Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 33 : HTS


__ADS_3

Bibi membuka pintu tersebut, nampak sosok wanita dengan raut wajah merah padam, netranya menatap tajam, menggambarkan kalau wanita itu tengah bergejolak penuh amarah.


"Nyonya Indri?" Bibi terkejut melihat kedatangan Ibu tiri majikanya itu. Apa lagi melihat wajahnya yang penuh amarah, menandakan kalau wanita itu tidak sedang baik-baik saja. Pasti ada sesuatu masalah, Bibi langsung menunduk kepalanya, tak berani menatap lagi. Namun hatinya gelisah. Takut Putri, sang majikan di apa-apakan oleh wanita itu.


"Mana si Putri?" teriak Ibu Indri. Bertanya pada Bibi.


"Siap---" Putri yang menyusul Bibi, saat ia ingin bertanya siapa yang datang pada Asisten rumah tangganya itu. Putri tak melanjutkan ucapannya, karna sudah melihat siapa yang datang tersebut.


Putri cukup terkejut melihat kedatangan Ibu tirinya itu.


Namun Putri berusaha tenang, ia sudah bisa menebak apa maksud dan tujuannya wanita itu.


"Ibu..." Putri berjalan mendekati Ibu Indri, mencoba tersenyum, menyambut kedatangan Ibunya itu. Walaupun sebenarnya Putri malas, dan belum siap berhadapan atau pun bicara dengan Ibu Indri, karna ia sudah terlanjur kecewa dengan wanita itu. Kejadian kemarin, menimbulkan rasa kecewa dan marah di hati Putri. Tapi, untung saja ia bisa menjaga dan lolos dari laki-laki itu. Namun walaupun begitu, Putri masih merasakan ketakutan yang amat dalam, dan itu semua atas ulah wanita yang ada di hadapannya itu. Yang mengaku sebagai Ibu. Tapi, apa bisa wanita itu disebut 'Ibu', apakah ada seorang Ibu yang tega, menjual anaknya pada laki-laki macam Andika? Sial, Putri hampir lupa, statusnya hanya sebagai anak tiri saja, anak tiri yang selalu di manfaatkan oleh Ibu tiri yang mengaku menyayangi.


Dan, mulai saat ini. Sudah cukup! Cukup, setalah apa yang sudah dilakukan Ibu tirinya itu padanya, tidak ingin di bodohi lagi. Terserah mereka mau bilang apa! Yang pasti Putri tidak ingin dimanfaatkan lagi. Cukup, selama ia bodoh. Ya, Putri mengaku kalau selama ini dia bodoh, Putri pikir Ibu tirinya itu benar menyayanginya, walau pun selalu memanfaatkan Putri, apa lagi soal materi.


Ibu Indri langsung mengalihkan pandangannya dari asisten rumah tangga Putri, wanita itu mengalihkan pandangannya pada Putri, yang kini tengah berjalan mendekatinya.


"Masuk Bu," ujar Putri, masih dengan senyuman, mempersilahkan Ibunya itu masuk. Ya, walau pun kecewa, tapi kesopanan harus tetep di jaga. Karna walau bagaimana pun, Ibu Indri lebih tua darinya.


"Tidak usah basa-basi!" ketus Bu Indri. Namun tanpa malunya, wanita itu melenggang masuk ke dalam rumah tersebut.


Putri menggelengkan kepalanya, lalu ia memberi isyarat pada Bibi, untuk meninggalkan mereka berdua. Bibi mengangguk, dengan berat hati wanita parubaya itu berajak, langkahnya terasa berat. Ia tak tenang meninggalkan majikannya itu bicara dengan Ibunya, yang terlihat penuh amarah itu. Namun ia bisa apa, sadar posisinya hanya sebagai asisten rumah tangga di sana.


Ibu Indri langsung duduk di sofa yang berada di ruang tamu tersebut, duduk bertumpang kaki, memasang wajah yang arogan. Ya, dulu Putri selalu menunduk saat melihat gelagat Ibu tirinya yang seperti itu. Tapi sekarang, tidak! Sudah cukup! Putri geram, mungkin sesekali wanita itu harus di beri pelajaran.


Putri ikut duduk di sana, duduk berhadapan dengan Ibu Indri. Putri menatap Ibu Indri, raut wajah Putri terlihat sangat tenang.


"Sial, ada apa dengan anak ini? Kanapa aku yang menjadi tak karuan seperti ini?" batin Ibu Indri. Melihat wajah Putri yang terlihat sangat tenang saat berhadapan dengan itu, sedikit menimbulkan perasaan yang tidak bisa dijelaskan di hati wanita itu.


Biasanya Putri akan ketakutan jika berhadapan dengannya, apa lagi saat ini dirinya sudah menampakan amarahnya.

__ADS_1


"Berani sekali dia? Baiklah, aku akan bikin perhitungan sama kamu anak sialan!" Ibu Indri membatin kembali.


Dalam hati Putri tersenyum puas, melihat tingkah ibu tirinya yang sedikit berubah itu.


"Baiklah Bu, aku ikuti permainan Ibu," batin Putri.


"Mana Siska, Bu? Tumben dia gak ikut?" tanya Putri basa-basi, tentu saja adik tirinya itu tidak ikut. Putri tau kemana adik tirinya itu, sudah di pastikan Siska di bawa oleh Andika. Adik yang malang, tapi maaf, Putri kali ini tidak akan ikut campur lagi.


