Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 14 : HTS


__ADS_3

Tak lama kemudian, Exsel bergabung bersama mereka. Mereka langsung menikmati sarapan bagi tersebut, dengan pancaran penuh kebahagian.


Kehangatan nampak jelas di keluarga tersebut.


"Oh iya Put, hari ini kita jadikan ke Rumah Ibu Indri?" tanya Mamah Mawar pada Putri. Sesuai yang sudah di rencanakan oleh mereka kemarin, hari ini mereka akan mengunjungi Rumah orang tua Putri.


Sebelum Putri menjawab ia menoleh kearah Exsel, "Mas apa boleh?" lanjutnya bertanya. Meminta izin pada suaminya itu.


Exsel menganggukkan, "aku ikut," ucapnya.


"Boleh, bagaimana kalau kita pergi sekeluarga saja!" seru Mamah Mawar. Diangguki oleh suami, anak dan menantunya itu.


Selesai menghabiskan sarapan, mereka langsung bersiap-siap. Setalah semuanya siapa. Mereka langsung berangkat menuju Rumah Ibu Tirinya Putri itu.


Dalam perjalan mereka semua terlihat ceria sambil mengobrol hangat. Putri merasa bersyukur, akhirnya semuanya kembali seperti semula.


Setelah menempuh perjalan kurang lebih satu jam, akhirnya semuanya sampai. Namun mereka nampak bingung, kenapa rumah orang tua Putri, ramai. Terlihat banyak orang, lalu pandangan mereka tertuju pada satu tanda. Bendera kuning? Siapa yang meninggal?


"Bendara kuning? Siapa yang meninggal?" tanya Mamah Mawar. Putri terlihat menggelangkan kepalanya.


"Ya sudah, ayo cepat kita keluar," ajak Papah Alexander, mereka semua langsung mengangguk, lalu keluar dari mobil tersebut.


Putri berjalan tergesa-gesa, perasaannya tidak enak.


Lalu Putri masuk.


"Bu..." panggil Putri pada Ibu Indri, wanita itu terlihat tengah terisak tangis, di pelukan adik tirinya Putri, yang bernama Siska.


Spontan Ibu Indri dan Siska menoleh kearah Putri. Putri terdiam mematung, saat melihat sebuah bingkai Poto yang tersimpan di atas peti mati. Poto sang Ayah terlihat ada di sini.


"Putri," Ibu Indri langsung menghampiri Putri, dan memeluk Putri. Putri hanya diam mematung, dengan air mata yang kini sudah mengalir deras membasihi wajahnya.


Begitu juga dengan Exsel dan kedua orang tuanya, mereka tak percaya. Bahwa besannya-lah yang meninggal tersebut.


"Bu, apa aku bermimpi?" lirih Putri.


"Tidak Put, maafkan Ibu, Ibu belum sempat mengabari kamu," ucap Ibu Indri tangisnya pecah di pelukan Putri.

__ADS_1


"Maaf Bu Indri, apa yang terjadi?" tanya Mamah Mawar.


Perlahan Bu Indri melepaskan pelukannya dari Putri, lalu wanita itu melihat kearah orang tua Exsel.


"Suami saya mengalami kecelakaan," jawabnya lirih.


Putri langsung menghampiri peti jenazah, sang Ayah. Tangis Putri pecah saat melihat sang Ayah yang sudah terbujur kaku di dalam peti tersebut. Exsel mengelus bahu istrinya itu, mencoba menenangkan Putri.


"Ayah, kenapa Ayah ninggalin Putri Yah. Maafkan Putri, Putri belum bisa bahagiain Ayah," lirih Putri, air mata masih setia membasihi wajah cantik wanita itu.


"Sayang sudah, semua ini sudah takdir. Biarkan Ayah tenang di alam sana sayang," ucap Exsel, ia membawa Putri kedalam pelukannya.


"Mas ini terlalu cepat, aku belum siap kehilangan Ayah, Mas."


Exsel tak bisa lagi berkata-kata lagi, sudah pasti ini sangat berat untuk Putri, karna ini terlalu singkat.


Namun ini semua juga sudah takdir.


