
Putri sedari tadi mencoba memejamkan matanya, namun enggan terpejam, Putri kini sudah berada di rumah. Kedua orang tua Exsel menyuruh menantunya itu pulang, karna Exsel sama sekali tidak mau bertemu dengan Putri. Kedua mertuanya itu kasihan, dari pada Putri di Rumah sakit tak jelas, karna Exsel sama sekali tidak ingin bertemu dengan istrinya itu.
"Mas Exsel, kanapa kamu bersikap seperti ini padaku Mas? Aku menerima kamu apa adanya, walaupun aku kecewa kamu menyembunyikannya semua ini sama aku. Aku sangat mencintaimu Mas," gumam Putri.
Butiran bening terlihat menerobos pelupuk matanya, lolos membasahi wajahnya. Putri tidak menyangka kalau Exsel berubah secepat ini. Dan mengatakan kalau suaminya itu akan menceraikan Putri secepatnya.
"Tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku harus bisa menyakinkan Mas Exsel, bahwa aku benar-benar menerima kondisinya," lanjut Putri. Ia menghapus air matanya. Optimis, Putri yakin bisa meyakinkan suaminya itu, karna Putri tau, kalau hati Exsel, mencintainya.
***
Sementara di Rumah sakit.
"Mah, Pah. Sebaiknya kalian pulang saja!" pinta Exsel.
"Pulang? Lalu siapa yang akan menjaga kamu Exsel?" sahut Mamah Exsel dengan ketus. Walaupun Exsel kini tengah sakit, tapi tetap saja wanita parubaya itu kesal. Kesal dengan sikap Exsel, yang menurut sangat egois, apa lagi tadi pas Exsel mengusir Putri.
"Tidak Exsel, tidak apa-apa, kami akan menemani kamu di sini," sahut Papah Exsel.
"Exsel tidak apa-apa kok, Pah. Exsel sudah baik, lebih baik Papah ajak pulang Mamah, seperti di sini sangat membahayakan untuk Mamah, Pah. Nanti tensi darah Mamah naik, pas pulang dari sini," ucap Exsel, sambil menahan tawanya. Bermaksud menggoda sang Mamah, namun yang di goda malah membulatkan matanya, semakin kesal.
"Tuh Pah, lihat. Nanti matanya makin lebar," sambung Exsel sambil terkekeh. Papahnya ikut terkekeh.
"Sudah kalian berisik, Exsel kamu tidur sana istirahat, biar besok bisa pulang pagi-pagi," ketus Mamah Exsel.
"Dan kamu Pah, tidur juga. Papah sama anak sama saja, bikin mode bete on," lanjut Mamah Exsel sambil menatap kesal suami dan anaknya itu.
Kedua laki-laki itu, mengangguk serentak.
Mamah dan Papah Exsel, mulai membaringkan tubuhnya di sofa, begitu juga dengan Exsel ia mulai memejamkan matanya.
***
Pagi ini Putri sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan makanan, menyambut kepulangan Exsel dan kedua mertuanya. Di bantu oleh asisten rumah tangganya, Putri memasak dengan begitu semangat, hari ini ia sengaja memasak makanan kesukaan suaminya, bukan hanya itu Putri juga memasak makanan kesukaan Mamah dan Papah mertuanya juga.
Waktu sudah menunjukan jam 10 siang, semua makanan terlihat sudah tertata rapi di atas meja makan, Putri tersenyum puas. Akhirnya ia selasai juga memasak menu yang lumayan banyak hari ini.
Setalah semuanya selesai, lanjut Putri bergegas menuju kamarnya, lama berkutat di dapur membuat badannya terasa sangat lengket sekali.
__ADS_1
Sekitar 20 menit kemudian Putri selesai. Kini ia sudah berganti pakaian, sebuah Dress berwarna merah hati, dengan panjang selutut, Dress tersebut, Dress kado ulang tahunnya, 3 bulan lalu dari sang suami, Exsel sangat suka jika Putri menggunakan Dress tersebut.
Usai merias wajahnya dengan Make-up tipis, Putri kini terlihat sudah cantik dan anggun.
Putri bergegas keluar dari kamarnya. Tak lama terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah tersebut. Sudah dipastikan itu pasti Exsel dan kedua mertuanya. Mereka sepertinya sudah sampai. Putri berjalan ke depan untuk menyambut kedatangan mereka.
Exsel dan Mamah, serta Papahnya terlihat sudah berdiri di depan pintu saat Putri membuka pintu tersebut.
"Hay, sayang. Kamu cantik sekali hari ini," puji Mamah Exsel, wanita itu memperhatikan penampilan menantunya yang memang sangat terlihat cantik dan anggun.
