
"Mas Exsel..." teriak Putri. Ia terkejut saat melihat Exsel yang terbaring di atas lantai dengan mata terpejam. Putri langsung menghampirinya.
"Mas, bangun mas!" Putri menepuk-nepuk pipi suaminya itu.
"Mas, kamu kenapa? Mas bangun..." Cairan bening terlihat lolos dari pelupuk matanya.
"Bi..."
"Bibi...." teriak Putri, memanggil Asisten rumah tangganya.
"Iya Non, astaga Tuan kenapa Non?" tanya bibi, yang baru saja sampai di sana.
"Tidak tau Bi, aku ke kamar Mas Exsel sudah seperti ini."
"Bi, bantu aku membawa Mas Exsel ke mobil, kita harus ke Rumah sakit sekarang!" pinta Putri diangguki oleh Bibi.
Mereka langsung mengangkat tubuh Exsel, dengan susah payah mereka membawa Exsel ke dalam mobil.
"Bi, bibi di rumah aja. Biar aku saja yang membawa Mas Exsel ke Rumah sakit sendiri, Bibi tolong hubungin Mamah sama Papah ya!" pinta Putri.
"Baik Non," jawab Bibi.
Putri masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi pengemudi, lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah, menuju Rumah sakit.
Dalam perjalanan Putri mencoba untuk tetap fokus mengemudikan mobilnya, sambil sesekali ia melihat Exsel yang berbaring di kursi belakang.
"Mas, bertahanlah," gumam Putri.
Sesampai di Rumah Sakit, Putri meminta bantuan kepada petugas Rumah sakit untuk membantunya, Exsel di pindahkan ke brankar, lalu di bawa keruang UGD. Putri menggenggam tangan suaminya itu sangat erat, wajah kekhawatiran terpancar jelas dari wajah cantik Putri.
"Maaf Nona anda tidak boleh masuk," ucap suster saat sampai di depan pintu UGD.
"Tapi Sus---"
"Nona kami minta pengertiannya, biarkan Dokter menangani suami anda," pungkas Suster tersebut.
Akhirnya Putri mengangguk pasrah, ia duduk di kursi tunggu. Sementara Exsel kini tengah ditangani oleh Dokter di dalam sana. Cairan bening tak berhenti menetes membasahi wajahnya.
"Putri..." Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya. Putri langsung melihat kearah sumber suara tersebut, dilihatnya sang mertua datang, dan berjalan menghampirinya.
"Mamah..." Putri langsung menghambur memeluk wanita itu. Tangis Putri kembali pecah, Mamah mertuanya mengelus bahu Putri.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi Put?" tanya Papah Exsel, yang tak lain adalah Papah mertua Putri.
Putri melepaskan pelukannya perlahan, Mamah mertuanya mengusap lembut air mata Putri.
"Putri gak tau Pah! Tadi pas Putri ke kamar Mas Exsel sudah tidak sadarkan diri," jawab Putri dengan lirih.
"Sudah jangan menangis, doakan saja semoga Exsel tidak apa-apa. Sekarang Exsel dimana?" tanya Mamah Exsel.
"Mas Exsel masih di dalam Mah, masih ditangani oleh Dokter," jawab Putri.
"Ya sudah sebaiknya kita tunggu saja," ucap Papah Exsel. Laki-laki itu menggiring kedua wanita itu untuk duduk di kursi tunggu.
Demi apa, saat ini Putri merasa bersalah. Ia merasa suaminya masuk Rumah sakit, gara-gara dia.
"Mah, Pah.." panggil Putri. Kedua mertuanya itu menoleh.
"Ada apa sayang?" sahut Mamah Exsel, bertanya.
"Maafkan Putri," lirihnya.
"Maaf?" kedua mertuanya menatap Putri penuh tanya.
"Mas Exsel seperti ini gara-gara Putri," ucap Putri penuh penyesalan.
"Sebenarnya..." Putri menjelaskan semuanya, ia menceritakan semuanya tentang kejadian semalam.
Walaupun sebenarnya Putri merasa takut, pasti kedua orang tuanya kecewa pada dirinya.
"Itu bukan salah kamu Put," ucap Mamah Exsel, setalah Putri selesai menceritakan semuanya.
"Tidak Mah, ini semua salah Putri," lirih Putri terisak tangis.
Mamah dan Papah Exsel. Terlihat menghelai napasnya. Lalu mereka saling melemparkan pandangannya. Papah Exsel memberi isyarat pada sang istri, istrinya terlihat menganggukan kepalannya.
Mungkin Exsel tidak belum siap menjelaskan semuanya pada Putri, baiklah mungkin ini saatnya Putri tau, mereka akan memberi tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Exsel. Mungkin ini waktu yang tepat, apa lagi mereka mendengar Putri sudah meminta cerai pada Exsel. Mereka tidak mau kalau sampai kehilangan menantu kesayangannya itu. Jangan sampai Exsel dan Putri berpisah.
"Put, Mamah ingin berbicara sesuatu sama kamu," ucap Mamah Exsel, wanita itu meraih tangan menantunya.
"Tentang kondisi Exsel," lanjutnya sambil menatap wajah Putri yang kini menatapnya.
