Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 36 : HTS


__ADS_3

"Dimana Security tadi, Don?" tanya Exsel pada Doni. Exsel terlihat tengah memasukan kunci gembok gerbang tersebut.


Doni menggeridikkan bahunya, karna ia juga tak tahu. Dan memang Security itu tidak terlihat di sana.


Doni mendorong gerbang tersebut, setelah berhasil membukanya, dan bertapa terkejut mereka.


"Aduh..." teriak Security ia terjungkir, saat Doni menggeser gerbang tersebut, karna posisinya tadi tangah duduk sambil memegangi kedua lututnya, bersandar di gerbang tersebut. Doni dan Exsel tentu saja jadi tidak melihatnya, karna memang gerbang itu menjulang tinggi, dan bagian bawahnya memang tertutup.


Doni dan Exsel terlihat menahan tawanya, pastilah. Mau tertawa takut dosa, mana Security itu sudah parunya, uban juga sudah nampak dipinggiran rambutnya.


Exsel membantu Security itu berdiri.


"Ya ampun Pak, lagi ngapain di situ?" tanya Doni.


"Lagi merenungi nasib Tuan, gara-gara Tuan pasti saya bakalan di pecat. Gimana nasib anak dan istri saya nanti, makan apa mereka? Nanti bisa-bisa istri saya yang gemuk, kurus Tuan, nanti kalau kami sedang bermain, pasti saya tidak merasakan lagi empunya lemak-lemak istri saya!" jawabnya sendu.


Namun dibalik kelucuan tersebut, hati Exsel merasa tersentuh. Ia juga merasa bersalah. Begitu juga dengan Doni.


"Maaf ya, Pak. Kami tidak bermaksud memutus rezeki Bapak. Tapi kalau Bapak mau, Bapak bisa kerja di kantor saya. Jika memang majikan Bapak memecat Bapak!" ucap Exsel tulus, lalu ia memberi kartu namanya.


Security yang bernama, Kirun, itu pun mengambil kartu nama tersebut. Ia membaca nama yang tertera di sana. Detik kemudian dia, membulatkan matanya.


"Ini Pak Exsel, pemilik perusahaan yang terkenal itu?" tanyanya, seraya menatap Exsel dengan kagum.


Exsel tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


"Ah, kalau boleh. Tanpa di pecat pun, saya akan keluar dari sini Tuan!" serunya.


"Lagian Nyonya Liany, suka telat kalau ngasih gajih," lanjutnya berbisik.


Membuat Exsel dan Doni terkekeh pelan. Bisa-bisa wanita sok kaya itu, telat memberikan gajih pada pegawainya, memalukan!


"Terserah Bapak, kalau memang Bapak berkanan. Besok datang saja ke kantor saya," ucap Exsel.


Security itu tersenyum sumringah, sambil menganggukkan kepalanya.


"Tapi inget Pak, kerja di tempat kita harus jujur. Jangan suka ompong! Eh salah, suka bohong!" sahut Doni.


"Siap Tuan siap, kalau bohong nanti digigit nyamuk ompong, 'kan!"


"Ya sudah, kami permisi!" ucap Exsel. Seraya melangkahkan kakinya menuju mobil, diikuti oleh Doni yang berjalan di belakangnya.


"Baik Tuan, hati-hati ya!" teriak Security tersebut, sambil melambaikan tangan kearah mobil Exsel yang sudah mulai melaju.


"Bos, yakin mau memperkejakan Bapak itu? Emang kantor kita ada lowongan?" cerca Doni. Sambil terus mengemudikan mobil.


Exsel mengehelai napasnya, lalu ia menjawab pertanyaan Doni tersebut.


"Emang tidak ada, tapi gak apa-apalah. Kasian juga, bantu orang kali-kali. Lagian setalah itu, walaupun dia gak di pecat sama Si Liany, dia tidak akan berkerja di sana juga, 'kan?"


"Iya juga Sih. Terus rencana kita selanjutnya bagaimana?" tanya Doni.

__ADS_1


"Sesuai yang sudah kita rencanakan. Bikin perusahaan dia bangkrut! Tarik semua investor yang berkerja sama dengan perusahaan dia, alihkan pada perusahaan kita! Kalau perlu kita tawarkan keutungan yang lebih besar," jelas Exsel.


"Apa itu tidak apa-apa? Apa perusahaan kita tidak akan terkana masalah nantinya?" cerca Doni kembali.


"Sudahlah, lakukan saja. Aku sudah memikirkan dengan matang, kita tidak akan rugi juga! Bikin wanita itu sampah itu jera!" pinta Exsel.


