik ini, pasti akan mengecewakan saya."
Lyani tersenyum miring, "mata duitan, baiklah aku harus bersabar menghadapi laki-laki tuang Bangka ini. Lagian apa informasi yang dia dapatkan, lancang sekali dia berbicara seperti padaku," batin Lyani.
Lyani terlihat memainkan ponselnya, setelah beberapa saat kemudian, ponsel Abas berdering, masuk notifikasi. Abas tersenyum lebar, saat mendapatkan notifikasi uang masuk, yang di transfer oleh wanita yang ada di hadapannya itu.
"Terima kasih Ibu Lyani. Anda baik sekali," ucap Abas.
"Cepat katakan! Informasi apa yang akan anda berikan kepada saya?'' tanya Lyani penuh penekanan.
"Baiklah Bu, apa anda tidak bisa bersabar sedikit. Saya akan mengirimkan informasi segara pada Ibu," ucap Abas, seraya memainkan ponselnya.
Ponsel Lyani berbunyi. Lyani menatap layar ponselnya itu dengan sangat serius.
"Bagaimana Bu Lyani? Apa informasi itu sangat bermanfaat untuk anda?" tanya Abas.
Lyani tersenyum penuh kemenangan, "bagus! Ini akan menjadi berita yang sangat booming. Oke Pak Abas, terima kasih."
"Sama-sama Bu Lyani, kalau begitu saya permisi," pamit Abas, diangguki oleh Lyani.
Abas pun berlalu dari hadapan Lyani, meninggalkan resto tersebut. Abas adalah Karyawan di perusahaan Exsel. Lyani membayar Abas untuk menjadi mata-mata di perusahaan Exsel. Bukan tanpa alasan Lyani rela membayar Abas dengan nominal yang sangat fantastis itu. Satu tujuan Lyani, yaitu menghancurkan Exsel, Lyani sakit hati dengan Exsel, yang selama ini selalu menolaknya, padahal Lyani sangat tergila-gila oleh pria itu.
"Jika aku tidak bisa memiliki mu, maka aku akan menghancurkan kamu Exsel Alexsander, lihat saja. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapan ku," ucap Lyani dengan senyuman sinisnya.
__ADS_1
***
Sementara itu, Putri tengah berduduk santai. Tidak ada yang bisa di lakukannya selain duduk santai, mau berkerja, kerja apa? Mau beraktifitas, aktifitas apa?
Sebenarnya hidupnya sudah enak, bagaikan ratu. Tapi entah mengapa Putri tidak menikmatinya.
Bell Rumahnya berbunyi, membuat Putri berajak dari sofa yang ia duduki itu, lalu berjalan menuju arah pintu.
"Ibu, Siska," ucap Putri, usai membuka pintu. Nampak sosok sang Ibu tiri dan Adik tirinya yang sudah berdiri di sana.
"Masuk." Putri mempersilahkan mereka masuk, mereka mengangguk, lalu mengikuti langkah Putri.
Mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Sebentar ya, aku ambilkan dulu minum," ucap Putri. Lagi-lagi diangguki oleh mereka. Putri pun berlalu menuju dapur, untuk membuat jus.
"Bu, beruntung banget ya si Putri. Punya suami kaya raya, hidupnya enak terjamin, Rumahnya besar pula, aku jadi iri padanya," ucap Siska.
"Berisikan, bisa gak kamu gak usah ngoceh terus! Ingat kedatangan kita ke sini mau apa!" sahut Ibu Indri.
Siska memutar bola matanya malas, "Bu, bagaimana kalau kita jual saja Rumah kita, terus kita tinggal di Rumah si Putri," usulnya.
"Ya lumayan Bu, buat tambahan bayar hutang Ayahnya si Putri, kurangnya kita minta si Putri saja. Terus kita tinggal di sini, enak deh Bu kayanya, kalau kita tinggal di sini."
"Sudah jangan banyak bicara! Berisik," sahut Ibu Indri dengan suara memekik.
Tak lama kemudian, Putri kembali dengan membawa dua gelas jus jeruk, untuk Ibu dan Adik tirinya itu.
"Ini minum dulu," ucap Putri. Kedua wanita itu tanpa ragu langsung meraih gelas yang ada di atas meja, dan meneguk jus tersebut sampai tandas.
Putri hanya terdiam, sambil menahan silivanya. Mereka kehausan atau emang doyan? Pikirnya.
"Oh iya Put, di mana suami kamu?" tanya Ibu Indri.
"Mas Exsel ngantor Bu, kalau jam segini. Malam baru pulang," jawab Putri.
"Put enak banget ya hidup kamu, Suami kaya, tampan pula, Rumah bagus, hidup terjamin. Lah kita," sahut Siska. Langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ibunya.
__ADS_1
Putri hanya tersenyum tipis menanggapi Adik tirinya itu. Sudah biasa, bagi Putri. Ini bukan pertama kalinya Siska berbicara seperti itu, setiap dia datang ke Rumah Putri pasti berbicara seperti itu pada Putri.
"Put, jangan dengerin ocehan gak penting Adik kamu ini, ya," ucap Ibu Indri, merasa tidak enak pada Putri.
"Iya Bu, gak apa-apa kok!"
"Oh iya, tumben Ibu dan Siska kemari?" lanjut Putri.
"Begini Put..." Ibu Indri menjeda ucapannya.
"Begini Put, Ayah kamu meninggal, ninggalin utang banyak. Kami ke sini mau minta uang sama kamu buat lunasin hutang Ayah kamu, sebesar 10 M," pungkas Siska. Tanpa ragu, wanita itu secara gamblang mengucapkan maksud dan tujuan datang menemui Putri.
"Apa 10 M?" Putri terkejut. Ia merasa tidak percaya! Hutang sebanyak itu, untuk apa, Ayahnya meminjam uang sebanyak itu?
"Iya," jawab Siska. Sementara Ibu Indri hanya menundukan kepalanya.
"Kemarin orang-orang yang menjamin duit ke Ayah kamu sudah menagih, datang ke Rumah kita. Kita di beri waktu seminggu untuk melunasi hutang sebanyak 10 M itu!" jelas Siska.
"Tapi untuk apa Ayah meminjam uang sebanyak itu? Bukannya setiap bulan Mas Exsel selalu mengirimkan uang untuk kalian?" tanya Putri.
"Ya mana aku tau! Aku juga shock saat mendengar itu."
Putri terdiam, tapi tetap saja ia merasa ragu dengan ucapan Siska itu. Apa mereka berbohong? Apa ini alasan mereka saja? Tapi melihat raut wajah mereka yang terlibat bersungguh-sungguh, Putri merasa bingung.
"Kita udah jual semua barang berharga kita Put, dan sisanya masih banyak, kita cuman punya uang 1 M hasil dari penjualan barang berharga kita. Nah sekarang kita mau minta sisanya sama kamu," ucap Siska.
"Sisanya 9 M lagi," lanjutnya.
"9 M, tapi aku tidak punya uang sebanyak itu Sis," sahut Putri.
"Ya aku tau, kamu mana punya Putri. Ya, kamu minta sama suami kamu lah, diakan kaya. Uang segitu mah gak ada apa-apanya buat dia."
"Iya Put, Ibu mohon bantu kami, hanya kamu satu-satunya yang bisa kami andalkan. Masih ada Rumah, apa harus Ibu dan Siska menjual, lalu kami tinggal di mana?" Ibu Indri kini membuka suaranya.
"Jangan Bu, Rumah itu jangan di jual. Biar nanti Putri bicara sama Mas Exsel," ucap Putri.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen, dan Votenya.
Terima kasih.