Hasrat Terpendam Suamiku

Hasrat Terpendam Suamiku
Bab. 29 : HTS


__ADS_3

Exsel dan Putri pun berjalan masuk, mereka menghampiri Doni, yang tengah duduk di kursi meja makan, dengan segelas jus jeruk yang sudah di teguk setengahnya.


"Enak?" tanya Exsel, melihat pada Doni. Lalu Exsel menarik kursi meja makan yang lain, dan duduk di sana. Begitu juga Putri, ia manarik kursi yang berada di sebelah Exsel, dan duduk.


"Tidak!" jawab Doni, seraya meneguk kembali jus jeruk tersebut, sampai tandas.


"Gak enak kok habis,'' ujar Putri sambil terkekeh.


"Haus, Put." Doni tersenyum cengengesan.


Exsel terlihat menggelangkan kepalanya, sementara Putri ia tertawa, melihat tingkah konyol sahabat suaminya itu.


"Oh iya, Put. Gimana kamu bisa lolos dari sana? Dan tau-tau udah di rumah aja!'' tanya Exsel, yang penasaran. Kok, bisa Putri lolos dari si Andika itu, melewati anak buahnya. Kalau boleh memuji, Putri hebat sekali sih, tapi rasanya Doni gak berani muji Putri, di hadapan Exsel, suaminya. Bisa-bisa nanti dia dijadikan ayam geprek.


"Iya Sayang, coba kamu ceritakan. Aku juga penasaran!" sambung Exsel.


Putri mengangguk, lalu menceritakan semuanya pada Exsel dan Doni.


Doni dan Exsel mendengar dengan serius, sesekali mereka tertawa, saat Putri menceritakan kebodohan anak buah Andika.


"Bodoh sekali anak buah Si Andika!" ucap Doni, sambil tertawa.


"Mereka tidak bodoh, hanya terlalu pintar!" Putri menyahut sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mana ada pintar macam begitu? Itu namanya bodoh Put." Doni semakin mengeras tawanya.


"Yang pasti, istriku yang sangat pintar!" timpal Exsel, seraya menatap Putri, dengan senyuman teduhnya, lalu mengelus puncuk kepala istrinya itu dengan gemas.


"Kamu bisa aja, Mas." Putri tersenyum, tersipu malu.


Untuk beberapa saat keduanya saling bertatapan, tatapan penuh cinta tersirat dari netra kedua.


Lagi-lagi Doni, yang duduk di antara mereka, merasa tak dianggap oleh mereka.


"Ya, ya, dunia memang milik kalian berdua. Dan aku hanya menumpang saja!" ucap Doni sedikit kesal. Lalu ia berajak dari kursi yang ia duduki.


Membuat Exsel dan Putri, langsung mengalihkan pandangan mereka mantap Doni.


"Pulang!" jawab Doni.


"Kok buru-buru sih Don?" Kini Putri yang bertanya.


"Udah malam Put, lagian malas benget aku di sini. Liat kalian bermesraan terus. Tersiksa batinku Put, jiwa jomblo ku meronta-ronta," tutur Doni, dengan wajah di buat sendu.


Putri menunduk, ia merasa tidak enak dengan Doni. Tapi ya mau gimana lagi? Bukan salah Putri dan Exsel dong. Salahin aja Doni sendiri, kenapa masih menjomblo sampai saat ini. Eh, jahat gak sih Putri berpikir seperti itu?


"Biarkan saja dia pulang Sayang, gak usah ditahan. Besok dia harus ngurusin masalah yang belum kelar," sahut Exsel. Terkesan mengusir sahabatnya dengan halus.

__ADS_1


"Ya benar! Banyak masalah yang menimpa suamimu itu Put, jadi aku kebawa-bawa!" ucap Doni, tanpa dosa. Membuat Exsel berdecak kesal padanya. Tapi ya, emang begitu kenyataannya.


"Oh, baiklah. Hati-hati ya Don," ujar Putri tulus sambil tersenyum pada Doni.


Doni mengangguk, lalu ia pun berajak, mulai melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut.


Exsel menekuk wajahnya, entah kenapa rasanya Exsel tidak rela, melihat Putri tersenyum pada laki-laki lain. Apalagi memberikan senyuman manisnya. Ah geram rasanya.


Putri yang menyadari perubahan ekspresi wajah suaminya itu pun, keheranan. Putri mengerutkan keningnya, menatap Exsel.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Putri.


"Enggak!" jawab Exsel singkat, seraya berajak dari tempat duduknya. Exsel terlihat melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, seperti ia akan menuju kamarnya.


Putri menatap punggung suaminya itu, dengan tatapan penuh kebingungan. Tak ingin salah paham, Putri pun memutuskan untuk menyusul suaminya.


"Ih mulai deh, penyakit gak jelasnya kambuh!" batin Putri, seraya berjalan menaiki anak tangga.


Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2