Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 18 : HTS


__ADS_3

Exsel dan Putri keluar dari Restoran tersebut. Mereka langsung berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam mobilnya.


Exsel mulai menjalankan mobilnya meninggalkan Restoran tersebut. Dalam perjalanan Exsel nampak diam, dengan raut wajah dingin. Putri yang memperhatikan suaminya itu sedari tadi, tak berani berbicara, melihat ekspresi wajah Exsel yang seperti itu, Putri bisa menabak bahwa suasana hati suaminya itu kini sedang tidak baik-baik saja.


Namun memilih diam, dengan seribu pertanyaan yang kini menari-nari di benaknya. Kenapa wanita tadi bisa mengetahui bahwa Exsel Impoten? Dan serta banyak orang-orang yang seolah menyindir kondisi suaminya itu? Bukankah selama ini tidak ada orang yang tau tentang kondisi Exsel itu? Hanya Putri dan orang tuanya saja yang tau bukan? Tapi tunggu! Putri teringat dengan kata-kata wanita tadi, berita yang sedang viral.


Dengan cepat Putri mengambil ponselnya dari dalam tasnya, lalu membuka sosial media. Putri membulatkan matanya, saat melihat salah satu Artikel yang membagikan cerita.


"Pengusaha Kaya, Tampan, ternyata Pria Impoten"


Putri segara mengklik situs Artikel tersebut, Putri membulatkan matanya, saat membaca isi Artikel tersebut, serta ada satu video Exsel dan Doni juga di sana. Putri tak berani memutar video tersebut, ia sudah cukup tercengang membacanya.


Exsel sekilas menoleh kearah Putri yang tengah menatap layar ponselnya itu. Exsel terlihat bingung, melihat ekspresi wajah istrinya itu.


"Ada apa Put?" tanya Exsel, karna penasaran akhirnya Exsel membuka suaranya.


"Emm, Mas..." lirih Putri pelan. Ia menoleh kearah Exsel.


"Kenapa?"


"I--ini..." Dengan tangan yang bergemetar Putri memberikan ponselnya pada Exsel.


Exsel langsung mengambil ponsel Putri, lalu ia menepikan terlebih dahulu mobilnya. Karna tidak mungkin Exsel bermain ponsel saat mengendarai mobilnya, ia masih waras. Setidaknya walaupun suasana hatinya sedang kalut, ia tetap harus memikirkan keselamatannya, apa lagi saat ini tengah bersama Putri, wanita yang paling ia cintai.


Setalah menepikan mobilnya, Exsel langsung fokus melihat layar ponsel Putri, dengan raut wajah penuh amarah Exsel membaca isi artikel tersebut, serta memutar Video-nya.


"Sial..." pekik Exsel. Tangan sebelahnya mencengkeram setir dengan sangat kuat.


"Siapa yang sudah membagikan informasi ini?" lanjut Exsel dengan napas yang bergemuruh.


"Sabar Mas, jangan emosi," Putri mencoba menangkan suaminya, dengan mengelus bahu Exsel.


"Bagaimana aku bisa sabar Put? Lihatlah, berita ini


sudah di bagian ribuan kali. Berita ini sudah tersebar luas! Siapa yang sudah membocorkan rahasia aku!" pekik Exsel.


"Tapi itu beneran Video Mas sama Doni? Maksud aku apa memang Mas pernah berbincang seperti itu sama Doni? Apa itu bukan editan orang Mas?"


"Tidak Put. Benar, itu benar aku dan Doni. Kami memang sempat membicarakan hal itu, tentang kondisi aku!" Exsel terlihat frustasi. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, lalu mengusap wajahnya dengan kasar pula.


"Ya ampun, bagaimana ini Mas?" Putri terlihat panik, ia ikut kalut, bukan Putri malu jika semua orang tau tentang kondisi suaminya itu. Putri sama sekali tidak malu punya suami yang bisa di bilang tidak sempurna seperti Exsel. Tapi yang Putri pikirkan saat ini adalah kondisi Exsel, reputasi suaminya bagaimana? Apa lagi dikalangan para pembisnis, ini akan jadi salah satu cela mereka untuk menjatuhkan suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak tau Put," lirih Exsel.


"Tenang Mas, kamu tenangkan diri kamu. Sebaiknya kita pulang dulu saja ke Rumah. Kita cari jalan keluarnya nanti sama-sama Mas," pinta Putri.


"Jalan keluar bagaimana Put? Tidak ada jalan keluar, semuanya hancur Put, sebentar lagi semuanya hancur!" pekik Exsel.


"Mas, jangan bicara seperti itu!" Putri menarik tangan Exsel dan menggenggamnya, "kita lewati ini sama-sama Mas," lanjut Putri, mencoba menyakinkan Exsel.