"Ck..." Bu Indri berdecak sebal, memutar bola matanya. Lalu menatap Putri dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jangan pura-pura tidak tau kamu! Siska di bawa sama si lintah darat Andika itu, dan itu gara-gara kamu!" pekik Bu Indri, dengan tangan yang menunjuk kearah wajah Putri.


"Lho, kok salah aku sih Bu?" elak Putri. Kenapa dia yang disalahkan?


"Halah, tentu saja. Kalau saja kamu tidak kabur! Pasti Siska tidak akan dibawa. Dasar anak tidak tau diri, bodoh! Harusnya kamu itu berterima kasih padaku, karna aku sudah menyerahkan kamu pada si Andika. Dia itu laki-laki normal. Kamu bisa merasakan seutuhnya jadi wanita. Dasar anak tidak tau di untung!" pekik Ibu Indri, ia memaki Putri dengan seenak hati.


"Bu, jaga bicara Ibu!" Putri mulai merasa emosi, tersinggung, dengan ucapan pedas yang keluar dari mulut ibunya itu. Tentu saja, Putri tidak terima, secara tidak langsung wanita yang berstatus ibu tirinya itu, sudah merendahkan martabat Putri sebagai seorang istri, serta menghina Exsel, suaminya.


"Cukup Bu!" teriak Putri, ia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.


"Dasar anak durhaka kamu Putri, berani-beraninya kamu membentak Ibu hah? Kenapa? Kamu tidak terima dengan ucapan Ibu hah?" cerca Bu Indri, wanita langsung berdiri.


"Apa yang Ibu katakan itu memang faktanya bukan? Selama kamu menikah dengan Exsel kamu tidak pernah merasa sentuhan laki-laki itu. Dia laki-laki tidak normal, laki-laki penyakitan. Lebih baik kamu ceraikan saja dia, menikah dengan Andika!" lanjutnya sambil menatap Putri, dengan tatapan sinis.


"Apa? Menikah dengan lintah darat itu! Maaf Bu, aku tidak mau! Dan satu lagi jangan mengatai suamiku. Aku mencintai Mas Exsel dan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah berpikir dari suamiku. Ibu tidak berhak mengaturku!" pekik Putri.


Bu Indri terlihat mengepal kedua tangannya, geram.


"Kamu sudah berani membatah Ibu hah?"


"Maaf Bu, mulai saat ini aku tidak akan lagi menuruti apa mau Ibu! Sudah cukup! Cukup, selama ini aku mengalah, aku selalu menuruti apa mau Ibu. Dan sekarang, aku tidak akan lagi," tegas Putri.

__ADS_1


"Apa kamu tidak kasihan pada Siska hah?"


"Kasihan? Apa Ibu dan Siska memikirkan aku? Tidak, kalian tidak pernah!" Putri benar-benar merasa marah, ia sudah bulat dalam pendiriannya.


Bu Indri nampak terdiam, wanita itu terlihat kehabisan kata-kata.


"Tidak, aku tidka boleh kalah. Aku tidak rela kalau anakku, Siska bersama dengan si Andika itu. Aku harus membujuk anak sialan ini," batin Bu Indri.


"Sebaiknya Ibu keluar dari sini!" usir Putri. Mungkin lebih baik Putri mengusirnya, ia takut tidak bisa mengontrol dirinya.


Ibu Indri terkejut, ia langsung menghampiri Putri, wanita itu meraih kaki Putri, namun sayangnya, Putri dengan cepat menjauhkan kakinya.


"Putri, Ibu mohon sama kamu Nak. Maafkan perkataan Ibu yang menyinggung kamu tadi. Ibu menyesal Nak, Ibu khilaf, Ibu gak bisa kontrol emosi Ibu," lirih Bu Indri. Tiba-tiba wajah wanita itu sudah di banjiri oleh air mata.


Putri mengalihkan pandangannya, muak rasanya.


"Sudahlah Bu, jangan banyak drama! Silakan Ibu pergi dari sini!" Putri kembali mengusirnya, terserah mau dibilang apa! Kejam, atau pun apa. Yang pasti Putri tidak akan tertipu lagi. Air mata yang membasahi wajah Ibu Indri, paling air mata buaya.


"Putri, Ibu mohon Nak. Kasian Siska. Kalau kamu tidak mau kembali sama Andika, Ibu mohon, lunasi hutang itu. Suami kamu 'kan kaya, uang segitu pasti sedikit untuk dia. Ibu mohon, Putri. Kamu dan Exsel orang baik, Ibu tau! Ibu mohon, bantu Ibu dan Siska!" Dengan tanpa rasa malunya, wanita itu memohon dan meminta Putri untuk melunasi hutangnya itu.


Putri tersenyum sinis, "sudahlah Bu, untuk apa melunasi hutang itu. Biarkan saja Siska menikah dengan Si Andika itu. Toh, bukannya dia juga kaya raya? Bukti saja dia bisa meminjam uang sebanyak itu pada kalian?''


"Tapi dia sudah mempunyai istri empat. Apa kamu tega melihat adikmu, dijadikan istri kelimanya?"


Bersambung...


Jangan lupa, tinggalkan jejak kalian.


Dengan like, komen dan Votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2