
Exsel merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Putri wanita itu masih berada di kamar mandi, masih melakukan ritual mandinya.
Exsel menetap langit-langit kamar tersebut, dengan tangan yang melipat ke atas, dijadikan bantalan.
Tatapan Exsel menerawang, entah apa yang di pikirkan laki-laki itu.
30 menit berlalu, pintu kamar mandi terlihat terbuka.
Sosok Putri nampak keluar dari sana. Dengan handuk yang melilit tubuhnya, kaki jenjang putih yang mulus, tampak terekspose. Exsel yang mendengar bunyi pintu terbuka, ia menoleh kearah Putri, yang kini tengah berjalan menuju lemari, untuk mengambil baju ganti.
Exsel tak berkedip sama sekali, matanya mengikuti langkah Putri, sambil menelan silivanya. Melihat pemandangan yang sangat indah tersebut. Ada rasa panas di tubuhnya, yang mendesir tak karuan.
Putri tak menyadari, bahwa kini Exsel tengah memperhatikannya, ia melanjutkan berganti pakaian di sana.
Lagi dan lagi, Exsel menelan silivanya. Melihat Putri yang melepas handuknya, tubuh bagian belakang yang molek, milik istrinya itu terpang-pang jelas di sana.
Putri masih tak menyadari kehadiran suaminya itu, karna sedari tadi Exsel memang tidak bersuara, Putri pikir Exsel tidak ada di kamar. Ia terus melanjutkan memakai semua pakaiannya, hingga selesai.
Putri mengambil handuk, berniat akan menyimpan handuk itu ke tempat semula, Putri membalikan badannya. Dan...
Putri terkejut, seketika ia langsung terdiam, saat melihat Exsel yang tengah berbaring di atas kasur, dengan mata yang menatap kearahnya.
Untuk beberapa saat, tatapan mereka saling bertemu.
Namun keduanya, masih tak mengeluarkan suara mereka. Putri dan Exsel terlihat sama-sama salah tingkah.
Hingga beberapa detik kemudian, Putri langsung menundukan kepalanya, dan Exsel mengalihkan pandangannya kearah lain.
Putri kembali melanjutkan langkahnya, dengan kepala yang menunduk, menyembunyikan wajahnya yang terlihat sudah memerah seperti udang rebus.
"Apa Mas Exsel melihat saat aku berganti pakaian tadi?" gumam Putri.
"Ck, bodoh! Pasti dia lihatlah, dari tadi seperti dia ada di sana. Ah, kenapa aku tidak menyadarinya!" Putri bergumam kembali.
Sementara Exsel melihat Putri yang berlalu, ia merasa sedikit lega. Exsel mencoba menetralkan dirinya yang tidak jelas itu. Antara salah tingkah dan malu, rasanya.
"Huh, kenapa aku merasa seperti maling yang ketahuan pemilik rumahnya?"
"Padahal Putri, 'kan istri ku. Semua milik Putri itu milikku. Ah, andai saja aku ini bukan laki-laki cacat. Aku pasti tidak akan menyia-nyiakan moment seperti tadi!" Exsel bermonolog dengan dirinya sendiri, di dalam hati.
__ADS_1
Tersiksa? Tentu saja! Sebagai seorang laki-laki, tepatnya seorang suami. Exsel merasa menjadi laki-laki yang tidak berguna. Ia mencintai Putri, tapi tak bisa memberikan kebahagiaan yang lebih pada istrinya itu.
Hanya ungkapan cinta saja, selebihnya tidak ada. Apa lagi memberikan kebahagiaan batin untuk istrinya itu.
"Ya Tuhan, apa aku bisa sembuh? Sampai kapan aku seperti ini? Aku lelah, aku takut suatu hari nanti Putri meninggalkan aku," batin Exsel.
"Mas..." Terdengar suara lembut, yang memanggilnya. Exsel langsung tersadar dari lamunannya itu.
"Iya, Sayang," sahut Exsel, seraya menoleh kearah Putri.
"Aku kira sudah tidur!" ucap Putri. Lebih tepatnya basa-basi, berharap kejadian tadi tak teringat lagi. Karna ia malu rasanya. Padahal Exsel suaminya, tidak masalah sebenarnya, melihat tubuhnya itu, bahkan lebih juga tidak apa-apa, memang itu haknya.
"Belum, sini." Exsel menepuk kasur di sebelahnya meminta Putri untuk berbaring di sampingnya.
Putri mengangguk, lalu ia naik ke atas kasur tersebut dan membaringkan tubuhnya di samping Exsel.
Exsel membawa Putri ke dalam pelukannya, ia menjadikan tanganya sebagai bantalan untuk kepalanya istrinya itu, Putri melingkarkan tangannya di pinggang Exsel, membenamkan kepalanya di dada bidang kokoh milik suaminya itu.
Untuk beberapa saat mereka tak bersuara, menikmati pelukan hangat tersebut, nyaman, itulah yang sama-sama mereka rasakan.
"Sayang..." panggil Exsel.
"Jangan pernah tinggalkan aku ya, Putri."
Putri mengangkat kepalanya, lalu menatap Exsel.
"Aku tidak akan pernah ninggalin kamu Mas," ucap Putri bersungguh-sungguh.
"I love you.." Exsel mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.
"I love you too.." balas Putri.
"Sayang, setelah semua masalah Mas selesai. Kamu maukan temenin Mas?" tanya Exsel.
"Temenin? Kemana?" Putri berbalik bertanya.
"Emm, Mas mau berobat, mau konsultasi lagi sama Dokter, soal penyakitnya Mas ini. Mas berharap ada keajaiban untuk Mas sembuh. Ya, walaupun gak yakin!" jelas Exsel.
Putri tersenyum, lalu ia menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Tentu saja Mas, aku pasti akan temenin Mas. Mas harus yakin, Mas pasti sembuh. Kita berjuang sama-sama Mas," ujar Putri tulus.
"Terima kasih Sayang. Semoga saja Mas sembuh, Mas juga pengen..." ucap Exsel, sambil mengedipkan mata sebelah.
Putri tekekeh.
"Emmm, Mas, apa gak mau coba dulu?" tanya Putri ragu-ragu.
Bukan Putri tidak sebaran ingin di sentuh oleh suaminya itu, tapi selama ini mereka memang belum pernah mencoba melakukannya.
"Maaf ya Sayang, Mas takut mengecewakan kamu," ucap Exsel sendu. Merasa bersalah, Exsel tau apa maksud perkataan istrinya itu. Namun untuk saat ini, Exsel tidak ada nyali. Ia belum siap.
Walaupun hasrat ada saat bersentuhan dengan istrinya itu. Namun takutnya juniornya nanti tidak bereaksi.
Dan, akhirnya hanya menyiksa dirinya sendiri.
Untuk saat ini Exsel harus sabar, menahan hasratnya.
Ia ingin konsultasi terlebih dahulu pada Dokter. Jika memang penyakit itu masih ada, maka Exsel sudah berniat ingin mengobatinya, sampai ia benar-benar bisa sembuh. Tekatnya sudah bulat.
"Aku mengertilah Mas, tidak apa-apa. Ya sudah sebaiknya kita tidur," ucap Putri, ia memberikan senyuman manis pada semua itu.
Tidak apa-apa, Putri mengerti posisi suaminya itu.
Putri tidak merasakan kecewa. Yang pasti, ia akan sabar menanti, sampai waktu itu tiba. Dan akan indah pada waktunya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Dengan cara like, komen dan Votenya.
Boleh gift hadiah juga, gak nolak kok.
Wkwkwk....
Salam Sayang...
Jangan lupa bahagia.
__ADS_1