
Exsel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Raut wajahnya terlihat penuh dengan amarah. Tujuannya saat ini ia lah menemui Doni. Untuk membantunya mencari Putri, sang istri.
Exsel mengambil ponselnya untuk menghubungi Doni, namun saat ia membuka ponselnya, terlihat ada satu pesan masuk. Pesan tersebut ternyata dari Asisten rumah tangga Ibu mertuanya.
"Tuan, tadi saya sempat mendengar nyonya menyebut nama Andika, seperti orang itu yang sudah membawa Non Putri."
Exsel membaca pesan chat tersebut.
"Andika?" gumamnya.
Lalu Exsel menghubungi Doni dan menyuruh Doni untuk mencari informasi dari laki-laki yang bermana Andika tersebut.
"Hallo Don,"
"Iya Bos, ada apa?"
"Elo cari orang yang bermana Andika, seperti dia lintah darat, coba elo cari informasi tentang dia, sekarang juga, terus elo kasih tau gue!"
"Emang ada apa Bos?"
"Sudah jangan banyak tanya, lakukan sekarang. Setalah elo dapat informasinya, elo temui gue, di rumah."
"Oke Bos, siap."
Exsel langsung mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.
"Andika..." gumam Exsel.
"Seperti aku tidak asing dengan nama itu? Awas saja kalau dia berani macam-macam sama Putri, aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang!"
***
Sementara itu.
Di sebuah kamar yang terlihat sangat mewah.
Seorang wanita terlihat tertidur. Di wajahnya terlihat ada bekas air mata. Seperti sebelum ia tertidur, wanita itu menangis.
__ADS_1
Tak lama kemudian, wanita itu terlihat membuka matanya. Putri bangun, ia menatap sekeliling kamar mewah tersebut.
"Di mana aku?" lirih Putri, ia mencoba bangkit dari tidurnya,. menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Lalu Putri mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. Putri terkejut, ia langsung mengamati seluruh tubuhnya, syukurlah pakaian masih utuh. Putri juga tidak merasakan hal yang aneh, hanya sedikit pusing saja.
"Aku harus keluar dari rumah ini," ucap Putri. Ia berajak dari kasur. Lalu mengambil tasnya.
"Aku harus menghubungi Mas Exsel, dia pasti mengkhawatirkan aku," gumamnya, seraya membuka tasnya dan mencari benda pipih tersebut.
"Di mana ponselku?" Putri tidak menemukan ponselnya di dalam tasnya itu.
"Mencari ini?" Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki memasuki kamar tersebut. Putri langsung menoleh kearah laki-laki itu. Di tangan laki-laki itu, terlihat ponsel Putri berada.
"Berikan ponselku!" teriak Putri.
"Kau mau ini?" Laki-laki itu berjalan menghampiri Putri, seraya tersenyum, dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Berikan sini," Putri mencoba meraih ponselnya dari tangan laki-laki yang bernama Andika tersebut. Namun sayang Andika malah menjauhkan ponsel tersebut.
"Sini, aku ingin menelepon suamiku. Bukannya kau mau uang mu hah? Aku akan membayar semua hutang-hutang itu."
"Apa kau yakin hah? Apa kau yakin suamimu akan membayar semua hutang itu hah?"
Putri terdiam sejenak, ia nampak ragu. Tapi tidak ada salahnya mencoba dulu bukan? Exsel pasti akan membantunya.
"Ten-tentu saja!" jawab Putri ragu.
"Hahaha...." Laki-laki itu kembali tertawa.
"Sudahlah, lupakan hutang itu. Aku akan anggap hutang keluarga mu itu lunas, asalkan...." Andika menjeda ucapannya.
Lalu ia tersenyum, sambil menatap Putri dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya melihat Putri dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Apa mau mu?" tanya Putri, ia terlihat ketakutan. Namun sebisa mungkin Putri menyembunyikan ketakutan itu.
"Layani aku malam ini, maka hutang keluarga aku anggap lunas!" bisik Andika. Sambil mendekat wajahnya kepada Putri.
Putri langsung mengalihkan pandangannya, saat Andika akan menciumnya, lalu Putri berdiri dan mendorong tubuh laki-laki itu.
__ADS_1
"Cuih..." Putri meludah tepat di dapan Andika. Membuat wajah Andika merah, menahan amarahnya.
"Jangan bermimpi! Aku tidak Sudi melayani lintah darat seperti mu," lanjut Putri dengan suara memekik, lalu tersenyum sinis. Sekuat mungkin Putri berusaha terlihat tenang, walau pun dalam hatinya ia sangat begitu ketakutan.
"Mas Exsel, tolong aku Mas," batin Putri.
"Dasar wanita munafik! Kau pikir aku tidak tau hah? Kau juga pasti menginginkan sentuhan seorang laki-laki bukan!" pekik Andika.
"Kau pikir aku serendah itu hah?" Putri menatap jijik laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Hahaha..." Tawa Andika kembali menggema.
"Sudahlah, jangan berpura-pura. Aku tau kau seorang istri yang kesepian bukan? Karna suamimu tidak pernah menyentuh mu!"
"Jaga bicaramu, kau tidak tau apa-apa tentang hidupku!" pekik Putri.
"Hahaha...."
"Putri, Putri. Semua orang tau tentang kondisi suamimu itu. Exsel si pengusaha terkaya itu, adalah laki-laki penyakitan. Laki-laki Impoten. Memalukan, sebaiknya kau tinggalkan saja dia, dan bersenang-senang denganku."
Andika kembali mendekati Putri, lalu mendorong tubuh Putri hingga wanita itu terhuyung ke atas kasur.
Andika langsung menindih tubuh Putri, namun sekuat tenaga Putri mendorong tubuh laki-laki itu. Hingga ia berhasil menyingkirkan tubuh laki-laki itu.
Putri segara mengambil tasnya dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur. Lalu ia lari dengan cepat keluar dari kamar tersebut.
"Hay.. mau kemana kau..."
"Dasar wanita sialan..." teriak Andika. Ia langsung berajak menyusul Putri yang terlihat sudah hilang di balik pintu kamar tersebut.
"Kau pikir kau bisa lolos dariku, dasar wanita sialan!" pekik Andika yang terus berlari menyusul Putri.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
Terima Kasih.
Salam sayang dari author.
__ADS_1