Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 23 : HTS


__ADS_3

Mobil Exsel terlihat memasuki halaman Rumah Ibu Indri, Exsel langsung keluar dari mobilnya dan berjalan menuju Rumah tersebut.


Tanpa mengetuk pintu dan pun permisi, Exsel langsung membuka dan melangkah masuk ke dalam Rumah tersebut.


Siska dan Ibu Indri nampak terkejut melihat kedatangan Exsel, namun beberapa saat kemudian, mereka mencoba bersikap biasa-biasa saja.


"Kak Exsel..." panggil Siska.


"Mana Putri?" tanya Exsel.


Ibu Indri dan Siska melihat pada Exsel, lalu setalah itu Ibu Indri dan Siska mengalihkan pandangan mereka, Ibu dan anak itu saling menatap, seolah mereka ikut bingung.


"Saya tanya sama kalian! Dimana istri saya?" tanya Exsel lagi dengan nada penuh penekanan. Exsel menatap tajam Ibu dan Adik iparnya itu.


"Emm, kami tidak tau!" jawab Siska gugup.


"I-iya, kami tidak tau. Putri tidak ada ke sini," timpal Ibu Indri.


Exsel terdiam, ia masih menatap dua wanita itu, dari raut wajah yang mereka tunjukkan, Exsel yakin mereka kini tengah berbohong. Seperti ada yang mereka sembunyikan. Exsel yakin Ibu dan Adik iparnya itu tau soal Putri.


"Lagian Kak itu 'kan suaminya. Istri gak ada di Rumah kok gak tau kemana? Aneh," ucap Siska sinis.


"Iya benar. Kamu itu suaminya. Kenapa malah nanya ke kita!"


"Kalian berbohongkan? Kalian pasti tau Putri dimana?" ucap Exsel.


"Kami tidak tau! Lagian untuk apa kami berbohong? Untuk apa kami menyembunyikan si Putri?"


"Aku tidak percaya!" pekik Exsel. Lalu Exsel berjalan menyusuri setiap ruangan yang ada di Rumah tersebut. Sambil memanggil-manggil istrinya itu.


"Putri...."


"Put..." teriak Exsel.


Siska nampak akan menyusul Exsel, namun Ibunya menahannya.


"Sudah biarkan saja, biar dia puas. Lagian biarin aja dia nyari sampe ke liang semut yang ada di Rumah ini, dia gak bakalan ketemu sama istri tercintanya itu!" bisik Ibu Indri pada Siska.


"Iya juga ya," sahut Siska sambil tersenyum sinis.


Exsel sudah mencari Putri ke setiap ruangan Rumah tersebut, namun hasilnya nihil. Lalu Exsel berjalan kearah halaman belakang Rumah tersebut, namun hasilnya sama, Putri tidak ada. Di halaman tersebut hanya ada asisten Rumah tangga Ibu Indri yang tengah menyiram tanaman.

__ADS_1


"Putri.." Exsel masih berteriak memanggil-manggil nama istrinya itu.


"Tuan Exsel," sapa Bibi dengan ramah.


"Cari Non Putri ya?"


"Iya Bi, apa bibi liat tadi Putri ke sini?" tanya Exsel.


"Jangan di sini bicaranya, saya takut ketahuan nyonya," bisik Bibi. Exsel menganggukkan, lalu ia mereka berjalan menjauh dari halaman belakang tersebut.


"Tuan Exsel, tapi saya minta, Tuan janji tidak bilang sama Nyonya, saya takut di pecat," ucap Bibi seraya menundukkan kepalanya.


"Iya Bi saya janji, cepat katakan! Ada apa sebenarnya?"


"Bibi, tenang saja. Kalau pun bibi di pecat, saya akan bertanggung jawab," lanjut Exsel.


"Gini Tuan, tadi itu ada tiga laki-laki datang ke Rumah, saya sempat mendengar percakapan mereka, mereka seperti menagih hutang ke sini..." bibi menjeda ucapannya. Ia nampak ragu mengatakan yang sebenarnya pada Exsel.


"Lalu?" tanya Exsel tak sabaran.