Putri hanya tersenyum, lalu ia meraih tangan Mamah mertuanya itu, lalu beralih meraih tangan Papah mertuanya, yang terakhir meraih tangan Exsel, Exsel memang berdiri dibelakang ke dua orang tuanya, jadi Putri terakhir menyalami suaminya itu. Exsel nampak acuh dan dingin. Apa lagi melihat penampilan Putri yang seperti sekarang ini, entah menagapa Exsel muak rasanya, untuk apa coba istrinya itu berpenampilan cantik di rumah seperti itu. Apa Putri mau pergi keluar? Pikir Exsel, bertanya-tanya dalam hatinya. Namun di balik itu semua, Exsel sangat memuji kecantikan istrinya itu, namun Exsel tak berani untuk mengungkapkannya.
"Masuk Mah, Pah, Mas." Putri mempersilahkan mereka masuk.
Mereka pun masuk, Putri nampak berjalan di belakangnya mereka. Ada rasa sesak di hati Putri, melihat sikap Exsel yang acuh terhadapnya. Tapi tidak, Putri tidak boleh menyerah tidak lemah, ini hanya masalah waktu saja, pikirnya.
"Wah, ini siapa yang masak. Ada makanan kesukaan Mamah dan Papah lagi," ucap Mamah Exsel. Sambil melihat menu makanan yang sudah tersaji di atas meja makan.
"Putri sengaja memasak semua ini, untuk kalian," ujar Putri sambil tersenyum.
"Iya, Mah. Exsel beruntung ya, memiliki istri seperti Putri," Papah Exsel, ikut memanas-manasi.
Putri hanya tersenyum tipis, entahlah, apa harus bahagia mendengar ucapan kedua mertuanya itu? Semantara melihat sang suami, nampaknya tidak suka kedua orang tuanya memuji dirinya.
"Ayo kita makan, Mamah udah laper benget ini, belum sempat sarapan juga tadi pagi," ajak Mamah Exsel. Diangguki oleh suaminya.
Mereka pun duduk di kursi meja makan tersebut, begitu juga Exsel dan Putri.
Tanpa banyak basa-basi kedua mertua Putri, langsung mengambil makanan ke piring mereka masing-masing, dan langsung melahapnya. Sementara Exsel laki-laki itu masih terdiam.
"Mas, aku ambilkan ya," ucap Putri, tanpa menunggu persetujuan suaminya itu, Putri langsung mengambilkan nasi dan lauk pauk, kesukaan suaminya itu dengan senang hati.
Setalah mengambilkan makanan untuk suaminya, lanjut Putri mengambil makanan untuk dirinya.
Setalah itu mereka mulai menikmati makan meraka masing-masing. Exsel dan Putri tidak mengeluarkan suara mereka, hanya sesekali mereka tersenyum melihat tingkah Papah dan Mamahnya. Yang makan saling menyuapi, mereka tak segan-segan mengumbar kemesraan dihadapan anak dan menantunya itu.
Memang sengaja, biar mereka berpikir. Biar sadar!
__ADS_1
Biar gak jadi berpisah juga, pikirnya.
"Hadeh Put, kamu membuat Papah jadi gagal diet ini," ucap Papah mertuanya, sambil mengelus-elus perutnya yang terasa sangat kenyang. Mereka baru saja selesai makan.
"Iya Put, lihat perut Papah mu, sudah macam ibu-ibu tengah hamil 7 bulan aja," timpal Mamah mertuanya sambil tertawa-tawa.
Putri ikut tertawa, tingkah mertuanya ada-ada saja.
Exsel juga terlihat ikut tertawa, namun saat Putri menoleh kearahnya, Exsel langsung menghentikan tawanya.
"Exsel ke kamar dulu," pamit Exsel. Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Exsel langsung berajak begitu saja.
Putri menatap nanar kepergian suami itu. Raut wajah kesedihan terpancar jelas dari wajah cantik Putri.
Perasaan sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Sesak, perih, bercampur aduk menjadi satu.
"Sayang, kamu yang sabar ya! Ini hanya masalah waktu saja," ucap Mamah mertuanya, sambil mengelus bahu sang menantu dengan lembut.
"Iya Put, yang dikatakan Mamah benar. Kamu harus bersabar, Exsel sangat mencintai kamu, dia tidak mungkin melakukan apa yang dia katakan kemarin. Biarkan saja dia sendiri dulu, biar dia berpikir lagi," timpal Papah mertuanya.
Putri menoleh kearah meraka, lalu menampakan senyuman keterpaksaannya. Memang hanya bisa bersabar. Tidak ada yang bisa Putri lakukan lagi selain sabar. Lima huruf yang singkat namun memiliki arti banyak, lima huruf yang singkat namun membutuhkan hati yang kuat untuk menjalankannya. Sabar.
Lalu Putri mengangguk kepalanya.
"Sabar. Dari dulu aku sabar! Semoga tuhan memberi kesabaran yang lebih besar. Aku tidak tau batas kesabaran ku kali ini sampai mana," batin Putri.
Bersambung...
Like
komen
Vote.
Terima kasih.
__ADS_1