Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 20 : HTS


__ADS_3

Pagi harinya...


Seperti biasa Exsel dan Putri kini tengah menikmati sarapan pagi mereka.


Namun sedari tadi Putri nampak memperhatikan suaminya itu, hanya mengaduk-adukkan saja nasi goreng di piringnya, tanpa memakannya. Putri tau Exsel tengah banyak pikiran. Pasti dia tidak sedang nafsu makan.


"Mas, di makan dong nasi gorengnya. Apa mau sarapan menu lain?" tawar Putri.


Exsel mengehelai napasnya. Lalu ia meletakan sendok dan garpu. Exsel mengusap wajahnya sedikit kasar.


"Mas, aku tau pikiran Mas saat ini sedang kalut. Tapi tetap Mas harus pikirkan kesehatan Mas juga."


"Aku tidak nafsu Put."


"Aku berangkat ya," lanjutnya berpamitan. Exsel berajak dari duduknya, sekilas ia mendaratkan kecupan di kening istrinya itu sebelum ia pergi.


"Baik-baik di Rumah ya Sayang," ucap Exsel. Lalu melangkahkan kakinya keluar dari Rumahnya itu.


Putri menatap punggung suaminya itu, yang semakin menjauh, hingga tak lama kemudian punggung Exsel tak terlihat lagi.


Setalah kepergian Exsel, membuang nafas beratnya. Ia pun menyudahi sarapannya, padahal belum setengahnya nasi goreng yang di piringnya itu dia makan.


"Harus bagaimana aku sekarang?" gumam Putri.


Putri berajak dari meja makan, ia berjalan menuju kamar. Lalu ia mengambil ponselnya.


Beberapa panggilan tak terjawab terlihat di sana, saat Putri membuka ponselnya itu.


"Ibu..."


Ya sedari tadi Ibu Indri terus menelpon Putri, Putri sudah tau maksud dari sang Ibu tirinya itu.


Pasti dia mau menanyakan soal uang tersebut.


"Bagaimana ini? Aku harus bilang apa sama Ibu?" lagi-lagi Putri bergumam, seraya berjalan mondar-mandir, dengan tangan yang masih memegangi ponselnya itu.


Tiba-tiba ponsel Putri berbunyi kembali, nampak panggilan dari Ibu Indri masuk kembali. Beberapa detik Putri menatap layar ponselnya itu, antara iya dan tidak, tepatnya ragu, Putri akan mengangkat telepon masuk tersebut.


"Aku coba bicara saja sama Ibu,'' ucapnya. Akhirnya Putri memutuskan untuk mengangkat telepon masuk dari Ibu tiri itu.


"Hallo Put..."


"I-ya, hallo Bu..."


"Kamu dimana?" tanya Ibu Indri. Nada bisanya terdengar penuh kekesalan.

__ADS_1


"Di Rumah Bu, Bu maaf...." Putri menjeda ucapannya.


"Tidak usah minta maaf, semuanya sudah terlambat!" pekik Ibu Indri, namun terdengar isakkan tangis dari ujung sana.


"Bu, Ibu kenapa? Apa maksud Ibu?" tanya Putri, mendengar isakkan tangis Ibu, Putri terlihat khawatir.


"Adik kamu Put, Adik mu..."


"Siska kenapa Bu?''


"Adik kamu di bawa, Siksa di bawa oleh mereka. Tadi orang-orang itu datang lagi ke sini, mereka menagih uang itu, karna Ibu belum punya, mereka langsung membawa Siska," jelas Ibu Indri.


"Ibu takut Put, Ibu takut Siska kenapa-napa. Tadi Ibu sempat mendengar mereka menelpon Bos mereka, katanya Siska akan menjadi ganti uang itu, Bos mereka akan menikahi Siska."


"Apa?" Putri terlihat sangat kaget. Tapi, ia bingung harus bagaimana.


"Ibu, Ibu tenang dulu ya. Aku ke Rumah Ibu sekarang," lanjut Putri.


"Iya Put, cepat ya. Ibu tunggu!"


"Iya Bu."


Putri langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Dengan wajah yang masih terlihat panik bercampur khawatir, Putri mengambil tas dan kunci mobilnya. Ia berjalan tergesa-gesa.


Setalah sampai di luar rumah, Putri langsung menuju mobil, masuk, lalu melajukan mobilnya itu meninggal Rumah, melaju menuju arah Rumah Ibu Indri.


***


"Bagaimana Bu?" tanya Siska. Ia nampak penasaran. Usai Ibunya selesai menelepon Kakak tirinya itu.


"Lancar, dia akan ke sini sekarang katanya," jawab Ibu Indri. Lalu mereka berdua tersenyum, tersenyum dengan senyuman yang sulit diartikan.


"Mampus elo Putri," batin Siksa.


Ya, apa yang dikatakan Ibu Indri pada Putri tadi, hanya pura-pura semata. Entah apa yang saat ini mereka rencanakan. Tapi sudah di pastikan Putri akan menjadi korban.


"Oh Iya Bu, Ibu udah hubungi orang-orang itu belum?"


"Tentu saja sudah. Mereka akan datang saat nanti Putri sampai di sini."


"Ibu emang the best!" seru Siska.


***


Sebelumnya....

__ADS_1


"Mana uangnya?"


"Ini sudah jatuh tempo!"


"Kalian harus mengembalikkan uang itu sekarang juga!"


"Maaf, kami belum ada," ucap Ibu Indri dan Siska,. keduanya saling berpegangan tangannya, sambil menundukkan kepalanya. Tak berani melihat wajah-wajah, berpenampilan serba hitam itu.


"Apa kata kalian?" Kedua laki-laki itu tersenyum sinis.


"Kalau begitu, kami akan menyita rumah ini," lanjutnya.


"Jangan, kami mohon jangan sita Rumah ini. Ini satu-satunya harta kami." Ibu Indri dan Siska memohon pada mereka.


Kedua laki-laki itu terlihat saling melemparkan pandangan mereka. Menatap satu sama lain, sorot mata mereka seperti saling memberikan isyarat. Beberapa detik kemudian, keduanya mengangguk.


"Baiklah, kami tidak akan menyita Rumah kalian. Tapi ada syaratnya!''


"Apa? Kami akan menuruti apa syarat yang kalian minta."


"Kami akan membawa anak Ibu pergi, dan memberikannya pada Tuan kami!"


"Apa? Tidak, aku tidak mau!" tolak Siska, dengan suara memekik.


Ibu Indri langsung menatap tajam kearah Siska.


Membuat Siska langsung tak bergeming.


"Baik, saya setuju. Suruh saja Tuan kalian untuk menjemput anakku nanti," timpa Ibu Indri.


Laki-laki tersebut terlihat tertawa penuh kemenangan.


Semantara Lisa, ia masih tak habis pikir dengan Ibunya itu.


"Baiklah, kalau begitu, nanti kami akan kembali."


Kedua laki-laki berpakaian serba hitam langsung kelau dari Rumah Ibu Indri.


Bersambung....


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2