Doni pasrah, ia menganggukan kepalanya.


***


Semantara itu, Putri kini sudah sampai di kantor Exsel.


Para karyawan di sana, terlihat membungkuk hormat, saat Putri berjalan melewati mereka. Mereka tau siapa Putri, tentu saja wanita cantik itu, adalah istri dari pemilik perusahaan tempat mereka berkerja.


Mereka tak berhenti menatap kagum, apa lagi para karyawan laki-laki, mereka menganggap bahwa Exsel sangat beruntung bisa memiliki istri seperti Putri.


Namun ada juga, para karyawan wanita, yang merasa iri dengan kecantikan istri atasan mereka itu.


Putri berjalan menuju lift khusus. Lift yang langsung menuju ruangan tempat suaminya itu.


Ting...


Lift terbuka, Putri langsung keluar dari sana. Lalu berjalan menuju ruangan Exsel yang hanya berjarak beberapa meter saja.


Sebelum Putri masuk, ia menanyakan terlebih dahulu pada sekertaris Exsel. Ya, Exsel memang mempunyai 2 sekertaris. Sengaja, memang.


Doni sekertaris pribadinya, yang akan ikut kemana saja Exsel pergi, sementara sekertaris wanita yang kini Putri hampiri, khusus untuk di kantor saja. Membantu Doni mengerjakan tugasnya.


"Selamat siang Bu.." sapa wanita cantik, bernama Lia. Ia membungkuk hormat pada istri atasannya itu.


"Bapak sedang keluar Bu," jawab sopan. Tak lupa senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Emm, apa dia bilang mau kemana? Apa ada metting?" tanya Putri kembali.


"Saya tidak tau Bu, tadi Bapak pergi bersama Pak Doni. Tapi, seperti bukan untuk metting, karna memang tidak ada jadwal metting siang ini, setau saya."


Putri terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu saya tunggu di dalam saja!" ujar Putri, Lia mengangguk.


Setalah itu, Putri pun masuk ke dalam ruangan milik suaminya itu.


Putri menghempaskan tubuhnya di sofa, dengan benak yang dipenuhi tanda tanya. Kemana suaminya?


"Kemana Mas Exsel ya? Kalau tidak ada metting, lalu mereka Kamana?" gumam Putri, wanita cantik itu menekuk wajahnya.


"Apa aku tanyakan saja ya?" Putri mengambil ponsel dari tasnya. Lalu mengirim pesan pada suaminya itu.


"Mas kamu di mana?"


Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi, nampak Exsel membalas pesan yang dikirim oleh Putri.

__ADS_1


"*Aku lagi di luar sayang! Ada apa?"


"Sama siapa? Sedang apa?"


"Ada urusan, sama Doni. Emang kanapa?"


"Benaran sama Doni doang?"


"Iya sayang, cuman sama Doni. Emangnya kenapa sih? Tumben banget? Curiga sama Mas? Mau video call hmm?"


"Iya, iya. Percaya. Gak usah. Cepat pulang, aku ada di kantor Mas ini!"


"Hah? Ngapain? Kenapa gak bilang dulu!''


"Emang datang ke kantor suami sendiri gak boleh? Aku kangen tau!"


"Ini udah di jalan. 10 menit lagi nyampe!"


"Oke, aku tunggu! I love you, suamiku."


"I love you too, istriku*."


***


Exsel tersenyum, saat membaca pesan-pesan yang dikirim oleh istri tercintanya itu. Membuat Doni melihatnya dengan heran.


"Ke sambet Bos?" tanya Doni.


"Kepo!" jawab Exsel singkat.


"Lebih cepat bawa mobilnya," lanjut Exsel.


Doni memutar bola matanya, sesuai perintah Bosnya, ia mempercepat laju mobilnya.


***


Begitu juga dengan Putri, ia kini tengah tersenyum-senyum sendiri, membaca kembali pesan-pesan mereka tadi.


"Ih, kok jadi geli sendiri ya!" gumam Putri sambil terkekeh. Apakah ini yang dinamakan Bucin! Tak apalah Bucin sama suami sendiri, pikrinya.


Bersambung..


Jangan lupa, like, komen dan Votenya.


Serta tambahkan di rak favorit kalian, biar aku sudah up, kalian dapat notifikasinya.


Sedikit bocoran nih, hehe.


Yang nungguin Exsel sembuh, sabar ya.


Nanti bakalan indah pada waktunya. Wkwkwk

__ADS_1


bye ...


Terima kasih.


__ADS_2