
Dengan tangan yang gemetaran, Putri mencoba menghubungi suaminya. Mencoba menelepon Exsel, namun sayangnya, telepon Putri tidak diangkat oleh suaminya itu.
"Mas, kamu kemana sih? Angkot dong," lirih Putri. Mengigit bibir bawahnya, sumpah Putri sangat ketakutan. Mana ia masih ada di atas pohon lagi.
Putri terus menghubungi Exsel, namun lagi-lagi suaminya itu tak mengangkatnya.
Raut wajah terputus asa, terlihat terpancar dari wajah Putri.
"Ah, aku kirim pesan saja, siapa tau nanti Mas Exsel baca pesan dariku," ucap Putri. Jari lentik wanita itu mulai bergerak di atas keyboard ponselnya.
Setalah beberapa saat kemudian, Putri kembali memasukkan ponselnya, setelah mengirim pesan, dan tak lupa Putri juga meng-shere lokasi tempat ia berada sekarang.
"Sekarang, aku harus berpikir bagaimana caranya aku turun!" Putri melihat kebawah, mencari cara gimana ia bisa turun.
Putri membuang napasnya, mencoba membuang ketakutannya, bagaimana caranya Putri harus bisa turun, pikirnya.
"Apa aku melompat saja ya?" gumam Putri. Sambil menimbang-nimbang ucapannya itu.
"Tapi ini tinggi sekali, nanti kalau patah tulang gimana?" Bingung, itulah yang saat ini Putri rasakan.
Kalau lompat dari atas pohon kebawah sana, dia tidak yakin baik-baik saja, secara kalau di kira-kira, dari atas sampai kebawah itu tingginya hampir 7 meteran.
Tapi, kalau tidak? Masa iya, dia tetap berdiam diri di sana. Sungguh gelisah.
"Ih ini apa?" ucap Putri, ia merasakan ada sesuatu yang merayap di bawah kakinya.
"Ahkkkk...." teriak Putri. Ia melihat ada ulat bulu yang merayap di kakinya. Dan...
Brugh....
Karna kehilangan keseimbangan, akhirnya membuat Putri langsung terjatuh, dari atas pohon tersebut.
Tapi anehnya, kenapa Putri tidak merasakan sakit.
Ia seperti menindih sesuatu.
"Eh, kok gak sakit ya?'' gumam Putri.
"Awwww...." terdengar suara teriakan kesakitan, Putri tersentak. Ia langsung bangun. Putri begitu terkejut saat melihat laki-laki dengan tubuh posisi tengkurap, laki-laki itu terlihat kesakitan.
"Pantesan saja gak sakit, ternyata aku jatuh menimpa anak buah, laki-laki menyebalkan itu," gumam Putri, sambil menahan tawanya.
"Hey kenapa kau tertawa, bantu aku, sakit sekali badanku," ucap laki-laki itu dengan lirih, seperti dia benar-benar kesakitan. Bagaimana tidak, punggungnya tepat menjadi pendaratan Putri.
"Maafkan aku," ucap Putri, masih menahan tawanya, antara kasian dan senang.
Laki-laki itu terlihat bangun, lalu ia melihat kearah Putri.
"Kau datang dari mana hah? Kenapa kau menimpa punggung ku?" cercanya, sambil meringis kesakitan, mengusap-usap punggungnya.
"Aku terjatuh, karna tadi ada ulat bulu, lagian kenapa kau bisa tertimpa badanku?"
"Hais, aku tidak tau. Aku sedang mencari wanita yang kabur tadi, aku lelap makanya aku diam di bawah pohon," jelasnya. Nampaknya laki-laki itu tidak menyadari kalau wanita yang ia cari itu adalah Putri.
__ADS_1
"Apa dia bodoh? Aku kan ada di depannya?" gumam Putri. Detik kemudian Putri tersenyum sumringah, seperti ini kesempatan dia untuk bisa lolos dari sana.
"Oh seperti itu!"
"Iya, lalu kau, sedang apa kau di atas pohon. Sudah kaya monyet saja," ucapnya.
"Sialan, bisa-bisa dia nyebut aku monyet, sabar Putri, sabar!" batin Putri. Ingin rasanya dia marah, tapi ini bukan waktu yang tepat, yang ada nanti bisa-bisa si Andika itu menemukan. Putri harus segara memanfaatkan anak buah Andika, yang kurang pintar itu.
"Emang ada monyet cantik hah?" tanya Putri.
"Tidak ada, sudahlah. Aku tidak ada waktu untuk berdebat denganmu, aku harus segara menemukan wanita itu, nanti Bos bisa marah padaku," ucapnya, sambil berlalu, dengan jalan terpincang-pincang.