"Tuan, maaf saya takut, kalau sampai saya ketahuan saya bisa di pecat."


"Bi, bibi tenang saja. Itu tidak akan terjadi. Kalau pun itu terjadi saya sudah bilang, saya akan bertanggung jawab Bi." Exsel mencoba menyakinkan bibi, karna hanya asisten rumah tangga Ibu Indri itulah, yang bisa memberikan petunjuk pada Exsel.


"Nyonya sepertinya tidak bisa melunasi hutang itu, dan mereka meminta Non Siska sebagai gantinya. Tapi Non Siska tidak mau, dan..." Lagi-lagi bibi menjeda ucapannya.


"Dan apa Bi?"


"Seperti, Non Putri mengantikan Non Siska Tuan," lanjut Bibi, sambil menundukkan kepalanya.


"Apa? Jadi Putri di bawa oleh mereka?" tanya Exsel. Bibi mengangguk pelan.


"Memangnya hutang apa Bi? Sebesar apa hutang mereka sampai-sampai orang itu membawa istriku?"


"Saya tidak tau yang jelasnya Tuan, tapi katanya hutang itu, hutang yang di tinggalkan mendiang Ayahnya Non Putri, Bibi pernah dengar sekilas, katanya hutangnya sampe 10 Milyar."


"10 Milyar?" Exsel membulatkan matanya. Tak percaya.


"10 Milyar, hutang apa? Untuk apa mendiang Ayah Putri meminjam uang sebanyak itu? Bukannya setiap bulan kebutuhan mereka aku cukupi?" lanjut Exsel berucap dalam hatinya.


"Ya sudah, kalau begitu aku permisi Bi. Bibi, tenang saja, jika terjadi apa-apa sama Bibi, saya akan bertanggung jawab. Dan jika ada apa-apa, atau ada kabar dari Putri, bibi segara kabarin saya ya."

__ADS_1


"Iya Tuan," jawab Bibi ramah.


Exsel pun berlalu dari sana, ia kembali masuk ke dalam Rumah.


"Bagaimana, ada tidak Putri hah?" ucap Siksa sinis.


Exsel tak menjawab, ia langsung berlalu melewati Ibu dan Adik iparnya itu. Hanya buang-buang waktu, pikirnya. Lebih baik Exsel mencari informasi tentang istrinya.


Exsel sengaja berpura-pura tidak tau. Karna, jika ia menanyakan kebenaran pada dua wanita iblis itu, mereka tidak akan mengaku, terlebih ia harus bisa mengerti posisi bibi, yang tadi memberikan informasi padanya.


"Lihat saja, jika terjadi apa-apa dengan istriku, aku tidak akan memaafkan kalian, aku akan memberikan pelajaran yang setimpal untuk kalian, dasar wanita tidak punya hati," pekik Exsel, penuh amarah. Seraya melajukan mobilnya meninggalkan Rumah tersebut.


"Sis, Exsel kira-kira curiga gak ya sama kita?" tanya Ibu Indri setelah Exsel pergi.


"Gak akanlah Mah, liat aja tadi. Dia gak bisa berkutik bukan. Dasar laki-laki bodoh!"


"Iya juga sih."


Lalu mereka tertawa keras. Merasa bahwa mereka sudah menang.


"Eh tapi itu Pak Andika, kira-kira diapain ya si Putri?" tanya Ibu Indri lagi.


"Gak tau. Terserahlah mau diapain juga. Bukan urusan kita Bu, yang penting kita gak ada lagi urusan sama dia."


Tanpa mereka ketahui, sedari tadi sepasang mata memeperhatikan mereka. Bibi sengaja mendengar ucapan ke dua majikannya itu.


Bibi memang sudah cukup lama berkerja di Rumah tersebut, bahkan sebelum mendiang ayahnya Putri menikah dengan Ibu Indri.


Jadi Bibi sangat menyayangi Putri, ia merasa kasian pada majikannya itu.


"Jadi namanya Pak Andika, aku harus kasih tau Tuan Exsel," batin Bibi. Lalu bibi segara berajak menjauh dari sana. Untuk memberikan informasi tersebut pada Exsel.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Jangan lupa ya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2