Setalah itu, jenazah Ayahnya Putri langsung di kebumikan. Lagi-lagi tangis Putri pecah, saat sang Ayah di masukan keliang lahat. Setalah pemakaman selesai, orang-orang satu persatu mulai meninggalkan pemakaman tersebut.


Kini hanya tinggal, Putri, Exsel dan kedua orang tuanya Exsel, serta ibu Indri dan Siska yang ada di sana.


"Sayang, kita pulang ya. Langit udah mulai gelap, sepertinya hujan akan turun," ajak Exsel. Exsel tau kalau Putri masih ingin berada di sana, tapi melihat cuaca yang sudah mendung, pertanda hujan akan turun, Exsel tak mungkin membiarkan istrinya itu kehujanan.


"Iya Put, sebaiknya kita pulang," timpal Ibu Indri. Wanita itu berjongkok di samping Putri, lalu mengelus bahu anak tirinya itu.


"Kita juga merasa kehilangan Put, tapi kita harus ikhlas. Semua ini sudah takdir. Kita harus merelakan Ayah, biar Ayah tenang di sana," ujarnya.


Putri menoleh, lalu ia memeluk Ibu Tirinya itu, Ibu Tirinya memang selama ini selalu memanfaatkan Putri, tapi Putri sangat menyayanginya. Putri juga tau Ibu Indri, walaupun Ibu tirinya, wanita itu juga menyayanginya, karna walau bagaimana pun, Ibu Indri juga yang membantu sang Ayah untuk membesarkannya.


Siska juga terlihat ikut memeluk, memeluk Ibu dan Kakak tirinya itu. Cukup lama mereka berpelukan.


"Sudah, ayo kita pulang," ajak Bu Indri. Akhirnya Putri pun mengangguk.


Mereka pun berajak meninggalkan pemakaman tersebut. Putri dan Exsel serta orang tuanya pulang ke Rumah mereka, sementara Bu Indri dan Siska pulang ke rumah mereka.


Sebenarnya Putri meminta menginap di Rumah orang tuanya, namun Exsel tidak mengizinkannya. Entah mengapa rasanya Exsel tidak nyaman jika tinggal di sana. Jika membiarkan Putri sendiri di sana juga Exsel tidak tenang. Dengan berat hati ia tidak mengikuti keinginan istrinya itu.

__ADS_1


Putri hanya bisa pasrah, walau pun kecewa, tidak mungkin juga ia membangkang pada suaminya itu, terlebih kedua mertuanya juga ikut membujuknya. Agar pulang ke Rumah.


Sebenarnya Exsel dan kedua orang tuanya, ada alasan kenapa mereka tidak mengizinkan Putri. Memperhatikan selama ini perlakuan Ibu Indri dan Siska pada Putri, yang selalu memanfaatkan Putri.


Mereka melihat kalau Ibu Indri dan Siska tidak tulus menyayangi Putri.


Apa lagi orang tua Exsel tau, bahwa orang tua Putri itu gila harta. Dan biasanya orang-orang seperti itu akan melakukan apa saja, agar mencapai tujuannya.


Dan mereka takut terjadi apa-apa pada Putri.


***


Sementara itu, Ibu Indri dan Siska baru saja sampai di Rumahnya, mereka begitu terkejut saat melihat ada dua orang laki-laki berpakaian serba hitam, dengan raut wajah yang begitu menyeramkan.


"Siapa kalian?" tanya Ibu Indri.


"Kami kesini untuk menagih hutang pada suami anda," jawabnya.


"Suami saya sudah meninggal."


"Kami tidak mau tau, kalian secepatnya harus membayar hutang itu!" bentaknya.


Melihat raut wajah mereka yang menyeramkan, apa lagi mata kedua laki-laki itu menatap Ibu Indri dan Siska dengan tajam, membuat dua wanita itu ketakutan.


"Me--mangnya berapa hu--tangnya?" tanya Siska terbata-bata.


"10 milyar."


Deg...


Ibu Indri dan Siska saling menatap.


"Apa? 10 Milyar?" teriak mereka.


Bersambung...


Jangan lupa, like, komen dan Votenya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2