
“Sayang, apa kamu sudah siap?” tanya Exsel pada Putri, wanita ini masih di depan cermin mengamati penampilannya.
“Sudah Mas, apa penampilan ku sudah bagus? Aku gak percaya diri ikut kamu, apa lagi ini acara penting, 'kan?” Putri memutar tubuhnya, memperlihatkan penampilannya itu pada Exsel yang berdiri di belakangnya.
“Ya ampun Sayang, ini cuman acara pertemuan aku sama Dokter, kita mau konsultasi, bukan mau pesta,” ucap Exsel sambil terkekeh. Ia melihat sang Istri yang berpenampilan sangat cantik dan anggun itu, padahal mereka bukan mau pergi ke pesta. Melainkan pergi untuk bertemu dengan Dokter yang dulu pernah menangani Exsel.
Ya, sebelum Exsel sudah membuat janji dengan Dokter tersebut. Dan malam ini mereka akan datang ke kediaman Dokter tersebut.
“Hehe, iya sih Mas. Aku terlalu bersemangat. Apa aku ganti pakaian lagi aja?”
“Gak usah, udah gitu aja. Ayo kita berangkat sekarang!” ajak Exsel. Putri mengangguk, lalu mereka pun berjalan keluar dari kamar tersebut.
“Apa tempatnya jauh Mas?” tanya Putri, kini mereka sudah berada di dalam mobil, Exsel terlihat sudah siap melajukan mobilnya.
“Lumayan jauh sih, satu jam—an kita sampainya paling! Emang kanapa?”
“Gak apa-apa kok Mas!” Putri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Lalu Exsel mulai melajukan mobilnya, meninggalkan halaman rumahnya tersebut.
Dalam perjalanan mereka bercerita, mengobrol apa saja, untuk memecahkan keheningan.
“Oh iya Mas, bukannya Dokter Stevan itu tinggal di Amerika? Kok bisa dia ada di sini dan membuat janji sama Mas? Apa Mas yang menghubungi dia?” tanya Putri.
“Oh iya, Mas belum cerita sama kamu ya?” sahut Exsel, seraya menoleh kearah Putri yang duduk di sampingnya itu. Lalu ia kembali fokus mengemudikan mobilnya, sambil menceritakan pada istrinya itu.
“Iya beliau memang tinggal di sana, kemarin Mas menghubungi beliau, tadinya Mas mau buat janji dulu sama beliau. Tapi beliau bilang, kebetulan lagi di sini. Jadi kita gak perlu repot-repot ke sana. Dan..” Exsel menjeda ucapnya.
“Jika nanti memang keadaan Mas masih seperti yang dulu, Mas terpaksa harus ke Amerika ikut dengannya,” lanjut Exsel, kembali menoleh kearah Putri.
__ADS_1
Putri hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Exsel tersenyum lalu berkata, “Sayang kamu mau, 'kan temani Mas nanti?”
“Tentu saja Mas. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu di samping Mas,” jawab Putri tulus.
Exsel tersenyum bahagia, namun di balik itu semua.
Hatinya masih merasakan kekhawatiran yang sangat dahsyat. Bagiamana jika kondisi saat ini semakin memburuk? Bagaimana kalau Exsel tidak sembuh?
Apa ia yakin bisa membahagiakan Putri, sampai akhir nanti?
Perlahan senyuman Exsel mulai redup, ia membayangkan keburukan itu, apakah Putri akan bertahan selamanya? Juga terbayang jika suatu hari nanti Putri meninggalkan dirinya. Dan itu semua membuat Exsel larut dalam pikirannya.
Berbanding terbalik dengan Putri, ia merasa bahwa ini awal menuju buah kesabarannya, Putri berharap semuanya akan berakhir manis. Dan hidup bahagia dengan Exsel selamanya.
Tidak ada lagi pembicaraan setalah itu, mereka sama-sama larut dalam pikiran mereka masing-masing.
“Apa kabar Tuan Exsel?” tanya Dokter Stevan seraya mengulurkan tangannya.
“Baik Dok, bagaimana dengan Dokter?” Exsel menjabat tangan Dokter Steven.
“Seperti yang anda lihat, i am fine.” Dokter Steven tertawa.
“Apa ini istri anda Tuan?” lanjut Dokter Stevan, seraya melihat kearah Putri yang berdiri di samping Exsel.
Exsel mengangguk, Putri tersenyum ramah pada Dokter Stevan.
“So beautiful,” puji Dokter Stevan. Lalu Putri dan Dokter Steven saling berjabat tangan.
__ADS_1
Setalah itu, Dokter Stevan mempersilahkan Exsel dan Putri masuk ke dalam rumahnya.
Bersambung...
Hallo guys, apa kabar? Maaf Hiatus lama.
Aku dilema mau lanjutin cerita Putri dan Exsel.
Levelnya anjlok guys, jadi bikin down.
Dan setalah sekian purnama, aku bersemedi. Eh...
Wkwkwkwk.
Aku mendapatkan hidayah. Huhuhu..
Aku lanjut lagi ceritanya demi kalian semua, yang udah setia menunggu, dan membaca dari awal.
Aku usahain Up rutin lagi. Hehe.
Jadi, jangan lupa!
Like
Komen
Votenya
Oke...
__ADS_1
Terima kasih.