Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 28 : HTS


__ADS_3

Putri baru saja sampai di rumahnya, ia turun dari taksi yang ia tumpangi itu, setalah membayar ongkosnya.


Putri melangkah memasuki halaman rumahnya itu, keadaan rumah nampak sepi, Putri melihat kearah garasi, di sana juga tidak terdapat mobil suaminya, Exsel.


"Mas Exsel tidak ada di Rumah? Lalu kemana dia? Apa dia mencari ku?'' gumam Putri, bertanya-tanya dalam hatinya.


Putri memutuskan untuk segara masuk ke Rumah, mungkin Asisten rumah tangganya tau. Kemana suaminya itu?


"Non, Putri..." panggil Bibi. Wanita itu tersenyum, menyambut kedatangan majikannya itu.


"Bi," balas Putri tersenyum.


"Non dari mana saja?" tadi Tuan nyariin Non!"


"Bibi juga khawatir, karna gak biasanya semalam ini Non baru pulang," lanjut Bibi. Sambil menghampiri Putri, dengan segelas air putih di tangannya.


"Ceritanya panjang Bi," sahut Putri, ia duduk di kursi meja makan. Mengehelai napas panjang.


"Di minum dulu, Non." Bibi memberikan segelas air putih tersebut pada Putri. Putri mengangguk dan meraih gelas tersebut, lalu meneguk air putih tersebut sampai tandas.


"Jadi Mas Exsel mencariku Bi?" tanya Putri.


"Iya Non, Tuan mencari Non, sedari tadi juga Tuan belum pulang! Emang Non dari mana?"


Putri menjelaskan semuanya pada Asisten rumah tangganya itu. Kejadian yang menimpanya hari ini.


Bibi menyimak, wanita parubaya itu terlihat terkejut saat mendengar semua penjelasan majikannya itu.


Ya, walaupun Bibi hanya sebagai Asisten rumah tangga di sana, namun Putri sangat menyayanginya beliau. Bibi yang selama ini selalu mendangar keluh kesah Putri, bagi Putri Bibi sudah seperti Ibunya sendiri, pun sebaliknya. Bibi, selalu ada untuk Putri.


"Ya ampun Non, kok Nyonya Indri bisa sekejam itu sama Non?'' Bibi terlihat menatap Iba majikannya itu.

__ADS_1


Padahal selama ini kurang baik apa Putri pada Ibu dan Adik tirinya itu. Mereka meminta apapun selalu Putri turuti.


"Iya Bi, aku juga tidak menyangka mereka setega ini padaku. Apa segitu bencinyakah mereka padaku? Apa salahku Bi? Padahal selama ini aku selalu menuruti apa mau mereka!'' keluh Putri, dengan raut wajah sendu, matanya berkaca-kaca. Menahan tangis.


Sedih? Tentu saja! Kecewa? Pasti ada.


"Yang sabar ya Non." Bibi mengelus bahu majikannya itu dengan lembut. Baginya kesedihan Putri, adalah kesedihannya juga, kebahagian Putri kebahagiannya juga.


"Iya Bi. Terima kasih. Bibi selalu peduli sama aku, bibi selalu mendengarkan keluh kesahku," ucap Putri tulus, ia tersenyum tipis pada Bibi.


"Non ini bicara apa sih? Bibi menyayangi Non, Bibi sudah menganggap Non seperti anak Bibi."


Putri melebarkan senyumnya. Mendengar perkataan Bibi tersenyum. Syukurlah, Putri di kelilingi oleh orang-orang yang baik. Asisten rumah tangga yang sudah seperti keluarga, kedua mertua yang sangat menyayanginya, serta Exsel, suami yang sangat mencintainya.


"Tapi kenapa Mas Exsel belum pulang juga ya Bi?" ucap Putri, raut wajah cemas tersirat di wajah cantiknya.


"Coba Non telepon, Tuan."


"Aku tadi sudah mencoba menghubungi Mas Exsel Bi, tapi gak diangkat teleponku," sahut Putri, wanita itu mulai gusar.


Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah tersebut.


"Itu mungkin Tuan, Non!" seru Bibi.


"Semoga saja Bi, biar aku liat dulu," ucap Putri, lalu ia berajak dari duduknya, berjalan menuju arah luar rumah. Untuk memastikan siapa yang datang ke rumahnya itu.


Dan benar saja. Di lihatnya, Exsel baru saja keluar dari mobil tersebut.


"Mas Exsel...." teriak Putri.


Exsel langsung menoleh kearahnya, laki-laki itu langsung berlari menghampiri Putri. Mereka langsung saling berpelukan.

__ADS_1


"Syukurlah Sayang kamu sudah ada di sini," ujar Exsel. Merasa lega, ia mengeratkan pelukannya. Berkali-kali Exsel mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.


"Kamu baik-baik sajakan? Apa dia menyakitimu? Apa dia melukaimu Sayang?" cerca Exsel kemudian.


Putri mengurai pelukannya, lalu ai menatap Exsel, dan mengelengkan kepalanya.


"Tidak Mas, aku baik-baiknya saja!" jawab Putri, tersenyum. Lalu kembali memeluk suaminya itu.


Sementara itu, sedari tadi sosok Doni, sang jomblo abadi menyaksikan dua insan yang tengah berpelukan, seakan dunia itu milik mereka berdua, dan Doni hanya menumpang saja di sana.


"Ehemmm...." Doni berdehem. Refleks Putri dan Exsel langsung melepaskan pelukan mereka. Mereka menatap kearah Doni, yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.


Putri langsung menunduk malu, gugup. Ia sampai lupa kalau ada Doni di sana. Sementara Exsel, laki-laki itu nampak biasa-biasa saja.


"Permisi numpang lewat!" ucap Doni, lalu ia berjalan melewati Exsel dan Putri. Doni masuk ke dalam rumah tersebut, sambil memanggil-manggil Bibi.


"Bibi, minta minum dong! Panas nih..." teriak Doni.


Exsel langsung mengelengkan kepalanya, sementara Putri ia terlihat menahan tawanya.


"Ayo masuk Sayang," ajak Exsel seraya merangkul pinggang istrinya itu. Putri mengangguk.


Lalu mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Mas, aku jadi malu sama Doni," bisik Putri.


"Ck, ngapain malu Sayang! Biarkan saja, biar dia iri sama kita!" sahut Exsel, tanpa dosa.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tambahkan di rak favorit kalian, biar dapat notifikasi kalau aku sudah up.


Salam sayang.


__ADS_2