
"Maaf, Bu. Untuk kali ini Putri tidak bisa membantu kalian. Silahkan Ibu pergi dari sini!" tegas Putri.
"Kamu benar-benar keterlaluan Putri, Ibu sudah bicara baik-baik, tapi kamu masih saja tidak mau bantu kami. Oke, kalau begitu! Lihat saja, kamu pasti menyesal sudah berprilaku seperti ini sama Ibu!" pekik Ibu Indri, wanita itu langsung berdiri, dengan wajah berapi-api.
Ia merasa sakit hati dengan perlakuan anak tirinya itu.
Tanpa berucap apa-apa lagi, Bu Indri berlalu meninggalkan rumah Putri, dengan amarah yang bergejolak di dalam hati.
Putri menatap punggung Ibu Indri, hingga wanita itu hilang di balik pintu. Putri menyandarkan tubuhnya di sofa, lalu membuang napas beratnya.
"Maafkan aku Bu, jika saat ini aku egois! Melukai hati Ibu. Aku menyayangi Ibu dan juga Siska. Tapi untuk saat ini aku ingin memberikan kalian pelajaran, agar kalian sadar! Tapi sepertinya kalian akan semakin menjadi. Terserah kalain akan membenciku, yang pasti aku akan tetap bersama pendirian ku! Aku akan fokus saja sama kesembuhan Mas Exsel," ucap Putri dalam hatinya.
Ada rasa bersalah yang menghampiri Putri, karna ia tau sikapnya barusan tidak patut dan buruk. Tapi, Putri tidak mau dianggap jadi wanita lemah, dan selalu di manfaatkan oleh mereka. Semoga saja mereka bisa berpikir, dan mengakui kesalahannya. Tapi itu rasanya tidak semudah membalikan telapak tangan. Tapi, yasudahlah. Putri tidak mau ambil pusing. Masih ada hal yang lebih penting, yang harus dilakukan. Fokus dengan kesembuhan suaminya, Exsel.
"Maaf ya Ayah, kalau Ayah di sana kecewa sama Putri, tapi untuk saat ini Putri tidak ingin berurusan dengan mereka lagi," gumam Putri. Ia teringat kepada mendiang Ayahnya, yang sudah tiada.
Setelah bergelut dengan pemikirannya itu, Putri berajak dari sofa.
"Non, tidak apa-apa 'kan?" tanya Bibi, wanita parubaya itu langsung menghampiri Putri, raut wajah khawatir terlihat di sana.
Putri tersenyum, "tidak kok Bi, aku baik-baik saja!"
"Syukurlah." Bibi merasa lega.
"Barusan Bibi mau ngabarin Tuan, Non. Karna takut Nyonya Indri ngapa-ngapain si Non," lanjut Bibi.
"Ya ampun Bi, Bibi tenang saja. Mulai saat ini aku akan tegas pada Ibu, aku gak mau mereka terus bertindak seenaknya sama aku, Bi."
"Iya, emang harusnya seperti itu dari dulu Non. Orang kaya gitu gak usah dikasih hati, yang ada nantinya malah minta jantung!" celetuk Bibi. Namun setalah itu Bibi langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Haduh Gusti, ini mulut kok gak bisa di rem," batin Bibi.
"Eh, Maaf, Non. Kalau Bibi lancang barusan," lanjut Bibi pada Putri, ia takut perkataan yang barusan ia lontarkan menyinggung majikannya itu. Karna walau bagaimana pun, mereka tetap bagian dari keluarga Putri, ya walaupun keluarga tiri.
Udah keluarga tiri, gak tau diri. Gimana si Bibi gak emosi coba!
Putri malah terkekeh, mendengar ucapan asisten rumah tangganya itu.
"Gak apa-apa kok, Bi. Yang dikatakan Bibi itu emang bener," ujar Putri. Tidak tersinggung sama sekali, wajah Bibi berbicara seperti itu. Karna wanita itu tau, apa yang dialami Putri selama ini.
__ADS_1
"Hehe.." Bibi ikut terkekeh.
"Ya sudah, kalau begitu Bibi pamit, lanjut kerja lagi ya Non. Mau masak buat makan siang si Non," pamit Bibi. Diangguki oleh Putri.
Bibi pun berlalu dari hadapan Putri, berjalan menuju dapur. Namun sesaat kemudian, Putri memanggilnya kembali.
"Bi..." panggil Putri, membuat Bibi langsung menghentikan langkahnya. Dan menoleh kearah majikannya itu.