"Eh-eh tunggu!" tahan Putri.
"Ada apa sih?" Laki-laki itu menoleh.
"Apa gerbang di kunci?" tanya Putri.
"Tidak," jawabnya, lalu kembali melangkah kakinya.
Putri tersenyum, lalu ia dengan cepat berlari menuju gerbang. Dan benar saja gerbang itu tidak di kunci, Putri langsung membuka gerbang tersebut, dan segara keluar dari rumah itu.
Sementara laki-laki tadi, ia menghentikan langkah.
Seperti ia baru menyadari sesuatu.
"Eh tunggu! Dia 'kan...." Laki-laki itu menjeda ucapannya, lalu menoleh kebelakang.
"Sial, dia sudah kabur! Kenapa aku bodoh sekali, dia itukan wanita yang sedang aku cari," gerutunya, lalu ia berlari menuju pintu gerbang menyusul Putri.
"Ah sial, bisa kena gorok aku sama Bos!" ucapnya kesal.
Putri terus berlari menjauh dari rumah tersebut, sambil sesekali menoleh kebelakang, memastikan kalau anak buah Andika tidak mengejarnya.
Dan beruntung, seperti mereka tidak mengejar Putri. Putri menghentikan larinya, merasa sekarang dirinya cukup aman. Ia sudah jauh dari rumah tersebut.
Dengan napas yang ngos-ngosan, Putri memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ia berhenti di sebuah halte bus.
"Untung saja mereka tidak mengejar ku, selamat-selamat."
"Orang kaya kok punya anak buah Oneng sih, bisa-bisa dia gak nyadar kalau yang dia cari aku. Huh..." Putri membuang napasnya lega.
Putri tersenyum, mengingat kejadian tadi, apa ini yang dinamakan kecelakaan membawa keberuntungan.
Di rayapi oleh ulat bulu, akhirnya ia bisa lolos juga dari rumah itu.
Kalau saja ulat bulu itu, merayap dari tadi mungkin Putri bisa lolos lebih awal, pikirnya.
"Aku harus segara pulang, Mas Exsel pasti sangat mengkhawatirkan aku," ucap Putri. Ia berajak dari halte Bus tersebut, berdiri di tepi jalan. Menunggu taksi datang.
Beberapa menit kemudian, ada taksi yang melewatinya. Putri langsung menghentikan taksi tersebut.
***
__ADS_1
Sementara itu, Exsel dan Doni kini tengah di perjalanan menuju kediaman Andika, mereka baru saja mendapatkan informasi tentang siapa Andika dan dimana laki-laki itu tinggal.
"Don, lebih cepat bawa mobilnya, gue takut terjadi hal yang buruk sama istri gue," titah Exsel tak sabaran. Raut wajah penuh kekhawatiran terlihat jelas dari wajah tampan laki-laki itu.
"Ini juga udah cepet, dari tau gue ngebut, sabar dikit apa!" pekik Doni, sambil menambah kecepatan laju mobilnya.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai.
Exsel dan Doni langsung turun dari mobilnya.
Namun saat ia hendak masuk, ia di hadang oleh anak buah Andika.
"Siapa kalian? Mau apa kalian kemari?" tanya mereka bertubi-tubi.
"Minggir! Aku mau jemput istriku!" ucap Exsel, dengan penuh amarah.
"Maaf kalian tidak boleh masuk!" ucap mereka, melarang Exsel dan Doni.
Exsel melihat kearah Doni, memberikan sebuah isyarat. Doni mengangguk mengerti. Dan..
Brugh...
Brugh...
Exsel dan Doni menghajar dua anak buah Andika tersebut tanpa aba-aba. Membuat mereka langsung tersungkur. Namum mereka langsung bangun, dan terjadi saling hantam menghantam diantara mereka.
Exsel dan Doni menghentikan aksi mereka, saat melihat dua anak buah Andika yang sudah lemah tak berdaya, seperti mereka pingsan.
Exsel dan Doni meninggalkan mereka, lalu berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
"Putri..." teriak Exsel.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah tersebut, masuk tanpa permisi, membuka pintu dengan keras.
"Siapa kalian?" tanya Andika, menatap Exsel dan Doni penuh tanya, namun raut wajah Andika terlihat menahan amarah.
"Di mana Putri hah?" tanya Exsel, tanpa basa-basi. Ia menghampiri Andika, lalu menarik kerah baju laki-laki itu.
Andika tersenyum sinis, menatap tajam Exsel.
"Jawab!" pekik Exsel.
Bersambung....
Like
Komen
Vote
Jangan lupa ya.
Terima kasih.
__ADS_1
Salam sayang dari author