"Mas Exsel kenapa Mah?" tanya Putri.
__ADS_1
"Put, sebelumnya Mamah dan Papah minta maaf sama kamu, bukan maksud Mamah dan Papah membohongi ataupun menutupi semuanya selama ini sama kamu. Ini semua karna permintaan Exsel, Exsel bilang dia akan memberitahu kamu tentang kondisinya sendiri. Tapi sampai detik ini seperti Exsel belum bisa menceritakan semuanya sama kamu, mungkin Exsel takut, takut kehilangan kamu," ucap Mamah Exsel. Putri menatap bingung, ia sama sekali tak mengerti dengan ucapan Mamah mertuanya itu.
"Exsel itu sangat mencintai kamu Put, jadi dia selama ini menutupi tentang kondisi yang sebenarnya sama kamu," lanjut Mamah Exsel, mata wanita parubaya itu kini terlihat berkaca-kaca.
"Maafkan Mamah Exsel, Mamah benar-benar tidak bisa lagi berbohong sama istrimu ini," lanjutnya dalam hati.
"Maksud Mamah?" tanya Putri, "Putri tak mengerti apa yang Mamah bicarakan!"
"Sayang, kamu mau tau kenapa Exsel selama ini tidak mau menyentuh kamu, itu semua bukan Exsel tidak mau, Exsel mau, tapi dia tidak bisa melakukan semua itu. Karna dia..." Mamah Exsel menjeda ucapannya.
"Karna kenapa Mas Exsel Mah?" pekik Putri.
"Karna Exsel mempunyai penyakit langka. Exsel terkena Disfungsi Ereksi, itulah kenapa selama ini Exsel tidak pernah mau menyentuh kamu," ujar Mamah Exsel.
Putri terdiam, ia mencoba mencerna ucapan yang dilontarkan oleh Mamah mertuanya itu. Disfungsi ereksi? Putri pernah mendengar penyakit tersebut, Putri juga pernah membaca di artikel tentang penyakit tersebut, bukankah penyakit tersebut mengakibatkan penderitanya tidak bisa membuat alat vitalnya beraksi saat bersentuhan dengan lawan jenis. Bukankah penyakit itu sangat langka? Apa benar Exsel menderita penyakit tersebut? Apa mertuanya itu berbohong? Rasanya Putri tidak percaya, Putri pikir penyakit tersebut hanya mitos belaka.
"Maksud Mamah Mas Exsel Impoten?"
Mamah Exsel dan Papah Exsel menganggukkan kepalanya. Putri langsung membulat matanya tak percaya, jadi benar? Suaminya itu Impoten, pantas saja Putri tidak pernah melihat alat pintal suaminya itu hidup selama ini. Tapi Putri pernah bercumbu cukup lama dengan Exsel, tapi sepertinya hasrat Exsel ada, bukannya laki-laki yang mengalami penyakit tersebut, tidak akan merasakan hasratnya?
"Itulah kenapa selama ini Exsel tidak menyentuh kamu sayang. Bukan Exsel tidak mau, Exsel juga pria normal, tapi hanya saja keterbatasannya itu membuatnya seperti itu. Kamu tau kenapa Exsel tidak memberi tahu semuanya sama kamu, Exsel sengaja, karna dia punya keyakinan bahwa dia akan sembuh. Exsel mengatakan bahwa dia mempunyai hasrat saat bersentuhan sama kamu, hanya saja kejantannya, belum bisa normal. Kamu mengerti, 'kan Put, maksud Mamah?" Putri mengangguk pelan. Putri tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Maaf sebelumnya Put, jika pertanyaan Mamah kali ini terlalu sensitif untuk kamu. Apa kamu Exsel pernah mencoba melakukan itu sama kamu?" Putri terlihat mengelengkan kepalanya.
"Mas Exsel selalu menghindar saat aku memintanya untuk melakukan itu Mah," sahut Putri dengan ragu, tepatnya malu. Tentu saja, itu hal yang sangat sensitif dan privasi. Tapi apa boleh buat.
"Mamah yakin Exsel pasti sembuh Put, kamu pasti bisa membuat Exsel sembuh. Mamah mohon bersabarlah sebentar Put, jangan tinggal Exsel. Tarik kembali ucapan kamu untuk berpisah dengannya," Mertuanya itu memohon pada Putri.
Kemungkinan Exsel sembuh sangat besar menurutnya, karna Putri sudah bisa membangkitkan gairahnya, hanya satu saja, mereka belum mencoba terlalu dalam. Mamah Exsel tau kenapa selama ini Exsel tidak mau melakukan itu, karna Exsel tidak percaya diri.
"Iya, Putri tidak akan minta cerai sama Mas Exsel lagi. Putri juga menyesal sudah mengucapkannya," ucap Putri.
Kedua mertuanya tersenyum, Mamah Exsel langsung memeluk menantunya itu.
"Terima kasih sayang," ucapnya. Putri mengangguk.
Sebenarnya Putri merasa sedikit kecewa dengan kedua orang tua suaminya itu, ternyata mereka sudah tau kebenaran. Tapi mendengar penjelasan mereka tadi, Putri mengerti posisi mereka.
"Jadi selama ini suamiku, memendam hasratnya!" batin Putri.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terima kasih.