"Iya, Non?"
"Aku gak makan siang di rumah, aku mau ke kantor Mas Exsel. Bibi gak usah masak!" titah Putri.
"Oh, baik Non." Putri tersenyum, lalu Bibi kembali melangkah kakinya, tak jadi ke dapur, wanita itu mengerjakan perkerjaan yang lain.
Putri berajak dari sana, ia berjalan menaiki anak tangga, menuju kamarnya. Untuk bersiap-siap.
"Dari pada di rumah gabut, mending aku ke kantor Mas Exsel saja," gumam Putri, sambil membuka lemari bajunya, dan memilih baju mana yang akan di gunakan nya itu.
Setalah 1 jam kemudian, Putri terlihat sudah cantik dan rapi. Dengan dress selutut berwarna Pink, dengan model lengan Sabrina, dimana pundak mulus nan Putih nampak terekspose mempesona. Make-up tipis Putri oleskan ke wajahnya. Menambah pancaran kecantikannya itu.
Putri bercermin, sambil mengamati penampilan itu.
"Apa aku sudah cantik?" tanyanya pada pantulan dirinya sendiri di depan cermin tersebut.
Putri pun keluar dari kamarnya.
"Udah mau berangkat Non?" tanya Bibi pada Putri yang kini tengah berjalan menuruni anak tangga.
"Iya Bi, gimana udah bagus gak penampilan aku?"
"Cuantikkk banget Non, Tuan Exsel pasti nanti bakalan klepek-klepek, liat si Non," jawab Bibi, sambil mengacungkan kedua Ibu jarinya.
"Ih, Bibi bisa aja. Aku melayang ni, di puji gini!" seru Putri, sambil tertawa.
Bibi ikut tertawa, "fakta itu Non. Gak apa-apa melayang, asal nanti pas turun, mendarat di tempat yang tepat aja. Jangan kaya layangan Putus, gak bertepi, nanti Tuan Exsel, bisa gila, Non!" canda Bibi.
"Hais, Bibi ada-ada aja. Gak bakalan dong Bi. Bibi kebanyakan nonton sinetron ini!" Putri melayani candaan asisten rumah tangganya itu.
Mereka sama-sama tertawa. Ya, begitu Putri dan Bibi.
__ADS_1
Status mereka tak mampu menepis jarak, walau Bibi hanya asisten rumah tangganya, dan Putri majikannya.
Mereka sudah seperti keluarga.
"Udah ah Bi, Bibi lawak mulu," Putri menghentikan tawanya, "aku berangkat dulu ya Bi," pamit Putri kemudian.
"Iya Non, hati-hati ya."
Putri mengangguk, lalu ia kembali berjalan.
Bibi, menatap punggung majikannya itu, yang kini terus berjalan menjauh dari pandangan.
"Semoga si Non, dan Tuan, selalu diberikan kebahagian,'' gumam Bibi. Setalah itu Bibi kembali melanjutkan perkerjaanya.
***
Sementara itu, Exsel dan Doni kini tengah mengobrol, seperti mendiskusikan sesuatu. Mereka duduk di sofa yang ada di ruang kerja Exsel, duduk saling berhadapan, dengan raut wajah yang penuh keseriusan.
"Apa? Jadi dia dalang dibalik semua itu!" pekik Exsel, rahangnya langsung mengeras, dengan tangan yang terkepal geram.
"Iya, harus apakan dia?" tanya Doni.
"Kita beri pelajaran yang setimpal. Buat di hancur!"
"Apa kita gak kasih dia kesempatan? Dia wanita cuy, kasian juga 'kan?"
"Tidak, gak perduli dia wanita atau pria, waria atau pun apa! Gue mau dia hancur, gak ada yang tersisa. Buat dia menderita!" tegas Exsel.
"Oke-oke, laksanakan Bos!" sahut Doni. Sambil menahan tawanya, gimana gak mau tertawa, bawa-bawa waria di saat, sedang serius begini.
"Keluar!" Exsel menggibaskan tangan, meminta Doni untuk keluar dari ruangan itu.
Doni mengangguk, ia langsung berajak dari sofa, dan keluar dari sana.
"Oh iya, bawa Pak Abas sekalian, setalah ini kita ke tempat wanita sialan itu!" pinta Exsel, kepada Doni yang akan keluar dari ruangannya.
"Oke," sahut Doni.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terima kasih.