"Terima kasih Put," ucap Exsel tulus, membalas genggaman tangan Putri. Putri bagaimana penyemangat untuk Exsel.


"Sama-sama Mas," balas Putri.


***


Doni terlihat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seperti halnya Putri dan Exsel, Doni juga kini merasa shock serta bingung harus bagaimana. Ya, Doni baru saja mengetahui tentang tersebarnya berita mengenai kondisi Exsel.


"Sial, siapa yang sudah membocorkan semuanya? Lihat saja, aku akan secepatnya menemukan pelakunya!" pekik Doni.


Sebelum Doni sudah menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk menyelidiki masalah itu. Serta Doni sudah menyeluruh orang untuk menghapus semua berita yang sudah tersebar di Internet tentang kondisi Exsel.


Doni melajukan mobilnya menuju kediaman Exsel. Namun saat Doni sudah sampai di dekat Rumah Bosnya itu, Doni menghentikan mobilnya.


"Sial, kenapa wartawan-wartawan itu ada di sini?" pekik Doni. Melihat kediaman Exsel yang di penuhi oleh banyak wartawan. Doni mengeringkan niatnya untuk menemui Exsel.


"Mampus kau!" ucap Doni. Tersenyum penuh kemenangan. Lalu Doni mulai melaju mobilnya kembali.


Namun saat sampai di depan Rumah Exsel, sebuah mobil terlihat mendahului Doni masuk ke dalam halaman Rumah tersebut. Ya, itu adalah mobil Exsel, Exsel dan Putri baru saja sampai di Rumahnya.


"Untung gue tepat waktu!" ucap Doni. Ia tak bisa membayangkan kalau tadi ia telat saja sedikit. Sudah di pastikan Doni akan terkana marah Bos-nya itu. Jika wartawan-wartawan tadi masih ada di depan Rumah Exsel.


Doni memarkirkan mobilnya di depan rumah Exsel, lalu ia keluar dan langsung menghampiri Exsel.


"Bos..." panggil Doni. Exsel dan Putri yang tengah berjalan masuk ke dalam rumah, langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Doni.


"Don..." Exsel terlihat memberikan tatapan tajam kepada Doni.


"Sudah sebaiknya kita bicara di dalam saja!" sahut Putri, ia menarik tangan Exsel. Exsel pasrah mengikuti langkah istrinya. Dan Doni mengikuti mereka.


Kini mereka sudah duduk di sofa ruang tamu.


Exsel masih menatap tajam kearah Doni. Sementara Doni, ia berusaha terlihat biasa-biasa saja, padahal sedari tadi ia menelan silivanya. Takut cuy...

__ADS_1


"Don, apa kamu tau siapa yang sudah menyebar berita itu?" Putri memilih membuka suara, bertanya pada Doni. Dari pada melihat suasana yang mencekam lebih dari kuburan, pikirnya.


Doni terlihat mengelengkan kepalanya.


"Tidak tau, tapi saat ini kita sedang mencari tau," jawab Doni.


"Apa kamu tidak mencurigai seseorang Don?" tanya Putri lagi.


"Ada, tapi untuk sekarang aku tidak akan mengatakan, takut salah. Tapi kamu tenang saja Put, aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki masalah ini, dan aku juga sudah menyuruh orang-orang ku untuk menghapus berita itu di internet."


"Bagus!" sahut Exsel.


"Cari tau secepatnya! Beri tahu aku segara jika kamu sudah menemukannya! Sekarang kamu pergi sana," lanjut Exsel. Tanpa ragu mengusir Doni.


Doni mendengus kesal, benar-benar tidak tau terima kasih, pikirnya.


"Sabar Doni, sabar..." teriak Doni. Sengaja meninggikan suaranya.


"Oke deh, gue cabut dulu. Bye ...." lanjutnya, seraya berajak dari sofa lalu keluar dari Rumah Bos sekaligus sahabatnya itu.


"Sebaiknya kita istirahat Mas, sudah malam sebaiknya kita tidur. Apa Mas mau makan dulu? Tadi kita belum sempat makankan Mas," ucap Putri.


"Kalau kamu lapar, kamu makan saja Sayang. Mas tidak lapar, sudah tidak nafsu makan rasanya," ucap Aditia.


"Mas, Mas harus makan. Kita makan sama-sama ya. Sudah Mas jangan banyak pikiran, semuanya pasti baik-baik saja Mas," bujuk Putri.


Exsel membuang napas beratnya. "Ya sudah ayo kita makan," ajaknya. Pasrah. Tak tega juga Exsel membiarkan istrinya itu makan sendirian.


Sekacau apa pun Exsel, Putri- lah yang bisa membuatnya merasa baik-baik saja kembali.


Putri segalanya untuk Exsel.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Jangan lupa.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2